Misteri Di Balik Kematian Adolf Hitler Mulai Terkuak

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 4 Mei 2020

Indolinear.com, Jakarta – Tanggal 1 Mei 1945 pukul 9.30 malam, Radio Hamburg membuat sebuah pengumuman penting bagi warga Jeman.

Pengumuman itu didahului oleh musik karya Richard Wagner, composer favorit pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

“Pemimpin besar kita, Sang Führer, Adolf Hitler, gugur sore ini di pos komando di kantor kanselir di Reich C dalam peperangan untuk Jerman,” kata penyiar pukul 10:20 malam.

Pengumuman resmi ini diragukan banyak pihak.

Besoknya Harian New York Times menulis: pemerintahan Nazi dipenuhi dusta, dan pengumuman itu bisa jadi salah satu dusta terbesar mereka.

Koresponden koran ini di Jeman melaporkan, “Bekas tahanan politik Jerman yang saya temui tidak percaya informasi itu, Mereka curiga ini tipuan saja”.

Seiring pendudukan Uni Soviet terhadap Berlin berbagai versi soal kematian ini muncul, terkadang saling bertentangan, dilansir dari Tribunnews.com (03/05/2020).

Tanggal 3 Mei 1945, Tentara Merah Uni Soviet melaporkan bahwa Hitler dan Menteri Propaganda Joseph Goebbels tewas bunuh diri di bunker pemimpin Nazi di kantor Kementrian Luar Negeri di Berlin.

Di hari yang sama, stasiun radio di Paris mengaku menerima laporan bahwa Hitler terbunuh malam 21 April sesudah bertikai dengan para jenderalnya terkait soal melanjutkan atau menghentikan perang.

Kantor berita Jepang Domei melaporkan Hitler meninggal dalam serangan artileri Uni Soviet di kediamannya.

Laporan kantor berita UP mengutip bekas pejabat tinggi kementrian luar negeri yang yakin Hitler meninggal lantaran pendarahan otak beberapa hari sebelum ia dibawa ke Berlin.

Di laporan itu sang bekas pejabat memperkirakan, “Anda bisa pastikan, jenazah Hitler tak akan ditemukan”.

Upaya untuk menemukan jenazah memang tak membawa hasil.

Tanggal 4 Mei, media Soviet menyatakan Tentara Merah gagal masuk ke kantor kanselir – yang merupakan kantor resmi Hitler – karena gedung itu terbakar dan nyaris runtuh.

Dua hari kemudian, Soviet mengaku menemukan sejumlah jenazah di kantor kanselir itu tapi tak ada Hitler atau Goebbels di antaranya.

Dua minggu kemudian, intelijen Soviet mengabarkan Hitler dieuthanasia tanggal 1 Mei oleh seorang dokter bernama Morel, karena sakit yang tak tertahankan.

Dari Berlin hingga Argentina

Hingga bulan Juni 1945, pihak berwenang Uni Soviet melaporkan jenazah Hitler belum ditemukan, dan ada spekulasi ia masih hidup.

Laporan mulai bermunculan bahwa Hitler terlihat di berbagai tempat.

“Hitler dilaporkan menjadi seorang pertapa di gua dekat Danau Garda di Italia utara. Laporan lain bilang ia jadi penggembala di Pengunungan Alpen di Swiss. Ada lagi laporan bahwa ia jadi seorang dealer di sebuah kasino di Evian, Prancis. Katanya ia terlihat di Grenoble, di St. Gallen (Swiss) bahkan di pantai Irlandia,” tulis sejarawan Ada Petrova dan Peter Watson di buku “Hitler’s Death”.

Bulan Juli 1945, pihak berwenang AS mencegat sebuah pesan yang menyatakan Hitler tinggal di satu rumah di arena pertanian di Argentina, 700 kilometer dari ibu kota Buenos Aires.

Laporan ini sampai ke Direktur FBI, Edgar J. Hoover, yang mengabaikannya.

Sepuluh tahun kemudian, laporan dari kantor CIA di Venezuela menyebut seorang bekas prajurit SS mengaku bertemu Hitler di Kolombia.

Mereka menyertakan foto sang prajurit bersama orang yang diduga sebagai Hitler, sekalipun kantor CIA itu tak bisa memastikan keaslian foto.

Tipuan Soviet

Jadi apa sebenarnya yang terjadi pada Hitler?

Sesudah sukses menyerbu Berlin bulan April 1945, kekuatan Soviet menguasai jalur pelarian Führer dari kantor kanselir Jerman.

Tanggal 2 Mei, unit kontra intelijen Soviet – yang dikenal dengan nama Smersh – menutup taman dan bunker di Kementrian Luar Negeri yang menjadi pos bagi pemimpin Nazi sejak bulan Januari, saat pasukan Tentara Merah mulai masuk ke Polandia menuju Jerman.

Pencarian jenazah dilakukan dengan kerahasiaan tinggi, menurut sejarawan Anthony Beevor.

Bahkan Marshal Georgy Zhúkov, komandan pasukan Soviet yang menyerang Berlin, tak boleh masuk dengan alasan “lokasi tidak aman”.

Menurut Beevor, pencarian dan identifikasi mayat ini diikuti dengan sangat seksama oleh Moskow.

“Pemimpin Soviet Josef Stalin mengirim seorang jenderal dari NKVD (sebelum namanya berganti jadi KGB) untuk mengawasi identifikasi ini. Si jenderal punya sambungan khusus ke Kremlin dengan pengacak kode untuk laporan langsung,” kata Beevor dalam artikel yang ia terbitkan di The New York Times.

