Mitos Tes Perjaka Di Candi Sukuh Karanganyar, Tiba-tiba Kebelet Kencing

FOTO: solopos.com/indolinear.com
Selasa, 21 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Selain tes keperawanan, di Candi Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, juga memiliki mitos tes keperjakaan. Mitos tersebut sudah familier di tengah masyarakat.

Perlu diketahui, bentuk dan susunan Candi Sukuh terbilang cukup unik karena mirip piramida. Bukan hanya itu saja, ada pahatan yang menggambarkan organ intim perempuan (Yoni) dan laki-laki (Lingga) dalam bentuk yang nyata.

Menurut laporan tertulis Achmad Syafi’i dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, pahatan tersebut diyakini berfungsi sebagai mantra atau obat untuk menyembuhkan segala kotoran yang melekat di hati.

Keberadaan pahatan tersebut menimbulkan kesan erotis terhadap candi ini. Ditambah dengan adanya mitos tes keperjakaan di Candi Sukuh Karanganyar.

Hal tersebut juga tertuang dalam skripsi yang ditulis Evianna Puspitasari dari UIN Walisongo Semarang pada 2021 lalu. “Hal ini disebabkan karena relief Candi Sukuh yang bersifat naturalis, mengambarkan bentuk alat kelamin yang di pahat dalam bentuk riil atau asli,” jelas dia dalam skripsinya, dilansir dari Solopos.com (20/06/2022).

Sebagaimana diketahui untuk berkunjung ke Candi Sukuh, pengunjung harus mengenakan kain yang digunakan di pinggang. Untuk menguji tes keperjakaan ini, pengunjung laki-laki diminta untuk melewati patung Lingga dan Yoni yang ada di Candi Sukuh tersebut.

Jika tiba-tiba pengunjung ingin buang air kecil yang tak tertahankan ketika melewati patung tersebut, mitosnya orang tersebut sudah tak perjaka lagi. Hal tersebut diungkap oleh pengelola akun Facebook Pecinta Budaya Nusantara dalam unggahannya 2022 silam.

“Jika masih perjaka maka dia tidak akan merasakan apa-apa. Tetapi jika sudah tidak perjaka lagi, maka dia mendadak ingin buang air kecil yang tidak bisa ditahan lagi,” jelas dia.

Sementara itu, untuk menguji mitos tes keperawanan di Candi Sukuh Karanganyar, pengunjung perempuan yang telah mengenakan kain harus melewati patung Lingga dan Yoni tadi.

“Jika gadis masih perawan maka kain yang dikenakannya tidak akan robek. Namun, jika sudah tidak perawan maka kain yang dikenakannya akan robek dan tubuhnya meneteskan darah,” imbuh dia. (Uli)