P20 Momentum Perkuat Kolaborasi Parlemen Untuk Hadapi Tantangan Di Masa Depan

FOTO: dpr.go.id/indolinear.com
Jumat, 17 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI merupakan motor parlemen Indonesia dalam melaksanakan diplomasi dengan parlemen di seluruh dunia. Maka dari itu, menurut Ketua BKSAP DPR RI Fadli Zon, momentum P20 dengan Indonesia sebagai tuan rumah akan memperkuat jalinan kolaborasi parlemen-parlemen di negara G20 tersebut dalam menghadapi tantangan dunia di masa depan.

“Sehingga diplomasi parlemen ini terus menjalin koordinasi, kolaborasi, komunikasi dengan semua pemangku kepentingan dalam rangka memberi dukungan penuh kepada pemerintah Indonesia, ini jadi kunci keberhasilan kepemimpinan Indonesia di G20,” ujar Fadli saat membuka Diskusi Pendahuluan P20: Menuju Pertemuan Ke-8 Forum Ketua Parlemen Negara G20 (P20), dilansir dari Dpr.go.id (16/06/2022).

Lebih lanjut ia memaparkan bahwa kepemimpinan Indonesia di G20 juga merupakan satu momentum yang berharga untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar serta prospektif. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi terbesar di dunia dengan jumlah populasi penduduk nomor empat terbesar dan punya potensi ekonomi yang juga sangat besar.

“Oleh karena itu kepemimpinan kita diuji. Tidak sekedar menunjukkan kapasitas di level global namun juga seharusnya bisa menjadi refleksi cita-cita Luhur konstitusi kita yaitu ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial,” urai Fadli.

Dalam kesempatan yang sama, bertindak sebagai moderator diskusi, Wakil Ketua BKSAP DPR RI Putu Supadma Rudana mengatakan pertemuan Forum Ketua Parlemen Negara G20 atau P20 nanti merupakan momentum bersama untuk menyelesaikan tantangan global.

“DPR RI punya peran strategis dalam keketuaan Indonesia di G20. P20 merupakan momentum bersama parlemen negara-negara G20 untuk mencari solusi menyelesaikan tantangan global,” kata Putu.

Adapun ia memaparkan terdapat empat isu prioritas yang dibahas dalam forum P20. Di mana, terdiri dari pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau, ekonomi inklusif dan masyarakat yang kuat, parlemen efektif dan demokrasi yang kuat, serta kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Isu-isu tersebut, menurut Guru Besar FEB Universitas Padjajaran Arief Anshory Yusuf berkaitan langsung dalam rangka mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) yang tidak ingin meninggalkan siapapun dalam proses pembangunan. Bagian dari agenda global itu mampu mendesak negara menerapkan skala prioritas serta mendorong target-target pembangunan dapat tercapai. (Uli)

loading...