Moderna Menjadi Vaksin mRNA Pertama Yang Dapat EUA BPOM

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 4 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Massachusetts – Vaksin virus corona (Covid-19) ‘Moderna’ yang diproduksi oleh perusahaan farmasi dan bioteknologi Amerika Serikat (AS), Moderna, Inc baru saja memperoleh Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sehingga vaksin ini akan segera digunakan untuk ‘menambah amunisi’ pemerintah dalam melaksanakan porogram vaksinasi terhadap masyarakat demi mencapai kekebalan komunal (herd immunity).

Vaksin yang baru saja memperoleh EUA dari BPOM itu, sebelumnya dikembangkan oleh raksasa biotech yang berbasis di Massachusetts, AS, menggunakan platform mRNA.

Uji Coba Vaksin mRNA Moderna

Pada 16 Maret 2020, vaksin ‘mRNA’ pertama yang dirancang untuk melawan virus SARS-CoV-2 ini pun disuntikkan ke Jennifer Haller, di Seattle, AS.

Tanggal tersebut menandai dimulainya uji klinis pada manusia untuk menguji keamanan vaksin ini.

Suntikan tersebut diberikan hanya 66 hari setelah urutan genom virus dirilis ke dunia.

Ini merupakan waktu penyelesaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diharapkan akan menjadi sinyal positif dalam pengembangan vaksin serta kolaborasi internasional di masa depan.

Kemudian pada Desember 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin mRNA yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Keputusan ini tentu saja menjadikan Pfizer dan Moderna sebagai vaksin mRNA pertama yang tersedia untuk umum.

Lalu sebenarnya apa yang ada di dalam botol vaksin itu dan apa yang dijanjikan vaksin mRNA ini untuk masa depan?

Sel, RNA, DNA, blueprints genetik dan protein

Dikutip dari Tribunnews.com (03/07/2021), di dalam sel, tugas utama RNA adalah mengubah informasi yang disimpan dalam DNA, blueprint genetik kita menjadi protein.

Tugas ini dilakukan oleh jenis RNA tertentu yang disebut RNA ‘pembawa pesan’ atau ‘mRNA’.

Beberapa tim peneliti internasional melakukan penelitian dalam beberapa dekade selama pertengahan abad ke-20 untuk menguraikan peran seluler mRNA.

Pada 1990-an, para ilmuwan menemukan cara memasukkan mRNA khusus ke dalam sel, mengarahkan sel untuk membuat protein tertentu.

Nah, penemuan ini pada akhirnya akan membuka jalan untuk mengembangkan vaksin mRNA.

mRNA: mengajari sel kita untuk membuat vaksin sendiri

Vaksin bekerja dengan melatih tubuh kita untuk mengenali virus yang menyerang.

Sementara itu, vaksin tradisional melakukan tugas ini dengan memasukkan bagian virus yang mati, tidak aktif atau dimodifikasi, ke dalam tubuh kita sehingga sistem kekebalan kita dapat belajar mengenali dan melawan ‘serangan asing’ ini.

Dalam contoh kasus vaksin mRNA Moderna dan Pfizer-BioNTech, tubuh tidak disuntik dengan virus utuh atau bahkan sebagian.

Sebagai gantinya, hanya diberikan mRNA yang menginstruksikan sel mereka untuk membuat versi protein lonjakan SARS-CoV-2.

Instruksi ini mengajarkan sel kita untuk menjadi ‘pabrik pembuat vaksin sendiri’.

Di laboratorium, para ilmuwan membuat mRNA sintetis yang mengandung urutan protein lonjakan.

Informasi yang dikodekan ini dikirim melalui tusukan, dan itu menginstruksikan beberapa sel kita untuk memproduksi protein lonjakan.

Lalu protein lonjakan memicu sel kekebalan kita untuk merakit antibodi yang mampu mengenalinya.

Jika virus SARS-CoV-2 yang berada di balik Covid-19 itu menginfeksi orang yang divaksinasi, maka antibodi yang telah terlatih ini akan membunyikan alarm, yang mengarah ke respons kekebalan untuk menangkis infeksi tersebut.

Gagasan mendasar di balik penggunaan vaksin untuk mengajarkan sistem kekebalan tubuh, sebenarnya telah ada sejak 200 tahun lalu.

Namun penggunaan platform mRNA untuk pengembangan vaksin merupakan perkembangan yang terjadi baru-baru ini.

Dibandingkan dengan metode lain, mRNA unggul dalam kecepatan dan fleksibilitas.

Lalu apa kelebihan vaksin mRNA?

Secara teori, teknologi yang ada di balik vaksin mRNA dapat disesuaikan, memungkinkan adanya pembaharuan cepat saat mutasi virus baru (varian) berevolusi atau seluruh varian ditemukan.

Karena vaksin mRNA didasarkan pada urutan protein virus, membuat vaksin baru dapat secara mudah melibatkan perubahan urutan mRNA, ini jika anda tahu protein apa yang ingin anda buat.

vaksin mRNA juga diproduksi lebih cepat dan lebih andal dibandingkan vaksin tradisional.

Untuk Moderna, seluruh proses, mulai dari desain, pembuatan hingga pengiriman hanya membutuhkan waktu 7 minggu.

Kendati demikian, uji klinis untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas masih membutuhkan beberapa bulan pengujian.

Sebaliknya, vaksin lain yang menggunakan virus yang dinonaktifkan atau dilemahkan kemungkinan memerlukan waktu selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk mengembangkannya.

Janji untuk masa depan

Terlepas dari fungsinya untuk melawan Covid-19 dan variannya, para peneliti sedang mengembangkan vaksin mRNA untuk penyakit menular lainnya.

Pengujian awal pada hewan telah menunjukkan bahwa vaksin mRNA dapat menangkis virus seperti influenza, Zika dan rabies.

Para peneliti dari University of Illinois, Chicago sedang merekayasa vaksin mRNA untuk virus dengue, sementara para peneliti dari Yale berfokus pada jenis lain dari vaksin RNA untuk Malaria.

Dari 44 uji klinis yang sedang berlangsung yang menguji vaksin mRNA, 23 diantaranya menargetkan penyakit menular.

Sebelum mengembangkan vaksin mRNA untuk penyakit menular, para peneliti dan perusahaan farmasi telah mempertimbangkan potensi mRNA untuk mengobati kanker.

Lebih dari 20 vaksin mRNA diuji klinis dalam onkologi, menguji mRNA sebagai alat perawatan yang dipersonalisasi.

Idealnya, dokter akan mengidentifikasi mutasi unik yang ada pada sel kanker pasien dan memasukkannya ke dalam vaksin mRNA, mengajarkan sistem kekebalan pasien untuk lebih efektif menyerang sel kanker. (Uli)