Menyetrika Payudara, Praktik Kekerasan Terhadap Perempuan Afrika Yang Jarang Disorot

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 16 Juni 2021
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – “Hanya ada sedikit penelitian yang dilakukan atau perhatian diberikan pada penyetrikaan payudara, praktik berbahaya, terutama dilakukan pada anak perempuan dan perempuan di beberapa bagian Afrika selatan Sahara,” jelas praktisi hak-hak asasi manusia, Frikjesus Amahazion, melansir dari Merdeka.com (15/06/2021).

Amahazion mengungkapkan bahwa dari banyak kekerasan terhadap perempuan, kasus setrika payudara lebih sedikit mendapatkan perhatian. Hal itu berbeda dengan kasus pernikahan anak, mutilasi alat kelamin perempuan, dan lain-lain. Pembahasan itu diungkapnya melalui penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Global Health.

Praktik penyetrikaan payudara dilakukan untuk membuat dada anak perempuan di awal pubertas rata. Para ibu yang memiliki anak gadis di usia remaja menyetrika dada puteri mereka yang sedang tumbuh dengan batu, palu, spatula logam, atau kayu yang sudah dipanaskan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan si anak dari ‘perhatian yang tak diinginkan’ para pria.

Frikjesus mengatakan, Badan Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan mencantumkan penyetrikaan payudara sebagai salah satu dari ‘lima cerita yang kurang dilaporkan terkait dengan kekerasan berbasis gender’. Masih marak terjadi, namun jarang menjadi sorotan.

Praktik Setrika Payudara yang Menyakitkan dan Berbahaya

Praktik setrika payudara umumnya melibatkan pukulan berulang, menekan, menyetrika, menggosok, atau memijat payudara dengan bantuan objek keras atau panas untuk menghentikan pertumbuhan payudara.

Praktik tersebut dapat mencakup penggunaan berbagai benda, seperti batu gerinda yang dipanaskan, wajan besi, sendok, palu, alu atau spatula kayu, sendok, sapu, atau setrika listrik. Benda lain yang sering pula digunakan antara lain buah hitam, tempurung kelapa, kulit pisang raja, dan daun atau tanaman tertentu yang dipercaya berkhasiat obat atau penyembuhan.

Setrika payudara juga dapat berupa membungkus atau mengikat perban dengan ketat. Selain itu, bisa menggunakan kompres elastis, kain, atau ikat pinggang di sekitar dada si perempuan.

Demi Menghindari Birahi Lelaki

Praktik setrika payudara diyakini akan menghindarkan perhatian pria dan pada akhirnya melindungi para perempuan muda dari pelecehan seksual, penyerangan, eksploitasi, dan pemerkosaan atau penyakit menular seksual.

Dada yang menonjol dianggap bisa menimbulkan birahi kaum lelaki. Jadi dengan dada yang rata para wanita akan terhindar dari pelecehan dan tampak lebih terhormat. Para ibu nekad menyetrika dada putri mereka sendiri karena mereka tak ingin putri mereka menarik perhatian kaum pria pada usia dini dan mengalami kehamilan di luar nikah.

Dilakukan oleh Keluarga Sendiri

Penyetrikaan payudara biasanya dilakukan oleh kerabat keluarga perempuan. Mereka adalah ibu, saudara perempuan, bibi, nenek, pengasuh, atau wali perempuan lainnya yang kemungkinan juga menjadi korban tradisi ini di masa muda. Umumnya, praktik ini dijaga sebagai rahasia antara anak perempuan dan ibu mereka atau wali lainnya.

Frikjesus mengatakan, kadang-kadang praktik tersebut dilakukan oleh bidan atau dukun yang dapat memberi mereka penghasilan tetap. Mereka yang dapat melakukan itu mendapatkan status sosial yang lebih tinggi.

Sampai saat ini, data dan studi empiris tentang penyetrikaan payudara sangat langka, sehingga prevalensi umum terkait perkara ini juga terbatas.

Tradisi yang Masih Subur di Sejumlah Negara Afrika

Frikjesus mengungkapkan sejumlah negara yang masih mempraktikkan penyetrikaan payudara, yaitu Burkina Faso, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Pantai Gading, Guinea-Bissau, Guinea-Conakry, Kenya, Nigeria, Togo, Afrika Selatan, dan Zimbabwe.

Ia menyebut, sebuah studi nasional pada 2005 yang dilakukan di Kamerun memperkirakan bahwa sekitar 25 persen anak perempuan dan perempuan telah menjalani prosedur tersebut. Selain itu, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa menyetrika payudara berkorelasi dengan agama, suku, kekayaan, atau pendidikan formal.

Selanjutnya, Frikjesus berharap perhatian yang lebih besar terhadap penyetrikaan payudara sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran dan melindungi hak dan kepentingan anak perempuan dan perempuan dengan lebih baik. Ia menyarankan kesetaraan gender harus dipromosikan dan norma, nilai, keyakinan, dan sikap patriarki yang mengakar kuat yang mendasari menyetrika payudara harus ditentang dengan tegas. (Uli)