Pelestarian Blandongan Betawi Ora di Tangsel dalam Arsitektur Modern

Sabtu, 13 Juni 2015

Kota Tangerang Selatan masih terus mencari identitas. Maklum saja, kota ini baru berdiri sejak 2008 lalu. Hitung dihitung, usia Kota Tangsel baru 7 tahun. Pilkada Desember 2015 mendatang pun, merupakan pilkada kedua kali yang dilalui oleh Tangsel, sejak dimekarkan dari Kabupaten Tangerang.

Tangsel mencari identitas tak ubahnya seperti seorang Anak Baru Gede yang sedang puber. Anak Baru Gede kerap mencari apapun yang cocok bagi dirinya. Mulai dari baju, celana, cara bicara, potongan rambut, kacamata, music, hobi, olahraga, teman hingga pacar. Tak ubahnya seperti Tangsel yang saat ini terus mencari jati diri. Mulai dari ciri khas seperti makanan, seni, musik, budaya, konsep kota, konsep pemerintahan, penghasilan daerah dan juga pemimpinnya.

Ada yang menarik untuk diulas terkait seni dalam hal ini arsitektur lokal Tangsel yang jadi ikon. Maklum saja, Kota Tangsel – menurut saya – merupakan daerah yang heterogen. Di Kota berpenduduk 1,4 juta ini semua kebudayaan ada. Mulai dari Sabang sampai Merauke, ada di Kota Tangsel.

Namun sebagai kota, tentunya harus ada kearifan lokal yang benar-benar lokal yang dimunculkan sebagai sejarah dari kota tersebut. Identitas kedaerahan – masih menurut saya – tetap harus dibangun dan dilestarikan namun, semua harus sepakat untuk membuang jauh-jauh yang namanya egosentrisme. Ini perlu untuk catatan sejarah puluhan tahun kedepan dan untuk pengetahuan generasi bangsa kedepan. Beberapa daerah di Indonesia juga telah melakukan hal serupa. Sebut saja, Pemprov DKI yang mewajibkan semua pegawainya setiap Jumat, menggunakan pakaian khas Betawi.

Kota Tangsel secara kebudayaan memiliki penduduk lokal yang disebut Betawi Ora. Ya, Betawi Ora ini didefinisikan berbeda dengan Betawi penghuni DKI Jakarta. Betawi Ora merupakan suku yang berpisah berdasarkan geografis dengan Betawi Jakarta.

Satu seni yang dimiliki oleh Betawi Ora adalah arsitektur bangunan. Betawi Ora memiliki apa yang disebut Blandongan. Ya, ini arsitektur rumah Betawi tempo dulu. Apabila didefinisikan, Blandongan fungsinya sebagai tempat beristirahat dan santai. Tahun 90-an – kebetulan saya tumbuh di Tangsel – seingat saya, disetiap Blandongan selalu ada Bale yang juga khas Betawi. Bale yang terbuat dari bambu, berkaki empat ini akan menjadi area duduk-duduk yang ditempatkan di tengah Blandongan yang terbuat dari beberapa pilar kayu yang menahan kuda-kuda bangunan, tempat tersusunnya genting tanah liat sebagai atap.

Blandongan sudah diresmikan sebagai salah satu logo dan ikon Kota Tangsel. Saat itu dilakukan syaembara untuk menentukan logo kota dan terpilihlah blandongan dengan motif yang disesuaikan dengan visi dan misi kota.

Tidak semata sebagai logo kota yang tersemat di baju para PNS, Blandongan juga lebih jauh lagi dijadikan sebagai ikon kota yang tersebar. Langkah ini sebagai upaya untuk melestarikan Blandongan yang memang dapat dikatakan sudah amat langka di temui di Kota Tangsel.

Penyebaran Blandongan sebagai ikon pun tidak semata dalam bentuk bangunan arsitektur di rumah warga ataupun kantor dinas milik pemerintah. Beberapa fasilitas umum seperti pangkalan ojek pun didesain mirip blandongan dengan konsep yang lebih modern. Bahkan, plang nama-nama gang warga di Kota Tangsel pun didesain menggambarkan atap dan bangunan Blandongan.

Saat berbincang dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangsel Dudung E. Diredja, beberapa hari lalu di rumah makan Djati, Serpong, Blandongan memang sudah disepakati menjadi salah satu ciri arsitektur lokal Kota Tangsel yang dijadikan ikon daerah. Bahkan terang Dudung sejak tahun 2013 lalu, pangkalan ojek yang ada di Kota Tangsel pun sudah didesain mirip Blandongan, tanpa menghilangkan fungsi.

Saat ini pun terang pria yang akan menjalani purnabakti sebagai Sekda per 1 Juli 2015 ini, konsep Blandongan terus dikembangkan di wilayah Tangsel. Salah satunya plang nama gang-gang yang ada di Kota Tangsel. Dudung sendiri meyakini bahwa melestarikan budaya dalam berbagai bentuknya adalah sebuah penghormatan dan juga investasi. Kota Tangsel yang APBD nya mencapai Rp3 triuliun masih menurutnya, harus mengingat sejarah daerah ditengah-tengah modernisasi.

“Kota Tangsel ini bukan lagi dusun. Tapi sebuah daerah yang bisa disebut metropolitan. Meski begitu, tetap harus diingat, budaya lokal tetap harus dilestarikan melalui akulturasi modern,” ujarnya dalam perbincangan santai di rumah makan Djati yang juga mengusung konsep Blandongan Betawi Ora.(fin)

INDOLINEAR.TV