Mitos Perang Dunia II yang Masih Dipercaya Hingga Hari Ini

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 10 November 2019

Indolinear.com, California – Perang Dunia II adalah salah satu peristiwa paling akbar dalam sejarah manusia. Pertempuran ini secara mendasar mengubah dunia secara drastis. Efeknya pun masih dapat dirasakan di banyak tempat sampai hari ini.

Selain itu, Perang Dunia II juga bisa dibilang sebagai perang yang paling banyak dibicarakan, karena banyak masyarakat di negara-negara yang terlibat dan terdampak pertempuran masih membahas tentang mitos di baliknya.

Bahkan walaupun sudah lebih dari tujuh dekade sejak Perang Dunia II dinyatakan berakhir, sejumlah mitos masih hidup di tengah khalayak ramai, seperti 5 berikut ini, dikutip dari Liputan6.com (08/11/2019).

  1. D-Day

Invasi Normandia –juga dikenal sebagai D-Day– selalu dikenang sebagai “Amerika Serikat yang memukul mundur Jerman”. Sejauh ini, penyerbuan lintas samudra tersebut merupakan penyerangan yang paling masif dalam sejarah.

Penyergapan itu adalah operasi besar-besaran yang bertujuan mengambil sebagian wilayah Eropa yang diduduki Nazi dan secara luas dianggap sebagai titik balik perang.

Selain negara-negara sekutu yang bertempur di Eastern Theater, hampir semua pihak pada zaman itu ikut andil di dalamnya dan menganggap diri mereka sebagai pemenang.

Meskipun merupakan operasi gabungan, Invasi Normandia sampai sekarang masih disebut sebagai ‘milik’ AS, bahkan di negara lain.

Pada kenyataannya, meskipun kontribusi AS terhadap penyerbuan itu penting, namun AS sama sekali tidak memimpin pendaratan di Normandia.

Ada Inggris yang menyediakan sumber daya pertempuran selama invasi. Kapal perang Inggris lebih banyak daripada kapal perang AS, yakni 4:1.

Sebanyak 31% pasokan untuk invasi datang dari Inggris, serta dua pertiga dari 12.000 pesawat sekutu yang dikerahkan. Sebagian besar pemimpin militer yang memimpin keseluruhan operasi juga orang Inggris.

  1. Bom Hiroshima dan Nagasaki Bukan yang Terburuk di Jepang

Banyak mitos yang tumbuh di masyarakat tentang bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia II. Sejarah mencatat banyak hal mengenai penyerangan kontroversial ini.

Sebagian pihak percaya bahwa penjatuhan bom harus dilakukan untuk membuat Jepang menyerah. Namun, beberapa sejarawan berpendapat penggunaan bom semacam itu adalah pembunuhan yang berlebihan.

Terlepas dari ambiguitas historis mengenai apakah bom itu dibutuhkan atau tidak, peristiwa di Hiroshima dan Nagasaki juga merupakan awal dari era baru senjata nuklir –sesuatu yang mempengaruhi politik global hingga hari ini.

Meskipun bisa dipastikan bahwa penggunaan bom atom pasti akan menewaskan banyak orang, terutama warga sipil, tetapi ada serangan bom lain di Jepang yang efeknya bahkan sama buruk dengan bom atom.

Ialah bom pembakar, serangan bom paling merusak dalam sejarah Negeri Sakura yang konon juga ditujukan pada warga sipil. Serangan ini diperburuk oleh penemuan napalm (bensin beku-kental untuk mengisi bom pembakar) baru-baru ini.

Lebih dari 500.000 silinder penuh napalm dan petroleum jeli dijatuhkan di rumah-rumah kayu dan kertas di bagian kota yang paling padat penduduk: Tokyo.

Menurut beberapa perkiraan, lebih dari 100.000 warga sipil sengaja dibakar hingga mati dalam satu malam. Pasca-serangan, lebih dari satu juta orang dilaporkan cacat dan satu juta lainnya kehilangan tempat tinggal.

