Mobil Listrik Bikinan Arek Suroboyo Siap Unjuk Gigi

liputan6com/indolinear.com
Selasa, 28 November 2017
loading...

Indolinear.com, Surabaya – Mahasiswa Politeknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) meluncurkan mobil listrik pertamanya bernama Aurora pada ajang Kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI) 2017 yang digelar di Bandung.

Ketua Tim Aurora Muhammad Airul Ayyub mengatakan, meski mobil listrik besutannya itu perdana, namun dirinya yakin bisa unggul pada kontes yang  diadakan 23-25 November mendatang.

“InsyaAllah kami yakin bisa melenggang sukses, karena mobil listrik kami memiliki fitur canggih berupa Regenerative Braking System, yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik ketika melakukan pengereman,” tuturnya usai uji coba di depan gedung Politeknik Untag Surabaya.

Menurutnya, mobil listrik yang dirakit bersama sembilan temannya itu juga memiliki pengapian dari  baterai yang akan ter-charge otomatis sewaktu pengemudi mengerem kendaraan.

“Teknologi tersebut akan menambah kemampuan tempuh kendaraan hanya dalam sekali charge. Jika baterai mobil listrik tersebut terisi penuh, akan cukup untuk menempuh jarak sekitar 30 kilometer,” kata mahasiswa semester V Teknik Listrik Industri tersebut.

Ia mengungkapkan, keunggulan lain yang terdapat dalam mobil listrik tersebut adalah suspensinya yang menggunakan suspensi independen.

“Sehingga, ketika melewati jalanan bergelombang pun, tidak akan terasa adanya goncangan. Diharapkan pengendara lebih nyaman dengan digunakannya suspensi independen tersebut,” ucapnya.

Kelebihan lain, terdapat dua motor listrik yang digunakan untuk menggerakkan roda. Artinya, satu motor listrik menggerakkan satu roda.

“Di sini memang sempat menemukan kesulitan. Jadi menyeimbangkan power steering-nya agak susah karena pakai dua motor itu,” ujarnya.

Direktur Politeknik Untag Surabaya, Gatut Budiono. M.Sc menuturkan, peluncuran mobil listrik ini sebagai lembaga vokasi bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan kreatifitas mahasiswa politeknik.

Semakin Minim Ketersediaan Bahan Bakar

Apalagi, tren saat ini dinilai semakin minimnya ketersediaan bahan bakar. Sehingga diperlukan upaya pemindahan dari bahan bakar menjadi energi listrik.

“Maka jadilah mobil listrik ini. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memulainya dari nol. Bagaimana rangkanya, desain, dan kapasitas motor listriknya pun juga kami hitung,” tutur Gatut.

Rencananya mobil listrik ini akan diberangkatkan pada hari ini, sekaligus dilakukan uji coba guna memastikan setiap komponen dapat bekerja dengan baik.

Dalam pembuatan mobil listrik ini, mahasiswa yang terdiri dari 10 tim, baik dari kalangan mahasiswa jurusan listrik dan manufacturing, pembimbing dan tim laboran (pegawai laboratorium) mampu menyelesaikan dalam kurun waktu delapan bulan.

“6 bulan untuk penghitungan dan desain, sedangkan dua bulannya untuk riset pengaplikasian rakitan mobil listrik,” katanya.

Dia menambah, teknologi yang dipakai sebenarnya sudah banyak diterapkan di mobil-mobil listrik premium terkemuka di dunia seperti BMW i8 dan Toyota Supra HV-R Hybrid.

Tentunya dengan teknologi ini akan menambah kemampuan tempuh kendaraan hanya dalam sekali charge. “Melalui karya Mobil Listrik ini, pembina tim berharap bisa menunjukkan eksistensi Politeknik Untag Surabaya yang siap bersaing dan mampu mengikuti tuntutan global,” ucapnya.

Kompetisi Mobil Listrik Indonesia

Nantinya, mobil listrik Politeknik Untag Surabaya akan bersaing dengan 2 mobil lain garapan Pena yang mewakili Jawa Timur di ajang Kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI) di Politeknik Bandung.

Dalam ajang kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI) di Politeknik Bandung besok, ada beberapa persyaratan yang masuk dalam penilaian kompetisi tersebut. Di antaranya kecepatan dan efisiensi. Yang mana setiap lap sepanjang 1 kilometer, dalam uji pertama mengelilingi sebanyak 10 kali.

“Itu untuk menghitung kecepatan dan efisiensi waktunya,” tutur Wakil Direktur Politeknik Untag Surabaya, Yusuf Eko Nurcahyo.

Kedua, percepatan laju kendaraan yang dimulai dari start. Ketiga, pengereman, yang mana dalam pengereman ini akan dihitung kecepatan mengerem saat melaju dengan jarak tempuh 20 kilometer. Keempat, zig-zag.

Dalam hal ini akan dinilai laju kecepatan saat melintasi perlintasan zig-zag arena tanpa bersenggolan dengan batas yang ditentukan.

“Dan terakhir adalah tanjakan. Dalam tanjakan ini akan dinilai kemiringan mobil sebanyak 15 derajat dengan jarak tempuh 30 kilometer. Dan akan dihitung seberapa cepat sampai di garis finis,” katanya.

Biaya Perakitan

Menurutnya, dari berbagai persyaratan dalam penilaian tersebut, mobil listrik hasil karya mahasiswa Politeknik Untag Surabaya sudah mampu melewati uji coba sebelumnya.

“Saat perakitan pun, sudah mengira-ngira berapa kecepatan yang dibutuhkan. Untuk saat ini, kecepatan mobil listrik ini mencapai 60-70 km/perjam,” ucapnya.

Di samping itu, mobil listrik juga dilengkapi dengan dua aki sesuai dengan jarak tempuh kisaran 30 km/jam. Sehingga mampu mengimbangi persyaratan kriteria penilaian ajang kompetisi Mobil Listrik Indonesia mendatang.

“Pernah kita coba semua, baik di tanjakan, jalanan zig-zag, maupun kecepatan dan efisiensi waktunya. Alhamdulillah lolos semua. Semoga tidak ada kendala saat lomba nanti,” ujarnya.

Pembuatan mobil listrik yang mencapai kisaran Rp 80 jutaan, sempat mengalami kendala pada steering dan penggabungan dua motor. Karena penggabungan dua motor tersebut memerlukan keseimbangan.

“Biasanya satu motor. Tapi kita menggunakan dua motor  DC berkekuatan 48 Volt yang langsung ke ban. Jadi pengurangan putaran pada steering-nya semakin sedikit. Sehingga semakin efisien,” ucapnya. (Uli)