Momen Nenek 76 Tahun Akhiri Penderitaan Hidup Lewat Eusthanasia

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Sabtu, 8 Januari 2022
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Seorang nenek berusia 70 tahun di Inggris memutuskan menjalani prosedur euthanasia untuk mengakhiri penderitaannya karena penyakit yang diidap. Wanita yang terpaksa terbang ke Swiss itu ingin mengakhiri hidupnya dengan membawa melakukan berbagai hal yang diinginkan sebelum ajal lepas dari raganya.

Meski banyak memicu penolakan, praktik euthanasia masih berlaku di beberapa negara di dunia. Pilihan untuk mengakhiri hidup secara sengaja ini dilakukan karena pemohon ingin menghilangkan penderitaannya.

Neneng tersebut bernama Dawn Voice-Cooper dan sudah berusia 76 tahun. Dia memutuskan menjemput kematiannya senyaman mungkin dengan menikmati minuman terbaik dan alunan musik klasik sampai napas terakhir.

Dikutip dari Dream.co.id (06/01/2022), Voice-Cooper menderita kelumpuhan akibat penyakit. Di masa senjanya, dia melakukan perjalanan dari Inggris ke Swiss untuk mengakhiri hidup di sebuah klinik di mana dia melepaskan dosis Barbiturat yang fatal ke dalam aliran darahnya.

Dikelilingi oleh teman-temannya, Voice-Cooper menyesap sampanye lalu mendengarkan lagu favoritnya untuk terakhir kalinya. Hanya beberapa menit kemudian, dia sudah pergi meninggalkan dunia.

Ibu satu anak itu mendapatkan keinginan terakhirnya dibantu sebuah organisasi di Swiss. Kata-kata terakhirnya yang mengundang air mata teman-teman dan staf medis di samping tempat tidurnya hanyalah ” Terima kasih, terima kasih semuanya.”

Kampanye Pelegalan Permohonan Kematian

Voice-Cooper, yang menderita kondisi kesehatan termasuk radang sendi parah, pendarahan otak berulang dan epilepsi, telah menghabiskan bertahun-tahun berkampanye agar kematian dengan bantuan dapat disahkan di Inggris.

Mantan pekerja kesehatan mental itu menggambarkan keberadaannya sebagai ” tak berujung, sulit, dan biasanya menyakitkan, dari beberapa masalah yang tidak dapat disembuhkan” .

Nasib Bripda R, dari Seragam Cokelat Bersepatu Boat Jadi Oranye dan Diborgol

Tetapi tanpa menderita penyakit yang mematikan, keputusannya untuk mati sulit dipahami oleh sebagian orang.

” Orang-orang sering memberi tahu saya, ‘Oh, kamu terlihat baik-baik saja, kamu terlihat muda, kamu sedikit pincang.’ Tetapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri saya, rasa sakit dan kesulitan,” kata Voice-Cooper.

Kisahnya muncul saat memperingati Hari Hak untuk Mati Sedunia. Di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara, membantu orang bunuh diri dapat dihukum penjara hingga 14 tahun.

Sulit Terwujud

Voice-Cooper yang tinggal sendirian di Sevenoaks, Kent, dengan mobilitas yang menurun, mengatakan, dia harus mati lebih awal karena tubuhnya masih sanggup untuk bepergian.

Proposal untuk undang-undang kematian yang dibantu yang diajukan oleh Baroness Meacher hanya akan tersedia bagi mereka yang memiliki waktu hidup kurang dari enam bulan.

Minggu lalu dia lulus pembacaan kedua di Lords, yang berarti telah maju ke tahap Komite untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Tapi Voice-Cooper berpikir proposal itu terlalu membatasi.

Dia menginginkan penyelidikan Parlemen berbasis bukti tentang kematian yang dibantu, dengan harapan pada akhirnya membangun model gaya Kanada. Di negara itu, mereka yang menderita kondisi yang tidak dapat disembuhkan dan menyedihkan dapat mengajukan permohonan untuk mati.

Namun, kritik mencuat terhadap permohonan untuk mati yang dibantu. Ini lantaran permohonan tersebut dapat mendorong orang cacat dan lanjut usia mengakhiri hidup mereka daripada menjadi beban perawatan.

Setelah sampai di Swiss, ia diperiksa oleh dua dokter terpisah dan kemudian dibawa ke klinik Lifecircle, dimana dua orang mengakhiri hidup mereka setiap minggu.

Mati dengan “Nyaman”

Perempuan ini telah mengajukan permohonan kematian yang dibantu dua tahun lalu, setelah pertama kali mempertimbangkan pilihannya pada tahun 2017 ketika kualitas hidupnya mulai memburuk.

Berbeda dengan klinik Dignitas yang lebih terkenal, dimana pasien meminum koktail obat yang mematikan, Lifecircle memasang infus yang dioperasikan sendiri oleh penerima.

Di dalam klinik, di kawasan industri yang berada di belakang hutan di luar kota, Voice-Cooper menandatangani sertifikat kematiannya sendiri. Dia memeluk teman-temannya, sesama juru kampanye Alex Pandolfo dan Miranda Tuckett, sebelum seorang perawat menempatkan tempat tidurnya di depan jendela untuk melihat ke pepohonan.

” Sangat indah di sini dikelilingi oleh pepohonan. Saya pikir itu pasti tempat yang paling indah untuk mati,” kata dia.

Presiden Lifecircle, Dr Erika Preisig, kemudian menanyakan empat pertanyaan terakhir kepada Voice-Cooper di depan kamera: Siapa nama Anda, berapa tanggal lahir Anda, dapatkah Anda memberi tahu saya mengapa Anda datang kesini dan apakah Anda tahu apa yang akan terjadi jika Anda membiarkan cairan dalam infus masuk ke dalam tubuh?

Saat dia membiarkan obat IV masuk ke aliran darahnya, Voice-Cooper mendengarkan Nick Drake – Day is Done.

Setelah laporan polisi, yang dilakukan setelah setiap kematian yang dibantu di klinik, tubuhnya akan dikremasi dan abunya disebar. (Uli)