Di Negeri Matahari Terbit kini, serangan bom pembakar masih selalu diingat sebagai peristiwa lebih tragis ketimbang bom atom. Banyak sejarawan setuju bahwa itu seharusnya masuk ke dalam tuduhan kejahatan perang.

  1. Kavaleri Polandia Tidak Pernah Terjadi

Salah satu kisah yang paling sering diulang dari Perang Dunia II adalah tentang pasukan berkuda Polandia di Panzer Kaserne (instalasi militer AS di Boblingen, Jerman, bagian dari US Army Garrison Stuttgart).

Kavaleri itu disebut-sebut sebagai kavaleri terakhir dalam sejarah militer dan bukti umum tentang keunggulan pasukan berkuda Polandia.

Namun, keberadaan kavaleri Polandia disebut tidak pernah benar-benar eksis, bahkan jika mereka dikenal sebagai salah satu pasukan berkuda terbaik di dunia.

Mitos mengenai kavaleri Polandia konon disebarkan oleh Nazi dalam upaya untuk menggambarkan Polandia sebagai pejuang yang buruk, jauh dari keberanian dan kegagahan.

Di satu sisi, perlawanan Polandia memainkan peran besar dalam emansipasi banyak daerah yang dikuasai Nazi di seluruh Eropa. Mereka juga berkontribusi besar bersama pasukan sekutu yang mengalahkan Nazi, meskipun keikutsertaan mereka kini terlupakan.

  1. Dimulai pada 1939?

Umunya, semua diberi tahu bahwa Perang Dunia II dimulai dengan invasi Nazi dan pendudukan Polandia pada 1939. Itulah yang diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia, kecuali untuk sekolah-sekolah di negara-negara yang perangnya sudah berkecamuk sejak lama sebelum 1939.

Namun, beberapa sejarawan mengatakan bahwa menempatkan permulaan perang sekitar tahun 1939 adalah pandangan yang agak Eropa-sentris.

Pada kenyataannya, banyak konflik lain yang dianggap sebagai bagian dari Perang Dunia II, yang dimulai jauh lebih awal dari 1939.

Akan tetapi, itu semua bergantung pada ahli yang Anda tanyakan. Ada yang menyebut pertempuran sudah berlangsung sejak 1931, ketika Jepang menginvasi Manchuria.

Ada pula yang mengatakan Perang Dunia II berlangsung pada 1937, ketika Italia menginvasi Ethiopia. Namun, sebagian besar sejarawan non-Eropa dan Amerika setuju pertempuran ini tidak terjadi pada lebih dari 1937, ketika Jepang menginvasi daratan China dalam salah satu penyerbuan paling brutal dalam sejarah.

  1. Jumlah Korban Holocaust Adalah 6 Juta

Holocaust adalah bagian paling mengerikan dari Perang Dunia II. Pembunuhan sistematis terhadap enam juta orang Yahudi di seluruh wilayah yang dikuasai Nazi membuat dunia tercengang ketika perang berakhir.

Akibat dari genosida tersebut, banyak resolusi internasional dibentuk, yang menjanjikan bahwa tragedi semacam itu tidak akan pernah terulang lagi di masa-masa pasca-perang.

Namun, yang kerap kita lupakan dalam penghitungan “enam juta kematian” itu adalah bahwa orang-orang Yahudi bukanlah satu-satunya target rezim Adolf Hitler.

Kamp-kamp konsentrasi adalah bangunan yang agak inklusif, menampung berbagai macam orang yang tidak disukai Nazi. Korban Holocaust jauh lebih tinggi jika menilik isi tahanan lain di kamp tersebut, ​​seperti faksi politik yang berseberangan dengan Nazi, Soviet POWs, gipsi (bangsa Rom), Polandia, homoseksual, dan Serbia.

Menurut beberapa perkiraan, bangsa Rom kehilangan 70 hingga 80 persen populasi di Eropa akibat Holocaust. Meskipun Top Tenz tidak memiliki angka pasti tentang jumlah total kematian, para sejarawan menetapkan angka bulat akibat Holocaust berada di kisaran 15 hingga 20 juta. (Uli)

INDOLINEAR.TV