Pemutih Kulit Bisa Sebabkan Kerusakan Kulit Dan Ginjal

FOTO: bbc.com/indolinear.com
Minggu, 7 Juli 2019

Indolinear.com, Jakarta – “Saya terlihat sangat jelek pada hari pernikahan. Penampilan saya saat itu adalah yang paling jelek,” tutur Shiroma Pereira (bukan nama sebenarnya) dengan nada kesal.

Ia tinggal di dekat ibu kota Sri Lanka, Kolombo. Seperti kebanyakan orang-orang di Asia Selatan, tahun lalu ia memutuskan untuk membuat kulitnya tampak lebih putih menjelang hari pernikahannya.

Ia ingin kulitnya terlihat lebih indah dan bercahaya.

‘Dua bulan sebelum pernikahan saya pergi ke salon dan mereka memberi saya krim untuk memutihkan kulit saya. Setelah saya menggunakan krim selama seminggu, wajah saya tampak pucat,” katanya, dilansir dari Bbc.com (06/07/2019).

“Saya tadinya ingin mendapatkan kulit yang terang, tapi kulit saya malah terbakar.”

Bercak berwarna gelap

Alih-alih mengurus pernikahan seperti menyusun daftar tamu undangan dan rencana belanja keperluan perkawinan, perempuan berusia 31 tahun ini akhirnya malah menghabiskan waktu dan uangnya untuk perawatan kulitnya.

Bekas luka masih terlihat di leher dan wajah Shiroma Pereira

Selama setahun Shiroma Pereira berjuang melawan efek samping krim pemutih, seperti bekas luka legam di bagian belakang lehernya.

“Ruam putih di kulit saya berubah menjadi bercak-bercak berwarna gelap.”

Krim pemutih yang ia peroleh dari salon kecantikan tidak terdaftar ke dalam produk kecantikan resmi di Sri Lanka. Krim tersebut diimpor secara ilegal dan dibeli di pasar gelap.

Bekas luka berwarna gelap masih terlihat di leher Pereira, bahkan setelah menjalani setahun perawatan.

Menyusul banyaknya keluhan seperti itu, pemerintah Sri Lanka sekarang menindak penjualan krim pemutih kulit yang tidak mengantongi izin.

Pasar produk pencerah kulit

Namun masalah ini bukan hanya terjadi di Sri Lanka. Jutaan orang, terutama perempuan, di Asia dan Afrika mengambil langkah-langkah ekstrem untuk mendapatkan kulit yang lebih putih.

Industri produk pencerah kulit global diperkirakan bernilai US$4,8 miliar pada 2017 dan diproyeksikan hampir dua kali lipat menjadi US$8,9 miliar pada 2027.

Permintaan untuk produk ini utamanya berasal dari para konsumen kelas menengah di Asia dan Afrika.

Produk-produk pencerah kulit ini terdiri dari sabun, krim, scrub, pil, dan bahkan suntikan yang dirancang untuk memperlambat produksi pigmen melanin, dan produk ini sangat populer.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), empat dari 10 perempuan di Afrika menggunakan produk pencerah kulit.

Di Afrika, Nigeria menempati urutan teratas dengan 77% perempuan yang menggunakan produk pencerah kulit. Diikuti oleh Togo 59% dan Afrika Selatan 35%.

Di Asia, 61% perempuan India dan 40% perempuan China menggunakannya.

Tantangan global

Tantangan semakin meningkat, seiring dengan perkembangan selera konsumen.

Tahun lalu, pihak berwenang di Ghana memperingatkan para ibu hamil agar tidak minum pil pencerah kulit yang mengandung antioksidan glutathione.

Ibu-ibu hamil di negara itu meminum pil pencerah kulit, dengan harapan pil itu akan turut mencerahkan kulit bayi-bayi mereka yang tengah dikandung.

Negara-negara di Afrika Selatan menerapkan hukuman berat terjadap para pelaku penjualan produk pencerah kulit.

Gambia, Pantai Gading dan awal tahun ini Rwanda melarang semua produk pencerah kulit yang mengandung hydroquinone, yang tak hanya mengurangi produksi melanin, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan kulit permanen.

Melanin adalah pigmen cokelat hitam yang memberi warna pada kulit.

Perawatan

Lembaga yang menangani masalah kulit The British Skin Foundation mengatakan “agen berbasis hidrokuinon dapat digunakan dengan aman di bawah pengawasan dokter kulit untuk mengobati area pigmentasi yang tampak belang dengan hasil yang baik”.

