Nyaris Tak Ada Anak-anak Jadi Korban Covid-19, Peneliti Sebut Alasannya

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Rabu, 19 Februari 2020

Indolinear.com, China – Sejak pertama kali berhembus pada akhir bulan Desember 2019 lalu, virus Corona Covid-19 telah memakan ribuan korban jiwa.

Bahkan hingga sampai saat ini, jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 1800 orang dengan jumlah orang yang terinfeksi sekitar lebih dari 67.000 orang.

Virus ini begitu mematikan sehingga terus menjadi perhatian semua orang.

Namun terlepas dari itu, ada hal yang cukup mengejutkan yaitu hampir tidak ada korban jiwa yang merupakan seorang anak-anak.

Sebagian besar korban jiwa akibat virus corona yaitu orang dewasa di usia 49-56 tahun.

Kendati demikian, pasien anak-anak pun masih terus ditemukan di berbagai wilayah dengan gejala virus corona yang ringan.

“Kami tidak sepenuhnya memahami fenomena ini, mungkin karena perbedaan dalam respon imun anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa,” kata Dr. Andrew Pavia, kepala Divisi Penyakit Menular Anak di Universitas Utah, dikutip dari Tribunnews.com (18/02/2020).

Pavia mengklaim bahwa respon imun anak-anak lebih baik dibanding orang dewasa.

“Satu hipotesis adalah bahwa respons imun bawaan, yaitu respons dini yang ditujukan secara luas pada kelompok patogen, cenderung lebih aktif,” pada anak-anak, katanya.

Sistem kekebalan tubuh bawaan adalah garis pertahanan pertama melawan patogen.

Sel-sel dalam sistem tersebut biasanya segera menanggapi penjajah asing.

Sebaliknya, sistem imun adaptif belajar mengenali patogen tertentu, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk bergabung.

Jika respons imun bawaan lebih kuat pada anak-anak yang terpapar virus corona atau Covid-19, mereka mungkin melawan infeksi lebih mudah daripada orang dewasa.

Sementara, sistem kekebalan tubuh bisa memburuk seiring bertambahnya usia, dan terutama setelah usia paruh baya.

Terlebih pada orang dewasa mungkin lebih rentan terserang virus corona maupun virus lainnya karena mereka lebih cenderung memiliki penyakit lain, seperti diabetes, tekanan darah tinggi atau penyakit jantung, yang melemahkan kemampuan mereka untuk mencegah infeksi.

Selain itu, ada pula peneliti yang beranggapan bahwa anak-anak yang mendapat ASI hingga usia 2 tahun juga mampu melawan penularan virus.

Sebuah penelitian dari University College London menyebutkan bahwa Air Susu Ibu (ASI) mengandung protein yang berguna menangkal patogen dan bakteri jahat yang menyerang tubuh.

Tak hanya itu, balita hingga anak-anak umumnya baru saja mendapatkan berbagai imunisasi guna meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus maupun penyakit.

Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa banyak pasien anak-anak yang bisa sembuh dari gejala virus corona.

China Terus Lawan Virus Corona

Presiden Xi Jinping menggelar pertemuan dengan staf medis dan pasien di Beijing pada Senin (10/2/2020).

Dalam pertemuan itu, Xi yang menyebut patogen itu sebagai ‘Iblis’ menyatakan perlunya kebijakan lebih kuat untuk mencegah penyebaran.

Dari kantor Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebuah tim pakar diberangkatkan dan mendarat di Beijing pada Senin malam waktu setempat.

Tim tersebut dipimpin Dr Bruce Aylward.

Dia adalah dokter veteran yang memimpin tim respons pada 2014-2016 saat wabah Ebola di Afrika Barat.

Saat memberangkatkan tim itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan terdapat kekhawatiran soal fakta penularan terbaru.

Tedros mengatakan saat ini, kondisi yang beredar adalah pasien tertular dari penderita yang tidak pernah bepergian ke Negeri “Panda”.

Di Inggris, pemerintah mencatatkan total delapan kasus penyebaran virus corona pada Senin, dan mencetuskan wabah ini adalah ancaman serius.

Sementara Presiden AS Donald Trump memprediksi wabah ini akan berakhir pada April mendatang, di saat cuaca menjadi lebih panas.

Ucapan Trump ini disebut bertentangan dengan keterangan yang disampaikan oleh pejabat kesehatan AS. (Uli)

INDOLINEAR.TV