Pembelajaran Tatap Muka Segera Dibuka, Bagaimana Dengan Nasib Edutech?

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Sabtu, 3 April 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkap, pemerintah menargetkan pada Juli 2021 atau memasuki tahun ajaran baru pembelajaran tatap muka terbatas sudah dibuka di seluruh sekolah.

Lantas, bagaimana nasib edutech? Menurut Direktur Digital Business Telkom, Fajrin Rasyid, di situasi yang akan dibukanya belajar secara tatap muka, perusahaan startup edutech mesti memikirkan strategi yang relevan dengan kondisi terbaru.

“Startup edutech yang mengandalkan fitur pembelajaran daring perlu memikirkan strategi agar tetap relevan ke depannya. Terlebih, salah satu hal yang dikeluhkan dari pembelajaran online adalah biaya yang lebih tinggi terkait fasilitas yang perlu disiapkan serta persiapan yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pembelajaran daring tersebut. Pembelajaran tatap muka diharapkan dapat mengatasi keduanya,” kata Fajrin dalam tulisannya di kolom opini Uzone.

Fernando Uffie, CEO & Founder Kelas Pintar mengatakan, pihaknya mendukung kebijakan pembelajaran tatap muka yang akan dibuka kembali. Sebab, pembelajaran tatap muka tidak hanya penting untuk mengoptimalkan capaian akademis, tapi juga penting untuk pembentukan karakter melalui interaksi sosial yang terjadi di sekolah.

“Selain itu, mengembalikan pembelajaran tatap muka juga bisa meminimalisir dampak psikologis pada peserta didik akibat terlalu lama belajar online secara penuh,” kata dia kepada Merdeka.com melalui interview tertulis, dilansir dari Merdeka.com (02/04/2021).

Ditambahkannya, dibukanya kembali pembelajaran tatap muka, tak lantas menghilangkan peran edutech seperti Kelas Pintar dalam ekosistem pendidikan. Edutech tetap bisa mejadi solusi pembelajaran siswa baik di jam sekolah maupun di luar jam sekolah.

“Metode hybrid learning atau metode yang mengkombinasikan pembelajaran online dan offline, bisa menjadi alternatif pembelajaran yang bisa dilakukan. Pun demikian, pembelajaran tatap muka dimasa pandemi tidak sepenuhnya akan sama dengan tahun tahun sebelumnya. Perlu beberapa penyesuaian. Prokes harus tetap dijaga,” ungkapnya.

Belajar Online Bersifat Komplementer

Anggini Setiawan, Head of Corporate Communications Ruangguru pun turut berpendapat. Menurutnya, metode belajar tatap muka dan peran guru tidak akan pernah tergantikan. Meski begitu, penerimaan terhadap metode belajar online semakin meningkat.

“Namun sifatnya tetap komplementer. Meskipun bersifat komplementer, tetapi kami percaya bahwa teknologi dan digitalisasi kegiatan belajar juga akan semakin banyak diadopsi berbagai pihak. Kami percaya guru tetap memegang peranan kunci dan perlu siap dalam penggunaan teknologi di dalam kegiatan belajar mengajar,” kata dia.

Selama tahun 2020, Ruangguru telah melaksanakan 4 program pelatihan guru selama 1 tahun penuh, diikuti oleh lebih dari 2.000 guru tingkat SD hingga SMA di 14 kabupaten/kota di 11 provinsi, termasuk di daerah 3T.

Selain itu, startup besutan Belva Devara ini juga membuka pustaka online bagi para guru dengan memberikan modul pelatihan guru secara gratis dengan 8 topik ajar (berisi 269 video, 182 infografis, 90 kuis). Modul pelatihan guru ini telah diakses oleh lebih dari 200.000 pengguna. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: