Menlu Retno Marsudi Memimpin Sidang Komisi Bersama Pertama Indonesia-Kuwait

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 5 September 2019

Indolinear.com, Kuait – Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memimpin sidang komisi bersama (SKB) yang pertama digelar dengan Kuwait, di Kuwait City, pada Senin (2/9/2019).

Dalam pertemuan itu Menlu Retno Marsudi juga didampingi oleh Menlu Kuwait, Sheikh Sabah Khaled Al Hamad Al Sabah.

“Sidang Komisi Bersama Indonesia dan Kuwait adalah platform yang dapat digunakan untuk memperkuat kerja sama kedua negara terutama di bidang ekonomi,” ujar Retno Marsudi dalam keterangan pers yang diterima, dilansir dari Tribunnews.com (04/09/2019).

Dalam pertemuan SKB, kedua Menlu sepakat memperkuat kerja sama ekonomi antara lain bidang perdagangan, investasi dan kerja sama untuk mengirim pekerja skilled dari Indonesia.

“Perdagangan kedua negara juga perlu ditingkatkan diluar sektor minyak dan gas. Ada beberapa usulan tambahan, antara lain di bidang industri halal, ekonomi digital dan ekonomi kreatif,” jelas mantan Dubes RI untuk Belanda ini.

Di bidang investasi, Kuwait Foreign Petroleum Company Exploration Company (KUFPEC) dan Kuwait Investment Authority (KIA) menyampaikan minatnya untuk berinvestasi di sektor upstream dan downstream industri migas di Indonesia.

Nantinya, Indonesia dan Kuwait bersepakat melanjutkan perundingan perjanjian promosi dan perlindungan investasi kedua negara.

“Perjanjian ini akan memberikan kepastian dan rasa aman bagi investor kedua negara” sebut Retno Marsudi.

Terkait dengan tenaga kerja profesional, tenaga kerja profesional Indonesia sangat diminati di Kuwait khususnya di bidang kesehatan seperti perawat, tenaga ahli bidang IT, engineers di bidang migas dan juga di bidang hospitalities perhotelan, restaurant, SPA dan lainnya.

Dalam kesempatan kunjungan, telah dilakukan Indonesia Labour Market yang mempertemukan Perusahaan Pengirim tenaga Kerja Profesional dengan Perusahaan Penerima Tenaga Kerja profesional di Kuwait.

Menlu Retno Marsudi juga melakukan pertemuan dengan Putera Mahkota, Shaikh Nawaf Al-Ahmed Al-Jaber Al-Sabah dan Perdana Menteri Kuwait Shaikh Jaber Al Mubarak Al Hamad Al Sabah.

Kedua Menlu juga membahas perkembangan situasi di Kawasan dan global yang menjadi kepentingan bersama, seperti isu Palestina.

Dalam pertemuan Sidang Komisi Bersama ke-1 ini telah ditandatangani 4 perjanjian atau MoUs antara kedua negara yaitu fasilitas bebas visa kunjungan singkat bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas, kerja sama pendidikan dan training diplomatik, kerja sama di bidang riset dan pendidikan tinggi, serta pengembangan minyak dan gas.

Kuwait adalah salah satu mitra energi terbesar Indonesia, dengan nilai impor migas dari Kuwait mencapai $ 214 juta (2018).

Nilai perdagangan kedua negara mencapai lebih dari $ 403 juta (2018). (Uli)