Naik Roket Nazi, Kisah Tragis Monyet Pertama di Angkasa Luar

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 16 Oktober 2019

Indolinear.com, Houston – Albert II dalam kondisi tak sadar saat tubuhnya yang kecil dimasukkan ke dalam rudal rancangan Nazi. Hari itu, Selasa 14 Juni 1949, monyet rhesus (Macaca mulatta) yang sudah dibius tersebut diluncurkan ke angkasa luar dari pangkalan udara White Sands, New Mexico, Amerika Serikat.

Roket Blossom V-2 yang akan membawanya adalah versi yang lebih besar dari misil yang dijatuhkan Adolf Hitler lima tahun sebelumnya, untuk menghancurkan sejumlah kota di Eropa — London, Antwerp, dan Liege.

Pasca-kekalahan Nazi dan Hitler, senjata pemusnah massal tersebut diadopsi Amerika Serikat, dengan bantuan sejumlah ilmuwan Jerman, untuk tujuan yang sangat berbeda. Bukan untuk perang.

Proses lepas landas berjalan lancar. Blossom V-2 mendorong kapsul berisi Albert II ke ketinggian 83 mil atau 134 kilometer, membuatnya sebagai primata pertama yang berhasil ke angkasa luar.

Sekitar tiga menit setelah peluncuran, ketika roket mencapai titik puncaknya (zenith), kapsul yang membawanya terpisah dari Blossom V-2. Berdasarkan rencana, parasut akan segera terkembang, membawa Albert II kembali ke Bumi dengan selamat.

Namun, parasut tersebut gagal memperlambat laju penurunan. Kapsul yang membawa Albert II terhempas ke Bumi, memicu terbentuknya kawah selebar 10 kaki atau 3 meter di permukaan tanah.

Enam menit setelah diluncurkan, monyet seberat enam pon atau 2,7 kg itu mati.

Data elektrokardiografi, yang ditangkap oleh sensor yang menempel pada tubuhnya yang dipenuhi bulu, merekam detik-detik akhir hidupnya yang tragis.

David Simons, perwira proyek Angkatan Udara untuk studi hewan V-2, melaporkan bahwa denyut jantung Albert mengalami gangguan akibat disorientasi perubahan g-force atau tekanan gravitasi yang tinggi.

“Ini adalah catatan pertama yang dihasilkan terkait respons hewan terhadap penerbangan ke angkasa luar,” kata Simons, dilansir dari Liputan6.com (14/10/2019).

Albert II bukan satu-satunya martir yang memuluskan jalan manusia menjelajahi angkasa luar.

Setahun sebelumnya, pada 11 Juni 1948, monyet rhesus yang diberi nama Albert I mengangkasa sejauh 39 mil atau 62,7 kilometer di atas New Mexico, juga menggunakan Blossom V-2.

Namun, ia tak sampai melampaui Garis Karman (Karman Line) yang berada di ketinggian 100 km dari permukaan Bumi — yang diyakini sebagai ‘pintu gerbang’ ke angkasa luar.

Albert I diduga mati lemas selama penerbangan, bahkan mungkin sebelum roket yang membawanya diluncurkan.

Sejumlah monyet, tikus, anjing, simpanse, kucing, kura-kura, dikirim ke angkasa luar, jauh sebelum manusia menjelajah ke luar Bumi. Ada yang selamat, namun tak terhitung yang mati.

“Sebelum manusia akhirnya pergi ke angkasa luar, ada teori yang menyebut soal bahaya yang mengancam dalam penerbangan antariksa. Manusia diperkirakan tak bisa bertahan lama dalam kondisi tanpa bobot,” demikian dikutip dari A Brief History of Animals in Space, di situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

NASA menambahkan, selama beberapa tahun, ada perdebatan serius di kalangan ilmuwan tentang efek yang ditimbulkan dari kondisi tanpa gravitasi yang berkepanjangan terhadap manusia.

“Ilmuwan Amerika Serikat dan Rusia kemudian menggunakan sejumlah hewan — terutama monyet, simpanse dan anjing — untuk menguji kemampuan masing-masing negara untuk meluncurkan organisme hidup ke angkasa luar dan membawanya kembali dalam kondisi hidup dan selamat.”

Utang Budi Manusia pada ‘Astronot’ Hewan

Sejarah mencatat, sepasang monyet, Able dan Baker akhirnya berhasil mendarat ke Bumi dalam kondisi hidup. Mereka diluncurkan ke angkasa luar menggunakan rudal militer AS, Jupiter pada 28 Mei 1959.

Mereka terbang ke ketinggian 580 kaki dari permukaan Bumi. Meski demikian, Able mati pada 1 Juni 1959, di meja operasi, akibat efek dari obat bius yang diberikan kepadanya. Dokter kala itu sedang berupaya mengangkat elektroda yang dipasang di bawah kulitnya.

Sementara, Baker mati gara-gara gangguan ginjal pada tahun 1984. Kala itu, ia berusia 24 tahun.

NASA mengatakan, selama 50 tahun, para ilmuwan AS dan Uni Soviet menggunakan sejumlah hewan sebagai objek percobaan.’

Meski banyak dari mereka tak selamat, hewan-hewan tersebut memberikan banyak pengetahuan pada para ilmuwan.

Tanpa mereka, tak terbayang betapa banyak nyawa manusia yang bakal jadi korban.

“Para hewan tersebut mengorbankan nyawa, melakukan hal besar atas nama kemajuan teknologi, membuka jalan bagi umat manusia untuk menjelajah belantara angkasa.” (Uli)

INDOLINEAR.TV