Obesitas atau Kelebihan Berat Badan Menjadi Ancaman Peradaban Manusia ke Depan

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 22 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Ahli Syaraf, Dokter Ryu Hasan mengungkap kelebihan berat badan atau obesitas menjadi ancaman peradaban manusia ke depan.

Hal tersebut diungkapkannya saat menyampaikan materi politik dari sudut pandang neurosains dalam acara Jakarta Geopolitical Forum V 2021 yang diselenggarakan Lemhannas, Kamis (21/10/2021).

Menurut dia, ancaman yang mengintip abad moderen saat ini, tapi luput dari perhatian manusia adalah kelebihan makanan.

“Sekarang ancaman kita justru kelebihan makanan. Orang gembrot, obesitas adalah masalah peradaban ke depan,” kata dr Ryu Hassan yang dilansir dari Tribunnews.com (21/10/2021).

Ryu Hassan menyampaikan hal tersebut menjawab pertanyaan peserta asal Aceh, Cut Nyak Meutia.

Cut Nyak Meutia dalam kesempatan tersebut melontarkan pertanyaan apakah gaya hidup manusia dalam menerapkan pola makan memengaruhi peradaban?

Menjawaab hal tersebut, Ryu menjelaskan, infeksi sekitar satu abad lalu pernah memusnahkan 120 juta manusia.

Tapi ketika pandemi Covid-19 menyebar ke seluruh bumi, empat juta orang meninggal.

Perang yang pernah terjadi pada peradaban manusia membunuh puluhan juta jiwa.

Timur Tengah yang masih berlangsung perang sampai saat ini menelan korban ribuan jiwa.

Sementara, kelaparan pernah membuat negara seperti Ethiopia kehilangan jumlah penduduk.

“Sekarang tidak ada lagi kelaparan yang mengurangi jumlah populasi dunia,” kata dr Ryu Hassan.

Menurut Ryu, obesitas merupakan persoalan global dan menjadi concern WHO sejak tahun 2000.

Dari sekian negara yang menyadari bahaya obesitas, hanya Jepang negara yang paling serius menangani obesitas.

“Jepang punya Undang-undang antigembrot sejak 2008,” kata Ryu Hassan.

Mereka menerapkan batas ukuran lingkar pinggang pada laki-laki 84,3 cm dan perempuan 81.3 untuk menentukan seseorang terkena obesitas atau tidak.

Ketika awal diterapkan, kata Ryu, orang Jepang belum terlalu notice.

Orang sakit masih tinggi akibat obesitas.

Tapi ketika pemerintah menerapkan denda terhadap perusahaan yang terbukti karyawannya obesitas, barulah masyarakat Jepang sadar tentang obesitas dan angka obesitas menurun.

“Setelah diberlakukan denda dalam dua tahun sejak diundangkan, menurunkan angka kesakitan dan biaya kesehatan yang dikeluarkan,” kata Ryu Hassan.

Seperti diketahui, orang obesitas biasanya mudah terserang penyakit seperti diabetes, jantung, dan lain-lain.

Bila melihat perilaku manusia soal obesitas, memang ada paradoks.

Manusia, kata Ryu, punya gen tidak bisa berhenti makan.

Gen ini menolong manusia pada saat mempertahankan hidup.

“Orang yang tidak punya gen tidak bisa berhenti makan, punya peluang hidup lebih tinggi,” katanya.

Pada akhirnya manusia yang bertahan ialah manusia yang punya gen tidak bisa berhenti makan.

“Ini memberikan advantage pada saat sumber daya terbatas,” kata Ryu.

Dalam kesempatan yang sama, Dr Robertus Robet, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta menyampaikan pengaruh struktur biologis menyebabkan anak sekolah sekarang tak lagi memakai celana pendek seperti zaman dulu.

“Salah satunya karena revolusi pangan,” kata Robet.

Dalam konteks politik budaya, Korea telah melakukan politik kebudayaan melalui makanan Korea dengan Korean Pop Culture.

Mestinya, Indonesia meiliki strategi seperti yang dilakukan Korea.

Ini sebenarnya pernah dilakukan pemerintahan Orde Baru melalui strategi kebudayaan dalam rangka memperkuat identitas kebudayaan.

“Indonesia musti punya politik kebudayaan untuk memperkuat entitasnya,” katanya. (Uli)