Lembaga itu juga menyebutkan beberapa produk pencerah kulit memiliki nilai medis.

“Beberapa krim pemutih mungkin membantu, namun krim-krim itu harus diresepkan dan diawasi dengan ketat oleh dokter kulit, jika tidak bisa berbahaya,” kata Anton Alexandroff, juru bicara organisasi tersebut.

Efektivitas

Tetapi lembaga itu menegaskan “tidak ada metode aman untuk mencerahkan seluruh kulit kita”.

Seorang wanita menunjukkan bekas luka di lengannya di sebuah rumah sakit di Dakar yang disebabkan oleh pencerah kulit.

“Tidak ada bukti bahwa krim yang Anda peroleh bisa membantu. Mungkin malah memiliki efek sebaliknya. Krim tersebut bisa membuat kulit menjadi putih tidak alami atau bahkan membuatnya lebih gelap, dan kulit saya kehilangan kualitas alami,” kata Alexandroff memperingatkan.

Tetapi dokter meresepkan produk pencerah kulit untuk mengobati kondisi tertentu seperti melasma.

Ini adalah kondisi kulit yang umum pada orang dewasa di mana bercak pigmentasi cokelat atau keabu-abuan berkembang, biasanya di wajah. Ini lebih sering terjadi pada perempuan, terutama selama kehamilan.

“Warna kulit dapat dipulihkan oleh dokter kulit,” kata Alexandroff, “ada beberapa krim berlisensi yang dapat digunakan oleh para dokter.”

Efek samping

Namun kebanyakan perempuan mulai membeli dan menggunakan produk pencerah kulit kosmetik tanpa pengawasan atau pedoman medis, tetapi produk-produk itu memiliki efek samping yang serius, seperti:

Iritasi kulit dan peradangan

Sensasi terbakar atau menyengat

Kulit gatal dan bersisik

Merkuri

Beberapa produk yang menjanjikan depigmentasi cepat mungkin sebenarnya mengandung zat berbahaya.

“Produk pencerah kulit yang mengandung merkuri berbahaya bagi kesehatan,” kata WHO.

Tetapi juga ditemukan “produk yang mengandung merkuri masih dibuat di China, Republik Dominika, Lebanon, Meksiko, Pakistan, Filipina, Thailand, dan Amerika Serikat”.

Produk-produk ini mengandung bahan kimia beracun karena garam merkuri memperlambat pembentukan melanin.

Uni Eropa dan banyak negara di Afrika telah melarang produk perawatan kulit yang mengandung logam tersebut.

AS, Kanada, Filipina, dan beberapa negara lain mengizinkannya dengan tingkat merkuri yang sangat rendah.

Kesehatan

Merkuri adalah racun, kata Alexandroff, dan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Efek samping utama dari merkuri anorganik yang terkandung dalam sabun dan krim pemutih kulit adalah:

Kerusakan ginjal

Ruam kulit, perubahan warna kulit, dan jaringan parut

Berkurangnya kemampuan untuk melawan infeksi bakteri dan jamur

Kecemasan, depresi atau psikosis, dan neuropati perifer

Persepsi

“Orang menganggap krim kulit secara inheren aman. Banyak yang tidak memikirkan risiko kesehatan yang mungkin terjadi. Kita perlu khawatir tentang sikap itu,” kata ahli kulit Amerika, Shuai Xu.

“Saya selalu heran dengan pasien-pasien saya yang menunjukkan krim berbeda yang mereka beli tanpa resep.”

Ia mengajar di Fakultas Kedokteran Feinberg dan telah meneliti dampak buruk kesehatan dari kosmetik dan produk perawatan pribadi.

Beberapa krim kulit mengandung steroid topikal yang dapat membahayakan pasien kecuali digunakan dengan benar.

Bahaya

Dr Xu mendesak standar peraturan yang lebih keras untuk membuang produk-produk berbahaya.

“Industri kosmetik tidak diatur seperti industri farmasi. Pabrik-pabrik terkenal menghindari bahan-bahan berbahaya, tetapi kami memiliki banyak masalah ketika menyangkut kosmetik impor.”

Pasar dibanjiri dengan barang-barang palsu yang tidak mudah dikenali. Para pemilik industri merasa sulit untuk memerangi kelompok kriminal yang memproduksi, mengangkut, dan menjual barang palsu.