Tanggal 5 Mei agen Smersh menemukan jenazah Hitler dan tunangannya, Eva Braun, dikubur di sebuah lubang di taman kantor kanselir.

Lubang itu terbongkar oleh bom yang jatuh di situ.

Jenazah itu disiram bensin dan sebagian terbakar.

Sulit untuk mengenali jenazah Hitler. Maka ketika tiba di kamar mayat, rahang jenazah dicabut untuk dikenali giginya.

Ini bisa dilakukan beberapa hari kemudian ketika Soviet berhasil menemukan Käthe Heusermann, asisten dokter gigi Hitler yang memberi catatan medis Sang Führer.

Dari catatan itu dipastikan bahwa yang ditemukan itu memang jenazah Hitler.

Kemudian tahun 1973, kajian forensik gigi yang dilakukan oleh Dokter Reidar F. Sognnaes dari UCLA School of Dentistry (California) dan Ferdinand Ström dari University of Oslo, memastikan bahwa jenazah itu memang Adolf Hitler.

Dari makam ke makam

Jika Soviet tahu sejak awal, kenapa mereka membiarkan berbagai spekulasi soal kematian Hitler?

“Strategi Stalin adalah mengasosiasikan Barat dengan Nazisme, dan memberi kesan bahwa Inggris dan Amerika menyembunyikan hal itu,” tulis Beevor di bukunya Berlin, the Fall of 1945.

Moskow punya keunggulan untuk mempertahankan versi mereka. Bulan Mei hingga Juli 1945 mereka menguasai Berlin sepenuhnya.

Mereka juga menahan orang-orang yang selamat dari bunker perlindungan, termasuk juru kamera pribadi Hitler, Heinz Linge; asisten lapangannya Otto Günsch dan pilot pribadi Hans Baur.

Guna mempertahankan rahasia, Soviet diam-diam menahan Käthe Heusermann, perawat gigi yang membantu mengidentifikasi jenazah Hitler.

Jenazah Hitler tetap berada di unit Smersh yang menemukannya. Setiap kali unit itu berpindah, jenazah itu ikut bersama mereka.

Jenazah ini sempat dimakamkan di hutan di pinggiran Berlin, kemudian di kota Rathenow di negara bagian Brandenburg, dan akhirnya di markas yang dibangun Soviet tahun 1946 di Magdeburg.

Baru pada tahun 1968 lewat sebuah buku yang ditulis oleh Lev Bezymenski jurnalis dan agen intelijen Soviet yang ikut dalam serbuan Berlin, rincian arsip Moskow soal Hitler – termasuk otopsinya – bisa dipublikasikan.

Baru tahun 2009, kepala dinas rahasia Rusia FSB (pengganti KGB), Vasily Khristoforov, melaporkan jenazah Hitler dikremasi tahun 1970 dan abunya dibuang ke Sungai Biederitz.

Langkah ini direkomendasikan Direktur KGB ketika itu, Yuri Andropov, sesudah Uni Soviet menyerahkan kendali markas mereka di Magdeburg kepada Jerman Timur.

Menurut penjelasan Khristoforov, kremasi Hitler dilakukan untuk mencegah makam Hitler dijadikan pemujaan bagi kelompok Nazi.

Moskow tetap menyimpan rahang dan gigi Hitler di kantor FSB, serta potongan tengkoraknya di kantor arsip negara.

Racun atau peluru?

Laporan yang dibuat sejarawan Hugh Trevor-Roper bulan November 1945 menyatakan Hitler bunuh diri sekitar pukul 3:30 sore tanggal 30 April 1945, bersama dengan kekasihnya Eva Braun, yang ia nikahi sehari sebelumnya.

Hitler bunuh diri dengan menembakkan pistol ke dalam mulutnya, sementara Eva menelan kapsul sianida.

Versi ini dipertanyakan di buku Bezymenski yang juga menyebutkan jenazah Hitler “tak lengkap di bagian tengkorak”.

Wartawan Jean-Christophe Brisard dan Lana Parshina diberi akses tahun 2016 oleh pemerintahan Vladimir Putin kepada arsip negara Rusia dan arsip intelijen terkait kasus ini.

Mereka mengatakan potongan gelas ditemukan di gigi Hitler yang menandakan ia menelan sianida, sekaligus mempertanyakan kebenaran Hitler mati dengan tembakan.

Dalam wawancara tahun 2018 dengan koran Times of Israel, Parshina melaporkan Hitler memperlihatkan tanda penyakit Parkinson di hari akhir hidupnya.

Maka ia ragu apakah Hitler mampu menembak diri sendiri dengan tangannya dalam keadaan demikian.

Brisard menekankan bahwa mereka tak menemukan jejak peluru di mulut Hitler.

Sekalipun ia tak menutup kemungkinan Hitler meminta orang kepercayaannya – seperti asisten dan juru kamera pribadinya Heinz Linge – untuk menembaknya sesudah minum racun.

Versi lain menyatakan ia bunuh diri dengan minum racun, lalu menembak kepalanya sendiri di pelipis.

Namun, secara umum para ahli setuju bahwa jenazah yang ditemukan pasukan Soviet di lubang memang jenazah Hitler.

Mereka juga meragukan keterangan Radio Hamburg pada tanggal 1 Mei, bahwa Hitler meninggal pada hari itu, dan ia tak gugur dalam peperangan. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

Berita Menarik Lainnya