Pembayaran Non Tunai Dan Aplikasi Digital Makin Populer Di Jerman

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 7 Januari 2021
loading...

Indolinear.com, Jerman – Sejak pandemi corona, jaringan toko roti terlaris di Jerman, Kamps, tiba-tiba menjadi berita heboh di seluruh negeri. Penyebabnya, Kamps menawarkan apa yang mereka sebut “diskon inovasi” 3% bagi setiap pelanggan yang bersedia membayar dengan kartu atau aplikasi. Dengan alsan, pembayaran non tunai dengan kartu atau aplikasi di smartphone lebih cepat dan lebih higienis.

Praktik pembayaran non tunai merupakan tren baru di Jerman, karena biasanya orang Jerman dikenal konservatif soal bayar-membayar. Mereka hampir selalu membayar dengan uang tunai, dan banyak toko dan restoran yang hanya mau menerima pembayaran tunai.

Padahal di negara-negara tetangga seperti Luxembourg, Prancis dan bahkan di negara-negara Baltik seperti Estonia, pembayaran non-tunai sudah lebih populer. Di Skandinavia, banyak hotel dan bar malah sudah menolak pembayaran tunai.

Sementara di Jerman, baru pada tahun 2020 pusat data statistik mencatat 56 persen pembayaran di toko-toko Jerman dilakukan secara non tunai.

Ada corona, tren pembayaran beralih ke kartu dan aplikasi digital

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen baru-baru ini mengatakan, digitalisasi dan pembayaran non tunai harus menjadi prioritas utama. Pembayaran elektronik ini secara luas dipromosikan sebagai “tindakan higienis” yang aman dan cepat di seluruh Uni Eropa, meskipun tidak ada bukti bahwa koin dan uang kertas menimbulkan risiko yang signifikan dalam penularan virus corona, dilansir dari Tribunnews.com (06/01/2021).

“Banyak orang yang mulai terbiasa dengan kenyamanan ini,” kata Oliver Hommel, pakar pembayaran dan perbankan di konsultan bisnis Accenture. “Keengganan bisnis untuk pembayaran non-tunai sudah menurun secara signifikan,” tambahnya.

Tahun 2015, Uni Eropa mewajibkan perusahaan kartu kredit menurunkan biaya transaksi untuk pelaku usaha. Sebab itu kini pengguna sudah jarang menemukan aturan pembelian minimum untuk penggunaan kartu.

Tetapi kenyamanan bagi konsumen justru memberatkan toko-toko kecil. Biaya transaksi 0,25% pada kartu debit dan sampai 3% pada kartu kredit masih dirasa terlalu besar.

Sebaliknya perusahaan-perusahaan besar cenderung lebih beruntung, karena mereka juga masih bisa menegosiasikan persyaratan yang lebih menguntungkan dengan penyedia layanan pembayaran non-tunai.

Bagaimana dengan data-data?

Salah satu alasan mengapa orang Jerman dulu segan menggunakan pembayaran non tunai adalah karena mereka khawatir dengan data-data pribadi mereka. Ketika pelanggan membayar dengan kartu kredit atau melalui aplikasi pintar, memang data-datanya akan terekam dan dikirim kepada perusahaan penyedia jasa layanan pembayaran itu.

Munculnya teknologi baru di ponsel cerdas, makin banyak model pembayaran non tunai. Ada yang menggunakan jaringan internet, ada juga yang menggunakan teknologi nirsentuh NFC untuk komunikasi jarak dekat.

Di kebanyakan supermarket, transaksi dengan niai kecil bahkan tidak memerlukan otoriasasi lewat nomor PIN atau password. Ponsel cukup “dilewatkan” saja pada perangkat yang tersedia.

Tapi bagaimana dengan keamanan metode ini? Perangkat seluler mudah diretas, apalagi jika penggunanya kurang mengetahui atau kurang melindungi perangkat yang mereka pakai dari serangan peretasan. Oliver Hommel dari Accenture mengakui, “perangkat seluler tidak sepenuhnya bisa dilindungi dari serangan peretas.”

Selain itu, aplikasi pembayaran di poinsel juga sering mengumpulkan banyak data, termasuk lokasi, jenis barang yang dibeli dan jumlah transaksi. Data-data itu kemudian digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi iklan dan aksi promosi yang akan ditawarkan kepada toko-toko. Sehingga untuk barang yang sama, pembeli tanpa sadar bisa membayar harga yang berbeda, kalaumembayar cengan aplikasi, kartu kredit, atau uang tunai. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: