Mitos Gunung Semeru, Merapi dan Slamet Jika Meletus

FOTO: okezone.com/indolinear.com
Kamis, 9 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Banyak mitos yang berkembang di Tanah Air, terutama di Pulau Jawa. Salah satunya berhubungan dengan gunung.

Dylan Wash dalam tulisannya berjudul ‘Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Gunung’ menyatakan bahwa setiap daerah di Jawa mempunyai kepercayaan sendiri terhadap gunung yang ada di daerahnya.

Termasuk pula, jika gunung-gunung tersebut meletus. Dilansir dari Okezone.com (08/12/2021), berikut beberapa mitos gunung api di Jawa jika meletus yang diketahui masyarakat.

1.Gunung Slamet

Gunung Slamet membentang antara 5 kabupaten di Jawa Tengah, yakni Banyumas, Brebes, Purbalingga, Pemalang, dan Cilacap.

Menurut artikel ‘Studi Perbandingan Aktivitas Gunung Slamet: Periode Krisis 2019 dengan Erupsi 2014’, Slamet merupakan gunung api tipe strato dan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa, setelah Gunung Semeru.

Adapun ketinggian Gunung Slamet adalah 3.432 meter di atas permukaan laut.  Gunung Slamet mempunyai bentuk lereng yang cukup teratur. Meskipun belum pernah mengalami erupsi, namun Gunung Slamet pernah beberapa kali menunjukkan peningkatan aktivitasnya, seperti yang terjadi di tahun 2014 dan 2019.

Ada satu hal menarik terkait Gunung Slamet jika kelak mengalami erupsi. Melansir jurnal ilmiah kependidikan bertajuk ‘Juru Kunci Gunung Slamet: Biografi Warsito’, letusan Gunung Slamet akan membelah Pulau Jawa menjadi 2 bagian.

Kemungkinan itu dipicu munculnya rekahan besar yang berada dari utara hingga ke selatan. Dengan begitu, air laut akan mengalir masuk dan menyatu. Mitos ini terus menjadi buah bibir masyarakat, khususnya bagi para pendaki.

Di sisi lain, kepercayaan tersebut juga dikaitkan dengan lamaran salah seorang Raja Kediri, Jayabaya, yang mengatakan bahwa suatu saat Pulau Jawa akan terbelah. Sementara itu, untuk menghormati dan menghibur penguasa Slamet, masyarakat setempat biasanya melakukan tradisi Ruwat Bumi.

Seperti yang dilakukan oleh warga Karang Reja, Kabupaten Purbalingga.  Biasanya, warga memberikan sesajen berupa hasil bumi, wedang teh, wedang kopi, dan wedang jembawuk. Harapannya, mereka dapat terhindar dari letusan Gunung Slamet dan memperoleh keselamatan, ketenteraman serta keberkahan.

  1. Gunung Semeru

Gunung Semeru baru saja erupsi pada 4 Desember 2021. Akibatnya, puluhan orang tewas, puluhan orang lainnya hilang, dan ribuan orang mengungsi. Gunung Semeru juga tak lepas dari beberapa mitos.

Semeru dikenal dengan sebutan ‘Paku Jawa’ pemberian para dewa. Tujuannya, agar Pulau Jawa tidak lagi terombang-ambing di tengah lautan.  Dalam Kitab Panggelaran, disebutkan bahwa Semeru dibawa oleh Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.

Setelah erupsi ini, banyak pihak yang kemudian menghubungkannya dengan pandangan Jayabaya yang mengatakan, akan datang satu masa penuh bencana, mulai dari gunung-gunung akan meletus. Secara lengkap ia meramalkan:

“Banyak kejadian dan peristiwa alam maupun dalam kehidupan masyarakat manusia yang luar biasa. Musim penghujan tidak teratur dan sering datang dengan curah hujan tinggi, hingga tidak ada curah hujan sama sekali. Gempa bumi sering terjadi dan menelan banyak korban jiwa manusia, ternak, dan harta benda, demikian juga sering terjadi fenomena alam misterius yakni terjadinya gerhana bulan, dan gerhana matahari”.

  1. Gunung Merapi

Gunung berapi lain di Pulau Jawa yang juga sarat akan mitos adalah Gunung Merapi. Secara geografis, gunung ini berada di Sleman, DIY. Masih segar dalam ingatan, Gunung Merapi pernah mengalami erupsi besar pada 2010.

Data yang dihimpun BNPB yang dituangkan dalam laporan ‘Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi’, erupsi pertama Merapi terjadi pada 25 Oktober 2010. Setelahnya, erupsi terjadi secara beruntun hingga November 2010.

Dalam erupsi ini pula, sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, tewas tersapu awan panas di rumahnya. BNPB mencatat, total korban tewas dalam bencana ini sebanyak 227 orang di wilayah DIY dan 109 orang di Jawa Tengah.

Ada satu mitos yang dipercaya warga setempat ketika erupsi Merapi terjadi. Menurut artikel ‘Mitologi Gunung Merapi Sebagai Kearifan Masyarakat Dalam Memahami Erupsi Merapi di Wilayah Cangkringan, Sleman, Yogkakarta,’ erupsi Merapi dipercaya bahwa gunung tersebut sedang duwe gawe atau punya hajat.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat akan hukum pinasti atau takdir. Artinya, mereka yang meninggal, cedera, dan kehilangan harta karena erupsi Merapi, dipandang sebagai sebuah takdir. Meskipun sawah, hewan ternak, dan ladang mereka hancur akibat erupsi, namun masyarakat percaya bahwa Merapi akan menggantinya dengan berlipat ganda. (Uli)