Partai Berhaluan Nasionalis Menguat Di Parlemen Uni Eropa

FOTO: wartabatavia.com/indolinear.com
Sabtu, 8 Juni 2019

Indolinear.com, Brussels – Partai-partai pro-Eropa mempertahankan cengkeraman di parlemen Uni Eropa (UE) saat kubu liberal dan hijau menguat seiring peningkatan partai-partai euroskeptik. Seperempat kursi parlemen kini dikuasai oleh partai-partai euroskeptik untuk pertama kali.

Kubu sayap kanan-jauh dan nasionalis di Italia, Inggris, Prancis, dan Polandia, unggul dalam pemilu nasional pada Minggu (26/5). Perolehan itu mengubah politik di setiap negara, tapi gagal secara dramatis mengubah keseimbangan kekuasaan pro-Eropa di majelis UE.

Menghadapi Rusia dan pertumbuhan ekonomi China serta kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tak dapat diprediksi, banyak warga Eropa tampaknya ingin mengirim pesan bahwa UE perlu bersatu untuk melindungi hak pekerja, kebebasan berbicara, dan demokrasi.

“Kami sedang membangun Eropa yang sosial, Eropa yang melindungi,” tutur Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez yang kebangkitannya di Spanyol mengimbangi penurunan dukungan sayap kiri-tengah di Jerman, dilansir dari Sindonews.com (07/06/2019).

Sentimen investor didukung oleh perolehan partai-partai populis yang lebih kecil dibandingkan proyeksi. Meski demikian, penurunan dukungan bagi sayap kanan-tengah dan kiri-tengah dapat memperumit pembuatan kebijakan dan mengharuskan kesepakatan lintas partai.

Hasil awal yang dirilis kemarin menunjukkan Sosialis, Hijau, liberal, dan konservatif, meraih 507 kursi dari total 751 kursi di Parlemen UE yang mengesahkan undang-undang untuk lebih dari 500 juta warga Eropa. Upaya meraih mayoritas serta mengamankan posisi atas di UE akan mendominasi saat kelompok pro-UE berupaya melindungi UE dari kekuatan anti-kemapanan yang ingin merombak blok perdagangan terbesar di dunia itu.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan platform Renaissance sayap tengah telah memberi kekuatan bagi liberal di level UE saat dukungan untuk Hijau menguat, membuat empat grup pro-UE menguasai dua per tiga kursi.

Macron dan Sanchez dijadwalkan bertemu pada Senin (27/5), pertama dalam serangkaian pertemuan antara para pemimpin UE sebelum mereka berkumpul untuk konferensi tingkat tinggi (KTT) pada Selasa (28/5) malam di Brussels untuk membahas hasil pemilu parlemen.

Menguatnya suara untuk liberal dan Hijau dapat membuat eksekutif UE selanjutnya mengambil sikap lebih keras dalam mengatur industri-industri penyebab polusi, menerapkan pajak pada perusahaan multinasional, atau meminta mitra dagang membantu mengatasi perubahan iklim.

Mereka juga dapat menekan para anggota UE, terutama di timur agar tidak merusak hak asasi sipil. Teriakan pendukung “Eropa kembali” dengan melambaikan bendera UE berwarna biru dan emas di luar gedung Parlemen Eropa di Brussels pada Minggu (26/5) malam juga menunjukkan suasana yang dirasakan warga Eropa yang senang dengan hasil pemilu tersebut.

Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu terbesar kedua di dunia itu meningkat menjadi 51% dari 43% pada 2014, tertinggi dalam 20 tahun dan kebangkitan pertama sejak penurunan partisipasi pada pemilu UE 1979. Kekecewaan pada proyek Eropa telah membuat blok itu tampak jauh bagi para pemilih.

Memanfaatkan gelombang kemarahan pada kegagalan pemerintah Inggris membawa negara itu keluar dari UE, Partai Brexit yang dipimpin Nigel Farage mendapat suara yang meningkat. Hasil itu menunjukkan Inggris semakin terpecah selama proses Brexit, hampir tiga tahun sejak referendum 2016 yang menghasilkan suara 52% mendukung Brexit dan 48% menolak Brexit.

Meski keluarnya Inggris dari UE mengharuskan para anggota parlemen UE dari Inggris menyerahkan kursinya, partai Farage dan aliansinya meraih 29 kursi, jumlah yang sama dengan Partai Rakyat Eropa di Jerman yang dipimpin Kanselir Angela Merkel yang berhaluan kanan-tengah.

Di Italia, kubu sayap kanan-jauh Liga menjadi partai terbesar di negara itu, memberi otoritas lebih besar kepada pemimpinnya, Matteo Salvini, yang mendorong pemangkasan pajak, meski berbeda dengan aturan anggaran UE. Partai Hukum dan Keadilan (PiS) di Polandia yang merupakan kubu euroskeptik juga unggul.

Di Prancis, Reli Nasinal yang dipimpin Marine Le Pen yang anti-imigrasi dan anti-Brussels bersaing ketat dengan gerakan sayap tengah pro-Eropa yang dipimpin Macron. Separatis kanan-jauh juga mendapat dukungan yang menguat di Belgia. (Uli)