New Normal, Yudi Latif Mengingatkan Pancasila Sebagai True Sense of Normalcy

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Rabu, 3 Juni 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT REPRODUKSI. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Adanya pandemi Covid-19 yang melanda secara global merusak tatanan kehidupan dalam segala aspek.

Anggota Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Yudi Latif mengatakan wabah virus Corona mendekonstruksi seluruh kelaziman atau normalitas yang ada sebelum adanya pandemi Covid-19.

Misalnya, orang yang selalu berjuang demi mempertahankan kehidupannya sendiri atau yang disebutnya sebagai self interest.

Namun, semua itu dirusak dengan adanya Covid-19.

Adanya Covid-19 membuat manusia sadar terhubung dengan manusian lainnya.

Hal itulah yang menurut Yudi Latif sebagai normal atau normalitas yang salah (a false sense of normalcy).

“Covid ini membawa kita kepada kesadaran lain ternyata bahkan ketika kita ingin survive, ingin sehat ternyata tidak bisa tidak, kecuali harus berjejaring harus bekerja sama dengan yang lain. Kalau cuma kita yang pakai masker yang lain tidak itu tidak bisa,” katanya dalam diskusi virtual bertajuk ‘Aktualisasi Pancasila di Tengah Covid-19’.

Mantan Ketua Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) ini menyatakan masyarakat berharap adanya suatu keteraturan baru atau era New Normal setelah pandemi Covid-19 selesai.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, peringatan Hari Lahir Pancasila, Yudi Latif menilai Indonesia harus kembali ke fitrahnya, yakni menjadikan Pancasila sebagai dasar falsafah bangsa.

“Kalau Idul Fitri itu kembali ke fitrah, suci. Tapi kalau 1 Juni kembali ke Fitrah dasar ketika Indonesia dipikirkan bahwa norma yang benar dalam kehidupan publik harus didasarkan pada Pancasila. Maka dikatakan Pancasila adalah staat fundamental norm, Pancasila itu adalah dasar norma negara,” ucap Yudi Latif, dilansir dari Tribunnews.com (02/06/2020).

Yudi Latif mengatakan New Normal bukan hanya berbicara tentang rutinitas baru tetapi memasuki rutinitas baru dengan norma yang benar.

Menurutnya, New Normal harus dikritisi karena selama ini yang menjadi perbincangan hanya mengatur tatanan hidup baru tanpa memikirkan aspek nilai-nilai Pancasila.

“Tantangan terbesar di dalam normal baru itu justru bagaimana kita secara konsisten mengamalkan Pancasila itu dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara keluar dari a false sense of normalcy dan memasuki pada true sense of normalcy,” katanya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: