Panen Melimpah, Pemerintah Siap Menjaga Stabilitas Harga Jagung Petani

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Rabu, 6 Maret 2019

Indolinear.com, Jakarta – Sejak Februari lalu, sejumlah sentra jagung mulai memasuki masa panen. Beberapa daerah di Pulau Jawa saat ini sedang memasuki panen raya yang cukup besar, seperti di Kabupaten Lamongan, Tuban, Blora. Begitupun sejumlah wilayah di provinsi lain seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan) Kuntoro Boga Andri mengungkapkan panen jagung yang melimpah pada periode Februari – Maret ini perlu diantisipasi secara seksama.

“Kita tidak bisa pungkiri adanya kekhawatiran para petani jagung. Panen melimpah seperti ini berpotensi membuat harga jagung anjlok,” ungkap Boga dalam keterangan pers, dilansir dari Tribunnews.com (05/03/2019).

Kementan akan terus berkoordinasi dengan Bulog untuk mendorong penyerapan jagung di tingkat petani. Berdasarkan Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) Nomor 58 Tahun 2018 Tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk komoditas jagung senilai Rp 3.150 per kilogram.

“Menteri Pertanian dalam banyak kesempatan meminta Bulog untuk siap dan siaga menyerap gabah maupun jagung. Salah satu tujuannya agar harga di tingkat petani tetap stabil. Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaga semangat petani,” terang Boga.

Karena itu, Boga menyampaikan secara khusus apresiasi terhadap kerja cepat Bulog dalam menyerap jagung hasil petani pada masa panen raya kali ini.

Perum Bulog mulai menyerap jagung hasil produksi petani dalam negeri sebanyak 110.000 kilogram dengan harga di atas acuan yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.150 per kilogram. Penyerapan jagung dilakukan oleh Bulog Divisi Regional (Divre) Lampung sebanyak 11.000 kg dan oleh Bulog Subdvire Bojonegoro sebanyak 100.000 kg.

Sekretaris Perum Bulog Aijun Ansol Siregar mengungkapkan penyerapan ini dalam rangka menghadapi puncak panen raya pada Februari – Maret 2019. “Kita perlu menjaga keseimbangan kepentingan petani jagung, peternak unggas, dan industri pakan,” jelasnya pada kesempatan terpisah, Senin (4/3) kemarin.

Meskipun tetap mengacu pada Permendag 58/2018, Bulog kali ini turut menggunakan skema komersial sehingga memungkinkan harga pembelian jagung berada di atas harga acuan pembelian yang telah ditetapkan pemerintah.

“Pembelian jagung oleh Bulog melalui skema komersial ini sebagai salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap petani jagung. Juga untuk memenuhi kebutuhan peternak unggas agar tetap berperan dalam pembangunan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Penyerapan jagung lokal Bulog Divre Lampung bekerja sama dengan Gapoktan Harapan Bersama serta berkoordinasi dengan Kodim 0429/Lampung Timur, BULOG Divre Lampung melakukan pembelian jagung lokal dari petani Desa Sadar Sriwijaya, Kecamatan Sribawono Lampung Timur.

Sementara Bulog Subdivre Bojonegoro melakukan kerja sama dengan Gapoktan se-Kabupaten Tuban dan Paguyuban Peternak Unggas Kabupaten Tuban dalam menyerap dan mendistribusikan jagung lokal.

Buka Opsi Ekspor Jagung

Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat mengungkapkan pada panen raya kali ini sangat terbuka peluang Indonesia untuk melakukan ekspor jagung. Pembukaan pasar ekspor untuk komoditas jagung dilakukan dalam upaya menjaga stabilitas harga jagung saat panen raya.

“Saya setuju kalau ada kelebihan produksi, jangan hanya untuk dalam negeri tapi juga ekspor, sehingga harga menguntungkan. Kalau produksi tinggi tapi tidak bisa ekspor, harganya akan jatuh,” ungkapnya saat menghadiri panen raya jagung di Gorontalo, Jumat (1/3).

Didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Presiden Jokowi melakukan panen di lahan jagung seluas 1.392 hektare yang tersebar di Desa Botuwumbato, Kabupaten Gorontalo Utara dan Desa Motilangu.

Berdasarkan Data Kementerian Pertanian (Kementan), produksi jagung nasional menunjukkan peningkatan pesat setiap tahun. Pada tahun 2015 produksi jagung nasional hanya 19,61 juta ton lalu meningkat menjadi 23,58 juta ton tahun berikutnya. Selanjutnya, naik menjadi 28,92 juta ton pada 2017 dan tembus 30 juta ton pada 2018.

Pada tahun ini, Kementan menargetkan produksi jagung nasional bisa mencapai 33 juta ton dan ekspor sebesar 500 ribu ton. Untuk mencapai target tersebut, Kementan akan terus memaksimalkan program-program yang selama ini sudah dijalankan, seperti intensifikasi lahan dengan benih unggul gratis agar produktivitas lebih baik, juga ekstensifikasi lahan atau perluasan lahan termasuk sistem tumpangsari, dan modernisasi pertanian dengan memanfaatkan alat mesin pertanian (Alsintan). (Uli)