‘Nabi Palsu’ Dan Ramalan Kiamat Yang Gagal

Jumat, 23 Oktober 2015
Historia | Uploader Arif
loading...

Indolinear, New England – Sekitar 100 ribu orang berkumpul di sisi bukit, di balai pertemuan, atau menyemut di padang rumput. Wajah mereka mendongak ke langit, tersenyum, penuh harap.

Diyakini kiamat akan datang Rabu itu, 22 Oktober 1844. Namun, orang-orang tak takut. Sang Juru Selamat akan muncul menawarkan perlindungan. Itu yang mereka yakini.

Namun tak ada apapun yang terjadi. Pagi berganti siang, lalu cahaya mentari hilang disapu gelap. Tengah malam, sukacita luntur berganti gelisah. Dengan perasaan sedih dan terguncang, orang-orang itu pulang berurai air mata. Menangis hingga fajar menjelang. Pagi harinya, mereka akhirnya sadar, ‘kiamat’ tak jadi datang.

“Rabu pagi itu aku masih merasa sehat. Namun, setelah pukul 12.00 aku merasa nyaris pingsan. Dan sebelum gelap, aku membutuhkan bantuan untuk mencapai kamar. Kekuatanku menguap dengan cepat. Aku terbaring tak berdaya, bukan karena penyakit — tapi kecewa,” tulis salah satu dari mereka, Henry Emmons.

Peristiwa itu dikenal sebagai  ‘The Great Disappointment’ — kekecewaan besar yang dipicu ramalan kiamat seorang petani sekaligus pemuka agama asal New England, Amerika Serikat, William Miller.

“William Miller mungkin adalah ‘nabi palsu’ paling terkenal dalam sejarah.”

Pada 1840-an, ia berkoar tentang akhir dunia. Bahwa api akan membuat dunia berkobar antara 21 Maret 1843 dan 21 Maret 1844.

Miller aktif berceramah di tempat orang-orang berkumpul. Menyebarkan pesannya lewat poster, surat kabar, dan selebaran.

Pesan itu mengena. Sekitar 100 ribu orang mendeklarasikan diri sebagai ‘Millerites’. Semua harta benda dijual atau disumbangkan. Menurut mereka, apa gunanya, toh kiamat segera datang. Mereka kemudian menuju pegunungan untuk menanti detik terakhir kehidupan di muka Bumi.

Saat ramalannya terbukti gagal total, Miller berdalih ia salah menghitung hari, namun bersikukuh metodenya benar. Kemudian menawarkan tanggal baru 22 Oktober 1844 — yang ternyata juga keliru.

Miller meninggal dunia 5 tahun kemudian. Membawa keyakinan dunia akan segera kiamat.

Meski Miller tiada, sejumlah pengikut masih melestarikan keyakinannya itu dan menciptakan sekte baru.

Dan prediksi kiamat tak pernah berhenti digaungkan: ramalan Harold Camping, ‘Suku Maya’, bahkan yang melibatkan binatang.

Ini kisahnya: di Leeds, Inggris, peran nabi ‘pembawa kabar kiamat’ diwakili oleh seekor ayam! ‘The Prophet Hen of Leeds’ — demikian hewan itu dijuluki, pada tahun 1806 mengeluarkan telur yang bertuliskan pesan ‘Kristus telah datang’.

Kala itu, banyak orang mengunjungi lokasi ayam tersebut, melihat langsung telur menakjubkan itu, dan lalu meyakini kiamat  akan segera datang. Orang-orang yang percaya tiba-tiba menjadi  sangat relijius, rajin berdoa siang dan malam, dan bertobat atas  segala perilaku jahat mereka di masa lalu.

Namun, isu itu berakhir saat beberapa orang yang penasaran mengawasi ayam saat  bertelur. Ternyata, telur ajaib itu adalah ulah para penipu. Belakangan diketahui, telur yang ditulisi tinta dimasukkan dengan paksa ke rahim ayam betina.

Mendengar fakta itu, orang-orang yang terlanjut yakin tentu saja kaget. Tapi toh mereka tertawa keras-keras, menertawakan kebodohan sendiri. Saat itu, bagi mereka, dunia terlihat lebih indah dan menyenangkan.

Tak hanya itu yang terjadi pada tanggal 22 Oktober. Pada tahun 1990 The Royal Geographical Society mengungkap bukti bencana ekologis paling buruk di muka Bumi:Danau Laut Aral.

Dulu, Laut Aral adalah salah satu danau terbesar di dunia, dengan luasnya yang mencapai 68.000 kilometer persegi. Kala itu, ada 1.500 pulau di dalamnya. Kini ia kering kerontang, nyaris tinggal sejarah.  Menuju kematiannya. (uli)

 

Sumber: Liputan6.com