Dr Xu mengatakan beberapa produk bahkan tidak memberikan informasi tentang bahan-bahannya.

“Anda tidak tahu siapa yang membuatnya. Anda tidak bisa melacak kembali vendor-vendor itu.”

Ia memperingatkan orang-orang agar tidak memilih solusi cepat.

“Secara keseluruhan banyak produk yang sangat aman. Tetapi jika Anda membeli produk pencerah kulit yang memiliki efek sangat kuat dari internet, Anda harus sangat berhati-hati.”

Prasangka

Kecantikan itu mungkin letaknya di kulit terdalam, namun prasangka sosial terhadap kulit gelap bisa lebih dalam lagi. Ini yang mendorong banyak orang melewati batas dengan mengorbankan kesehatan mereka.

Legenda tinju, Muhammad Ali, yang bertarung melawan banyak hambatan sosial merasa sedih. Dia mempertanyakan keyakinan banyak orang saat menyampaikan khotbah di sebuah gereja pada 1983.

“Mengapa semua malaikat putih? Mengapa tidak ada malaikat hitam?”

Di berbagai budaya dan bahasa, kulit putih sering dikaitkan dengan kedamaian, keindahan, dan kecerdasan, sementara kulit hitam identik dengan kematian, bencana, penampilan buruk, dan memiliki emosi yang meluap-luap.

Gerakan untuk menutupi

Industri hiburan kerap dituduh mendorong jenis tubuh dan warna kulit tertentu, yang membuat jutaan perempuan merasa tidak nyaman.

Untuk memerangi stereotipe yang sudah mengakar kuat, berbagai kampanye dilakukan mulai dari tingkat akar rumput.

Kampanye bertema ‘Kulit gelap itu cantik’ adalah salah satu inisiatif yang mendorong perempuan India untuk menghindari pemutih kulit.

Kampanye yang sama dilakukan juga di Pakistan, penyelenggara UnFair & Lovely mempromosikan pesan “Anda tidak harus berkulit putih untuk menjadi cantik”.

Proyek Beautywell di AS bertujuan untuk mengakhiri praktik pencerahan kulit dan paparan bahan kimia di kalangan komunitas migran Somalia.

Bagaikan dewi

Suruthi Periyasamy berasal dari negara bagian Tamil Nadu di India selatan.

Dua tahun lalu, lulusan teknik berusia 24 tahun itu berpose sebagai dewi Lakshmi (dewi kekayaan dalam mitologi Hindu) dalam kampanye bertajuk “kulit gelap adalah anugerah”.

Tujuan dari kampanye itu adalah untuk menanamkan gagasan bahwa para dewa dan dewi dapat digambarkan sebagai orang berkulit gelap.

“Mereka yang membuat iklan untuk perhiasan atau sari sutra biasanya bersikeras menampilkan model dengan kulit yang lebih terang. Karena ada persepsi sosial bahwa kemakmuran dan warna kulit saling terkait,” kata Periyasamy.

Ini berada di wilayah yang mendapat sinar matahari berlimpah dan mayoritas penduduknya memiliki warna kulit yang lebih gelap.

Kulit yang bercahaya

Tahun lalu, ketika ia turut serta dalam kontes kecantikan, Periyasamy disarankan agar tampil dengan “kulit bercahaya”.

Suruthi Periyasamy mengungkapkan foto-foto yang menampilkan model dengan kulit gelap biasanya disunting agat terlihat lebih putih di berbagai iklan majalah.

“Maksud mereka saya harus pergi ke tempat perawatan kulit untuk memutihkan kulit saya dan mendapatkan kulit yang lebih terang.”

Periyasamy lolos ke babak 25 besar dalam kontes Miss Diva yang diikuti oleh semua perempuan dari seluruh pelosok negeri, meski tidak melakukan perawatan untuk memutihkan kulit karena tidak memiliki uang.

Para pemenang lantas bisa melanjutkannya di beberapa kontes kecantikan internasional terbesar.

Ia mengurangi bobot tubuhnya sebanyak 10 kg dan tengah berupaya untuk memenangkan kontes kecantikan.

“Saya tahu peluang saya sangat tipis untuk memenangkan kontes karena warna kulit saya. Tapi saya nyaman dan percaya diri dengan penampilan diri saya sendiri. Saya pikir saya bisa mengatasi semua rintangan ini.” (Uli)