Pemakaman Joseph Ignace Guillotin, Penemu Alat Hukum Pancung

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 31 Maret 2020

Indolinear.com, Jakarta – Pada 28 Maret 1814, sebuah pemakaman digelar untuk jenazah seorang penemu alat hukum pancung di Prancis

Dr. Joseph Ignace Guillotin, seorang dokter Prancis dikenal sebagai pencipta ‘guillotine’ atau alat hukum pancung.

Nama belakangnya ‘Guillotin’ menjadi sebuah eponim dan digunakan untuk menyebut mesin pembunuh tersebut.

Namun demikian, kisah sejarah populer ini masih kontroversial lantaran adanya anggapan bahwa Dr. Joseph Ignace Guillotin hanya memberikan proposal supaya Prancis menggunakan sebuah alat untuk melaksanakan hukuman mati.

Joseph Ignace Guillotin disebut bukanlah pembuat mesin, hanyalah penemu gagasan tersebut yang ia ajukan tanggal 10 Oktober 1789 kepada pemerintahan Prancis saat itu.

Dilansir dari Tribunnews.com (29/03/2020), Joseph Ignace Guillotin pada dasarnya menentang tradisi hukuman mati.

Pembuat prototipe mesin pembunuh mati / Guillotin adalah seorang pria bernama Tobias Schmidt dan fisikawan, Antoine Louis.

Nama ‘Guillotin’ kemudian melekat bagi penyebutan untuk mesin pembunuh.

Joseph-Ignace Guillotin

Dr. Joseph-Ignace Guillotin adalah seorang dokter, politisi dan anggota freemason asal Prancis.

Ia pernah membuat tesis untuk mendapatkan gelar Master of Arts dari University of Bordeaux.

Tesis ini begitu mengesankan para Yesuit (Ordo Yesuit: Aliran dalam Gereja Katolik Roma yang dikenal dengan kedisiplinannya), sehingga mereka merayunya untuk masuk ke Ordo mereka.

Seiring waktu berjalan, ia kemudian menjadi seorang profesor sastra di sebuah kampus Irlandia di Bordeaux, Prancis.

Namun beberapa tahun setelahnya ia pergi ke Paris untuk belajar kedokteran, menjadi murid Antoine Petit, seorang fisikawan terkemuka.

Ia kemudian memperoleh gelar diploma kedokteran dari Universitas di Reims tahun 1768 dam selanjutnya memenangkan penghargaan yang diberikan oleh kampus di Paris.

Gagasan Hukuman Pancung

Mengetahui nama ‘Guillotin’ digunakan untuk menamai alat hukum pancung, Joseph-Ignace merasa tertekan.

Ia mengakui reputasinya sebagai seorang akademisi menjadi kacau setelahnya.

Pada dasarnya, gagasan yang ia berikan saat adalah bagian dari gerakan pengabdiannya untuk reformasi peradilan pidana sistematis tahun 1789.

Mesin tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kemajuan intelektual dan sosial dari Revolusi Prancis.

Gagasan tersebut diciptakannya agar ada kesetaraan dalam hukuman mati baik bagi bangsawan maupun buruh.

Penggunaan alat gullotine pertama kali adalah pada 25 April 1972 kepada Nicolas Pelletier yang dihukum mati karena perampokan bersenjata dan penyerangan di Place de Greve, Prancis.

Sejumlah koran melaporkan bahwa alat tersebut pada awalnya tak begitu menjadi perhatian publik.

Masyarakat Prancis saat itu dianggap mengacuhkan adanya tiang gantung tersebut pada mulanya.

Namun, perlahan alat tersebut menarik perhatian publik.

Banyak orang berpikir bahwa alat tersebut dapat mengembalikan martabat algojo yang sebelumnya dipandang sebelah mata.

Seiring waktu berjalan, prestis penggunaan guillotin perlahan turun drastis lantaran sering digunakan dalam sejumlah teror setelah Revolusi Prancis.

Penggunaan guillotin sebagai alat pancung menjadi ‘titik fokus’ dari sejarah eksekusi politik yang mengerika saat itu.

Saat ini, hal tersebut diidentifikasikan sebagai pelanggaran terhadap unsur kemanusiaan.

Namun kebudayaan penggunaan guillotin masih ada hingga abad ke-20.

Tercatat, orang terakhir yang dibunuh menggunakan alat tersebut adalah  Hamida Djandoubi.

Ia dieksekusi di Marseille pada tanggal 10 September 1977.

Prancis secara resmi menghapuskan hukuman mati pada tahun 1981. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

Berita Menarik Lainnya