Panglima TNI Berharap Pembangunan RSAU Prof DR Abdulrachman Saleh Bisa Jawab Kebutuhan dan Tantangan

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Rabu, 10 November 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto didampingi KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, dan Wakasau Marsdya TNI A Gustaf Brugman meletakan batu pertama dan menandatanganani prasasti pembangunan RSAU Prof DR Abdulrachman Saleh di Pancoran Jakarta Selatan pada Selasa (9/11/2021).

Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa pembangunan rumah sakit tersebut adalah salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi di masa depan.

Ia berharap rumah sakit tersebut nantinya dapat menjawab kebutuhan dan tantangan tersebut.

Hadi mengatakan nama Prof DR Abdulrachman Saleh dipilih karena merupakan pionir dan tokoh TNI AU yang multi talenta yakni dokter sekaligus penerbang.

“Semoga semangat juangnya beliau dapat mewarnai RSAU dan menjiwai semangat pengabdian seluruh tenaga kesehatan yang ditugaskan demi bangsa dan negara tercinta,” kata Hadi dalam keterangan resmi Puspen TNI yang dilansir dari Tribunnews.com (09/11/2021).

Hadi menyampaikan bahwa sejak awal menjabat sebagai Panglima TNI selalu mengingatkan adanya ancaman global yaitu ancaman Cyber (Cyber Threat), ancaman Biologi (Bio Threat), dan ancaman kesenjangan.

Ia mengatakan ancaman tersebut selalu disampaikannya pada saat Rapim TNI maupun saat memberikan seminar di hadapan mahasiswa, siswa Sesko TNI dan Sesko Angkatan.

Ia mengatakan pada Januari 2018 kita dikejutkan dengan wabah campak yang terjadi di Kabupaten Asmat dan merenggut puluhan nyawa anak-anak dan ratusan lainnya harus dirawat.

Kemudian di tahun 2019 Indonesia kembali dikejutkan dengan virus Covid-19 yang kemudian menyebabkan pandemi di seluruh dunia.

Pandemi, kata Hadi, tidak hanya menyebabkan ratusan orang sakit dan jutaan lainnya meninggal dunia, tetapi juga mempengaruhi seluruh sendi kehidupan umat manusia.

Saat puncaknya yang lalu, kata dia, seluruh negara termasuk Indonesia mengalami kesulitan dalam menangani pasien yang membludak.

Selain itu, kata dia, jumlah pasien yang mengalami kondisi kritis sangat banyak.

Bahkan, kata dia, industri kesehatan tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan alat kesehatan, oksigen, oksigen konsentrator, obat-obatan, APD, masker, vaksin dan sebagainya.

Akibatnya juga, kata Hadi, ratusan tenaga kesehatan juga meninggal dunia.

Di situlah, ia sadar betapa sangat penting di bidang kesehatan untuk ketahanan nasional.

“TNI juga membutuhkan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman CBRNE (Chemical, Biological, Radiological, Nuclear and Explosive),” kata Hadi.

Menurut Hadi, Rumah Sakit Infeksi merupakan salah satu ujung tombak dalam menghadapi ancaman tersebut dan ujung tombak dalam menghadapi pandemi.

TNI, kata dia, memerlukan lebih banyak Rumah Sakit yang representatif, mampu memberikan pelayanan yang baik, ramah, responsif, cepat dan tepat kepada prajurit TNI dan keluarganya.

“Rumah Sakit TNI harus dapat menjawab kebutuhan seluruh Prajurit TNI dan keluarganya. Setiap prajurit yang bertugas harus didukung dengan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan,” kata dia. (Uli)