Misteri Kematian Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, Sakit atau Dibunuh?

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 25 Agustus 2019

Indolinear.com, Paris – Napoleon Bonaparte meninggal dunia pada 5 Mei 1821. Sebagai orang yang diasingkan. Napas penghabisan ia embuskan di Pulau Saint Helena di sebelah selatan Samudra Atlantik, jauh dari Prancis, tanah air yang ia cintai.

Empat tahun di pengasingan, kondisi kesehatannya menurun drastis. Ada yang tak beres dengan perut Sang Kaisar Prancis, dari gejalanya, ia diduga sakit maag atau bahkan kanker.

Beberapa bulan sebelum hidupnya tamat, Napoleon Bonaparte dalam kondisi tak berdaya. Ia tak sanggup bangun dari tempat tidur, tubuhnya kian melemah dan payah.

Dokter pribadinya, Barry O’Meara, telah memperingatkan London bahwa kondisi kesehatan Napoleon yang menurun terutama disebabkan oleh perlakuan kasar yang ia terima.

Patah hati, Napoleon Bonaparte — pemimpin militer dan politik Prancis, salah satu panglima perang terhebat dalam sejarah, sang penakluk Eropa — mengurung diri selama berbulan-bulan di kediamannya yang lembap dan jauh dari layak di Longwood.

Napoleon meninggal setelah melakukan sakramen pertobatan di hadapan Pastor Ange Vignali. Kata-kata terakhirnya adalah: France, l’armée, tête d’armée, Joséphine — Prancis, tentara, panglima, Joséphine. Nama terakhir yang ia sebut di penghujung napas adalah istrinya yang paling dicintai.

Mahligai pernikahan Bonaparte dengan janda bernama Josephine itu tak berjalan mulus.

Meski ia dinyatakan mangkat karena sakit. Wasiat yang ia ucapkan pada awal April 1821 memicu syak wasangka.

Ini isi wasiat Napoleon Bonaparte dilansir dari Liputan6.com (23/08/2019):

“Aku berharap, abu jenazahku disebar di tepian Sungai Seine, di tengah-tengah orang Prancis yang sangat saya cintai. Aku mati sebelum waktunya, dibunuh oleh oligarki Inggris dan para pembunuh bayarannya.”

Meski meminta jasadnya dipulangkan ke Prancis, wasiat Napoleon tak dituruti pihak Inggris yang mengasingkannya.

Pemerintah Britania Raya memutuskan, Napoleon Bonaparte harus dimakamkan di Pulau Saint Helena, di Valley of the Willows.

Baru pada 1840, 19 tahun setelah kematiannya, Raja Prancis Louis Philippe I mendapat izin dari Inggris untuk mengembalikan jasad Napoleon ke Prancis.

Pada 15 Desember 1840, sebuah pemakaman akbar digelar, iring-iringan kereta jenazah yang membawa jasad sang kaisar berangkat dari Arc de Triomphe ke Champs-Élysées, melintasi Place de la Concorde ke Esplanade des Invalides, menuju kubah Kapel St Jérôme.

Di sanalah, hingga kini, jasad Napoleon Bonaparte disemayamkan.

Teori Konspirasi Kematian Napoleon

Penyebab kematian Napoleon Bonaparte menjadi sumber perdebatan, bahkan memicu teori konspirasi.

Dokternya, François Carlo Antommarchi, yang memimpin otopsi menyimpulkan, penyebab kematiannya adalah kanker perut — sama seperti mendiang ayah Napoleon.

Antommarchi, yang tak menandatangani dokumen otopsi, juga menemukan bukti adanya gejala maag. Kesimpulan seperti itu yang diharapkan Inggris. Pihak London tak mau menghadapi hujan kritik karena dianggap tak peduli dengan kesejahteraan Napoleon.

Namun, pada 1955, buku harian mantan pelayan Napoleon, Louis Marchand dipublikasikan. Ia mendeskripsikan hari-hari terakhir mantan pemimpin Prancis itu.

Buku harian tersebut mendorong ilmuwan asal Swedia, Sten Forshufvud pada 1961 menulis makalah yang dimuat pada jurnal Nature.

Ia menyajikan alternatif penyebab kematian Napoleon Bonaparte: keracunan arsenik yang disengaja.

Pada masa itu, arsenik kerap digunakan untuk meracuni seseorang, karena tak terdeteksi jika diberikan dalam jangka panjang — mungkin lewat wine atau makanan yang dikonsumsinya.

Forshufvud dan rekannya Ben Weider, dalam buku yang dipublikasikan pada 1978 mencatat bahwa jasad Napoleon ditemukan terjaga dengan baik ketika dipindahkan pada tahun 1840.

Mereka mengatakan, arsenik adalah pengawet yang kuat. Jasad yang masih dalam kondisi baik dianggap mendukung hipotesis bahwa Napoleon Bonaparte tewas diracun.

Sebuah artikel yang Patrick Kintz pada 2007 juga mendukung hipotesis itu. Ahli toksologi itu mengatakan, jenis arsenik yang ditemukan pada serpihan rambut Napoleon adalah mineral yang paling beracun.

Benarkah Napoleon Bonaparte diracun?

Pada 2008, sebuah studi dilakukan untuk menjawab misteri itu. Para peneliti mengambil sampel rambut Napoleon — tak hanya setelah meninggal, tapi juga periode lain dalam hidupnya.

Ilmuwan juga mengambil sejumlah sampel dari keluarganya dan orang-orang yang hidup sezaman dengannya.

Berdasarkan penelitian, semua sampel memiliki adar arsenik yang tinggi, sekitar 100 kali lebih tinggi dari rata-rata saat ini. Menurut para peneliti , tubuh Napoleon sudah terkontaminasi arsenik saat masih kecil. Bukan lantaran disengaja. Orang-orang kala itu secara terus-menerus terkontaminasi arsenik , misalnya dari lem, atau atau pewarna rambut.

Studi yang dipublikasikan pada 2007 dan 2008 menepis bukti keracunan arsenik, dan mengkonfirmasi bukti adanya ulkus peptikum dan kanker lambung sebagai penyebab kematian.

Para peneliti tak menemukan indikasi keracunan arsenik dalam data historis. Misalnya, pendarahan dalam jantung.

“Saya pikir, hasil penelitian itu akurat,” kata Owen Connelly, penulis sejumlah buku tentang Napoleon sekaligus dosen sejarah di University of South Carolina.

“Hal yang sama membunuh ayahnya dan salah satu saudara perempuannya, Pauline,” tambah dia. (Uli)