Mitos Situ Patenggang, Kisah Cinta Abadi Raden Kian Santang dengan Dewi Rengganis

FOTO: sindonews.com/indolinear.com
Jumat, 10 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Kawasan wisata alam Situ Patenggang, berada di bawah kaki Gunung Patuha, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.

Danau dengan luas 45.000 hektare ini, berada di kawasan Ciwidey. Tidak heran, tempat wisata dengan pemandangan indah dan udara sejuk, di Jawa Barat, ini kerap dikunjungi wisatawan. Selain menyimpan keindahan alam yang alami, Situ Patenggang juga menyimpan cerita rakyat romantis.

Cerita itu berkisah tentang hubungan asmara antara Kian Santan atau Ki Santang dengan Dewi Rengganis yang harus terpisah. Mereka berupaya untuk saling mencari, hingga pada suatu hari dipertemukan di tempat ini, dilansir dari Sindonews.com (09/06/2022).

Setelah bertemu, Rengganis meminta Ki Santang untuk membuatkan danau, dengan pulau kecil di tengahnya. Daratan kecil itu, kemudian diberi nama Pulau Sasuka atau lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan Pulau Asmara.

Ada mitos yang mengatakan, siapa yang ingin hubungannya langgeng, datangilah Batu Cinta dan kelilingi Pulau Asmara. Dibalut dengan cerita rakyat yang menarik, wisata alam di Situ Patenggang, menjadi tidak pernah sepi. Banyak muda mudi yang mengunjungi tempat ini, berharap hubungannya dilanggengkan dengan orang terkasih.

Seperti apa kisahnya? Berikut ulasan singkat Cerita Pagi. Berawal dari zaman Kerajaan Pajajaran. Keponakan Prabu Siliwangi yang bernama Ki Santang, menjalin cinta dengan seorang gadis ayu dan cantik bernama Dewi Rengganis.

Konon, Ki Santang disebut-sebut memiliki ilmu yang tinggi dan sakti. Dia lalu diangkat menjadi tangan kanan Raja Pajajaran. Ketika cinta Ki Santang dengan Dewi Rengganis sedang membara, tiba-tiba datang panggilan tugas.

Prabu Siliwangi memerintahkan Ki Santang, untuk pergi ke medan perang. Saat itu, Kerajaan Pajajaran sedang berperang dengan Kerajaan Larang. Ki Santang pun tidak bisa menolak perintah. Dia lalu berangkat ke medan pertempuran.

Sebelum berangkat, Ki Santang tidak lupa menitipkan Dewi Rengginas kepada kedua sahabatnya, yakni Senopati Layung dan Senopati Agor, untuk selalu menjaga kekasih hatinya itu. Perjalanan perang Ki Santang berlangsung lama. Dalam mimpinya, Dewi Rengganis mendapatkan wangsit jika ingin bertemu dengan Ki Santang, dia harus menyepi di sebuah situ.

Dia lalu menuju ke sebuah batu yang berada di tepi Situ Patenggang dan menyepi. Setelah perang selesai, Ki Santang kembali dengan selamat. Dia lalu mencari kekasihnya Dewi Rengganis dan berhasil menemukannya di Situ Patenggang. Mereka lalu meluapkan rindu, dan sayangnya di atas batu tepi Situ Patenggang.

Dalam cerita yang lain, dalam pertemuan itu Dewi Rengganis menangis bahagia bertemu Ki Santang. Air matanya mengalir dan menetes hingga ke tanah, lalu membentuk Sungai Rengganis yang cukup besar di Patengan.

Kata Patengan sendiri, disebut-sebut berasal dari kata pateangan-teangan yang berarti saling mencari antara Ki Santang dengan Dewi Rengganis. Adapun batu tempat Dewi Rengganis menyepi, kini disebut batu cinta.

Sedang tempat Dewi Rengganis dan Ki Santang memandu kasih, kini disebut sebagai Pulau Sasaka atau Asmara.

Masyarakat sekitar banyak yang percaya di Pulau Sasaka adalah sebuah masjid yang kerap muncul. Sehingga, selain digunakan tempat wisata, Pulau Sasaka juga kerap digunakan masyarakat sekitar sebagai tempat ziarah. (Uli)

loading...