Norwegia Menyerah Kepada Jerman Gara-Gara ‘Si Pengkhianat’ Quisling

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Senin, 7 Oktober 2019

Indolinear.com, Oslo – Perang Dunia II antara kubu Sekutu yang diketuai Amerika Serikat dan kubu Poros Jerman dimulai sejak 1 September 1939. Sejak itu, negara-negara yang bergabung dalam salah satu kubu melancarkan serangan, termasuk melakukan invasi ke negara yang saat itu dikuasai lawan.

Seperti yang dilakukan Jerman terhadap Norwegia. Kala itu, pada tahun 1940, Jerman berusaha keras merebut kekuasaan Norwegia dari kubu sekutu, dilansir dari Liputan6.com (05/10/2019).

Sejak awal 1940, Jerman mulai melakukan serangan ke Norwegia. Hingga tepat 78 tahun silam, 6 Juni 1940, Norwegia menyatakan menyerah dan takluk pada Jerman.

Norwegia saat itu sudah tak berdaya, karena Jerman telah melumpuhkan dan menguasai sejumlah markas strategis militer di lepas pantai Norwegia. Hal ini terjadi karena peran pengkhianat Norwegia, Vidkun Quisling, yang membantu Jerman untuk menguasai tanah kelahirannya.

Vidkun Quisling sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan Norwegia dari tahun 1931 hingga 1933. Kemudian tahun 1934, ia meninggalkan partai berkuasa, untuk kemudian mendirikan Nasional Samling atau Partai Persatuan Nasional, dengan ideologi Nazi, mengikuti Partai Adolf Hitler.

Meski Norwegia menyatakan netral dalam pertempuran Perang Dunia II, Nazi Jerman mengganggap pendudukan terhadap Norwegia sebagai kebutuhan strategis dan ekonomi.

Sekilas Tentang Vidkun Quisling

Sebelumnya, pada musim semi tahun 1940, Vidkun Quisling menyambangi Berlin untuk bertemu komandan Nazi dan merencanakan penaklukkan Jerman terhadap negaranya. Pada 9 April 1940, pasukan Jerman menyerang tanpa peringatan. Dan pada 10 Juni 1940, pasukan Hitler berhasil mengusir seluruh pasukan Sekutu dari Norwegia.

Sejak itu, Quisling dipercaya Nazi sebagai kepala pemerintahan boneka dan menjadi satu-satunya ketua partai politik di Norwegia yang direstui Nazi. Kendati demikian, ia banyak ditentang oleh sejumlah pihak di Norwegia.

Quisling memerintah dengan tangan besi dan menjadi rezim represif tanpa ampun terhadap siapa saja yang menentangnya. Tapi hal itu, tak membuat gerakan perlawanan surut. Gerakan justru makin gencar terus memita Quisling mundur.

Pada Mei 1945, Jerman menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II. Hal ini berdampak pada pemerintahan Norwegia. Gerakan pemakzulan terhadap Quisling berhasil dilakukan.

Quisling ditangkap dan dihukum karena melakukan pengkhianatan terhadap negara. Nama “Quisling” kemudian masuk daftar perbendaharaan kata di beberapa bahasa di Eropa, yang berarti “pengkhianat”. (Uli)