Peleburan LBM Eijkman Jangan Menghambat Penelitian Vaksin Merah Putih

FOTO: dpr.go.id/indolinear.com
Rabu, 5 Januari 2022
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mengingatkan agar peleburan Lembaga Eijkman ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) jangan sampai menghambat proses pengembangan vaksin Merah Putih. Mengingat, selama ini pengembangan vakson Merah Putih dimotori oleh Lembaga Biologi Molekulel (LBM) Eijkman.

“Semua pihak harus mendorong dan mengingatkan pemerintah agar peleburan ini tidak justru menghambat keberlanjutan penelitian vaksin Covid-19 Merah Putih. Kemandirian vaksin dalam negeri sangat penting bagi Indonesia jika sewaktu-waktu kembali diserang oleh wabah virus,” ungkap Netty dalam keterangannya yang diterima Parlementaria, dilansir dari Dpr.go.id (04/01/2022).

Netty juga menyoroti diberhentikannya saintis dan staf LBM Eijkman pasca terjadinya peleburan. Menurut dia, seharusnya pemerintah tidak langsung melakukan PHK terhadap para ilmuwan. “Karena selama ini mereka telah berperan membantu proses penelitian vaksin dalam negeri. Pemerintah harus memberikan opsi agar mereka tetap dapat bekerja meneliti demi kemajuan riset dan inovasi,” jelasnya.

Netty pun mengaku khawatir apabila birokratisasi lembaga riset justru mengancam kemajuan riset dan inovasi di tanah air. Ia menyampaikan, seperti yang diutarakan para ilmuwan bahwa riset dan inovasi harus berangkat dari independensi yang tinggi.

“Jika tidak ada keleluasaan dalam riset dan inovasi, apalagi cenderung birokratis, maka ilmu pengetahuan kita sulit berkembang. Visi pemerintah terkait riset dan inovasi harus jelas, jangan justru lebih banyak kepentingan di dalamnya,” ujar Netty.

Lebih lanjut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengatakan bahwa pemerintah punya kewajiban untuk mengembangkan industri obat dan alat kesehatan, sebagaimana ketentuan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2016.

Ia menilai, pandemi Covid-19 seharusnya dijadikan titik balik hadirnya political will dari pemerintah terhadap riset dan pengembangan industri kesehatan. “Kita harus mampu menjadi bangsa yang mandiri dalam memproduksi obat, alat pelindung diri, vaksin, alat testing, alat kesehatan dan sebagainya. Mau sampai kapan kita menggunakan produk impor terus?” imbuhnya seolah bertanya. (Uli)