Pemilukada Tangsel dan Keinginan Warga Untuk Ambil Bagian (Habis)

ilustrasi/net
Rabu, 10 Juni 2015

Pemilukada atau Pilkada Tangsel, sudah riuh. Partai politik pemilik kursi di DPRD Kota Tangsel sudah membuka penjaringan. Nama-nama calon bermunculan. Sebut saja, incumbent, Airin Rachmi Diany, Benyamin davnie, Shaleh MT dan Arsid yang jadi lima besar nama yang diunggulkan untuk diusung parpol di Kota Tangsel baik sebagai wali kota maupun wakil wali kota. Termasuk juga nama-nama yang katanya bakal jadi kuda hitam untuk merebut kursi parlemen guna maju di Pilkada Kota Tangsel. Sebut saja ada nama Heri Soemantri, Zaid El Habib, Ivan Ajie, Ajib Hamdani dan beberapa nama lain yang juga menggema.

Bicara nama-nama ini, tentunya mereka memiliki massa riil. Untuk jumlah pastinya itu semua hanya para kandidat dan Tuhan yang tahu. Mengingat politik tidak bisa dihitung matematis. Hari ini pendukung mencapai ratusan ribu. Besok, bisa saja karena hal teknis hanya tersisa 200 orang.

Semua para kandidat ini memiliki visi dan misi yang cukup menjanjikan untuk membangun Kota Tangsel menjadi daerah yang makin maju. Masing-masing kandidat menawarkan program langitan yang jelas apabila dijalankan dengan baik dan terarah maka hasilnya akan positifi dirakana oleh 1,4 juta penduduk Kota Tangsel. Mereka saat ini sudah memaparkan visi misi dan program kerja itu kepada partai politik, yang bakal jadi kendaraan.

Partai di Kota Tangsel sendiri sudah membuka penjaringan. Sebut saja Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai  Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, Partai Hanura, Partai Persatuan Pembangunan,Partai Kebangkitan Bangsa. Terakhir, Partai Golkar di Tangsel masih menunggu pelaksanaan penjaringan karena beberapa alasan internal.

Hanya saja masalah utama adalah soal kesediaan masyarakat ambil bagian untuk ikut Pilkada. Padahal kesediaan masyarakat untuk mau mencoblos pada hari pelaksanaan, merupakan bukti kuat soal legitimasi. Pilkada beberapa tahun lalu, jumlah golongan putih di Kota Tangsel masih cukup tinggi. Hampir 40 persen lebih.

Beragam alasan dari para pemilih yang memilih tidak menggunakan hak pilih. Mulai dari tidak kenal calon, tidak percaya visi dan misi hingga tidak tahu kapan pelaksanaan Pilkada digelar.

Tingginya angka Golput sebenarnya tidak bisa disalahkan semata kepada KPU selaku penyelengara. Tidak bisa juga disalahkan pada para kandidat yang notabenenya membutuhkan suara dari para pemilik hak pilih.

Kedua pihak ditambah dengan warga pemilik hak pilih harus mau mengurangi ego untuk sama-sama mensukseskan Pilkada. Urusan siapa menang dan kalah, janganlah jadi pemecah. Mengingat jumlah total warga yang tercatat sebagai pemilih dan yang menggunakan hak pilih, terlepas siapa yang dipilih, merupakan bukti legitimasi suatu pemerintahan.

KPU sebagai lembaga penyelenggara harus mengedepankan profesionalitas. Jangan sampai ada dugaan melakukan pemetaan suara untuk memenangkan salah satu calon. Jangan juga masing-masing kandidat hanya melakukan kampanye di kantong-kantong suara mayoritas pendukungnya. Semua kandidat harus hadir dan menjelaskan kepada seluruh warga pemilih tentang visi dan misi. Jangan memilah-milah dan jangan juga para pendukung masing-masing kandidat, menghalangi kandidat lain untu memaparkan visi dan misi ke warga, hanya untuk menjaga basis suara.

Pilkada jangan lagi dilihat sebagai pertarungan brutal dengan menghalalkan segala cara. Pilkada harus dimaknai sebagai pemaparan visi dan misi para kandidat. Mengenai siapa yang menang dan kalah, semua pendukung harus legowo. Mengingat yang paling penting adalah, meningkatkan partisipasi warga untuk memberikan hak pilih. Dengan partisipasi warga untuk memilih karena keingiinan murni setelah mengetahui paparan visi misi dan program, itulah bukti nyata kesuksesan Pilkada.

Selamat berjuang para kandidat. Lima tahun kedepan, salah satu dari anda semua bakal menjadi wali kota dan wakil wali kota. Hindari politik uang, dan kedepankan politik cerdas.

INDOLINEAR.TV