Pabrikan Honda Optimistis Pasar Indonesia LCGC Tetap Menjanjikan

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Jumat, 17 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Segmen Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) atau yang biasa disebut low cost green car (LCGC), menjadi salah satu pasar yang terbesar di Indonesia.

Saat pertama kali diluncurkan, berbagai pabrikan menghadirkan beragam kendaraannya, mulai dari Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Toyota Calya, Daihatsu Sigra, Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, dan Datsun Go dan Go+.

Pada 2013 atau saat pertama kali meluncur di pasaran, LCGC memiliki harga jual yang terjangkau dengan banderol Rp 100 jutaan. Dengan harga tersebut, banyak konsumen Tanah Air yang kemudian memilih kendaraan ini terlebih bagi pembeli mobil pertama.

Namun, seiring berjalannya waktu, banyak model yang berguguran, mulai dari Datsun Go dan Go+ hingga terakhir Suzuki Karimun Wagon R.

Lalu, dengan banyaknya model LCGC yang tumbang, seberapa keras persaingan di segmen ini?

Dijelaskan Yusak Billy, Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), jenama berlambang ‘H’ ini melihat pasar LCGC masih bagus sekali. Bahkan jadi pilihan bagi para pembeli mobil pertama.

“Pasar roda dua di Indonesia 8 juta unit lebih kan, terus pasar dari pengguna kendaraan umum yang ingin memiliki mobil harga terjangkau dan ramah lingkungan, itulah (potensi market) segmen LCGC,” jelas pria yang akrab disapa Billy, dilansir dari Liputan6.com (15/12/2021).

Lanjutnya, pasar LCGC sendiri masih tertinggi, dengan kontribusi sebesar 17 persen secara nasional, sampai Oktober 2021.

“Di bawah itu, ada LMPV sebesar 16 persen, LSUV yang meningkat terus sebesar 15 persen menuju 15 persen,” tegasnya.

Sementara itu, bicara peluang terkait tumbuhnya pasar LCGC yang meningkat dari 17 persen, pria ramah ini mengatakan, jika pihaknya masih berdiskusi terus dengan pemerintah dan sesama pemain LCGC.

“Kita benar-benar ingin memajukan industri otomotif, pertumbuhan ekonomi melalui industri otomotif. Waktu PPnBM-DTP keluar, ya kan turun semua masa LCGC naik sih, jadi kita sepakat tahan dulu (harga LCGC),” tegasnya.

Terdampak Pajak Emisi

Sementara itu, segmen LCGC sendiri, tahun depan akan mengalami perubahan harga, yang berdasarkan pajak emisi.

Namun, dalam Keputusan Menteri Perindustrian (Kemenperin) Nomor 1737 Tahun 2021, yang resmi ditetapkan pada 15 Oktober 2021, segmen ini sendiri masuk dalam daftar kendaraan penerima insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP).

Dengan begitu, model yang termasuk Kendaraan Hemat energi dan Harga Terjangkau (KBH2) tidak mengalami kenaikan tiga persen, sesuai dengan regulasi pajak kendaraan yang dihitung berdasarkan emisi.

Menanggapi hal tersebut, Yusak Billy masih yakin, pasar LCGC masih akan besar, karena segmen first time buyer masih banyak.

“Maka itu kita harus siapkan apa yang dibutuhkan konsumen, pasarnya seperti apa. Pasarnya masih bagus dan konsumen juga butuh, ya pasti diteruskan,” pungkasnya. (Uli)

loading...