Pasien Yang Sudah Sembuh Dari Virus Corona Bisa Tertular Lagi?

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 10 Maret 2020

Indolinear.com, China- Kementerian Kesehatan mengatakan pasien yang sudah sembuh dari virus corona bisa tertular kembali.

Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto.

“Namun, tidak ada satu jaminan bahwa dia tidak akan tertular lagi, bisa saja kemudian ketularan lagi, dan menjadi sakit lagi.”

“Tidak ada laporan bahwa yang sudah sembuh kemudian kambuh, yang ada yang sudah sembuh sakit lagi karena ketularan lagi,” tutur Yuri di Kantor Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Untuk itulah, dirinya meminta masyarakat tetap berhati-hati akan virus yang belum memiliki obat definitif ini.

Pasalnya, gejala yang ditimbulkan karena virus ini adalah gejala yang familiar ditemui.

“Gejalanya seringkali kita sudah pahami dari awal, karena ini adalah kelompok common cold.”

“Keluhan badannya hangat, batuk, bersin, itu keluhan yang sering dialami,” ujarnya, dilansir dari Tribunnews.com (09/03/2020).

Yuri menyebut jika seluruh pasien positif covid-19 telah sembuh saat perawatan, maka akan tetap dipantau selama 14 hari.

“Selama 14 hari di rumah menggunakan masker, mengurangi kontak dekat dengan keluarganya, dan kemudian diharapkan sementara tidak usah ke mana-mana dulu.”

“Kemudian akan dipantau oleh dinkes setempat, puskesmas setempat kondisi kesehatannya setiap hari, sampai dengan hari ke-14,” tuturnya.

Sementara itu, di Cina sendiri, banyak ditemukan kasus jika pasien positif virus corona yang telah dinyatakan ‘keluar’ dari rumah sakit, ternyata mereka ditemukan masih terinfeksi.

Lalu mengapa pasien positif corona bisa terinfeksi kembali?

Profesor Jin Dong-yan, seorang ahli virologi molekuler dari Fakultas Kedokteran Li Ka Shing di Universitas Hong Kong mengemukakan pendapatnya.

“Bukannya orang-orang ini mendapatkan infeksi kedua, atau infeksi yang terus-menerus, seperti yang dikhawatirkan sebagian orang,” kata Profesor Jin Dong-yan, melansir melalui South China Morning Post.

“Itu entah karena tes tidak dilakukan dengan benar di tempat pertama, atau pasien sedang menjalani perjalanan panjang penyakit,” tambahnya.

Berbagai faktor dapat menyebabkan hasil tes tidak akurat, termasuk kualitas test kit dan cara sampel dikumpulkan dan disimpan, kata Jin.

Di bawah kriteria pengujian China, orang dapat dilepaskan dari rumah sakit jika suhu tubuh mereka normal selama tiga hari.

Mereka tidak memiliki masalah pernapasan dan lesi dada yang ditunjukkan pada computed tomography telah meningkat secara signifikan.

Mereka juga harus menguji negatif dalam dua tes PCR negatif berturut-turut setidaknya satu hari terpisah.

Wang Chen, kepala Akademi Ilmu Kedokteran Cina, mengatakan bulan lalu bahwa hanya 30 hingga 50 persen dari kasus yang dikonfirmasi memiliki hasil positif dalam tes PCR.

Sedangkan tes yang biasa digunakan untuk mendiagnosis infeksi bakteri di tenggorokan mungkin menghasilkan banyak hasil negatif palsu.

Akibatnya, otoritas kesehatan China menyarankan menggabungkan sejarah epidemiologi, manifestasi klinis dan pencitraan dengan tes PCR dalam mendiagnosis Covid-19.

Profesor Greg Gray dari divisi penyakit menular di Universitas Duke di Amerika Serikat dan Singapura mengatakan bahwa tidak mungkin hasil tes yang salah, bertanggung jawab atas kesalahan negatif.

“Dengan asumsi laboratorium berpengalaman dalam menjalankannya, saya tidak akan mengharapkan kualitas lab menjadi masalah,” kata Profesor Greg.

“Tes negatif mungkin lebih baik dijelaskan oleh spesimen berkualitas buruk atau virus pada jumlah yang sangat rendah ketika sampel dikumpulkan,” pungkasnya. (Uli)

INDOLINEAR.TV