Menjadi Perias Jenazah, Gadis Ini Senang Bukan Kepalang

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Sabtu, 8 Agustus 2020
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Menjadi makeup artist untuk jenazah bukanlah hal yang umum bagi kalangan anak muda. Namun, ini berbeda bagi wanita berusia 20 tahun, Song Jia Wen. Dia memilih untuk menjadi perias jenazah.

Dikutip dari Dream.co.id (06/08/2020), Jia menekuni pekerjaan ini sejak duduk di bangku SMA.

Dirinya juga telah bergabung di industri pemakaman dan mengabdikan dirinya untuk merias wajah orang yang sudah meninggal.

Saat usia Jia masih 15 tahun, dirinya tinggal di Johor Bahru. Ketika itu, ia sedang menonton film dokumenter tentang makeup artist asal Taiwan yang bekerja sebagai perias jenazah.

Film dokumenter tersebut memunculkan kesan tersendiri sehingga membuatnya tertarik pada profesi tersebut.

Kakak laki-laki Jia bekerja untuk industri pemakaman di bidang penjualan. Jia akhirnya masuk ke industri pemasaran pemakanan dan bekerja sebagai pegawai paruh waktu saat duduk di bangku sekolah menengah. Disinilah ia memulai karirnya sebagai perias jenazah.

Berlatih Jadi Makeup Artist Jenazah

Setelah lulus SMA, Jia memutuskan untuk berlatih menjadi makeup artist untuk jenazah secara profesional dan dirinya berhasil menyelesaikan pelatihannya.

” Sangatlah berarti untuk saya dapat membantu jenazah beristirahat dengan tenang dan memuaskan pihak keluarga (orang yang ditinggalkan) melalui tangan saya,” kata Jia pada Sin Chew Daily.

Dia juga amat senang karena kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh atas profesi yang dipilihnya.

” Ibu awalnya tidak setuju dengan pekerjaan paruh waktu ketika masih SMA dulu. Setelah saya lulus, saya memutuskan untuk mengikuti pelatihan menjadi penata rias jenazah. Orang tua saya tidak berkomentar banyak dan berpikir bahwa pekerjaan tersebut merupakan hal yang hebat dan sakral,” kata Jia.

Siaga 24 Jam Seminggu

Jia juga bercerita bahwa dirinya harus bersiaga 24/7 dan tidak bisa berlibur. Ketika ia pergi bersama teman-temannya atau berolahraga, dia harus memastikan teleponnya selalu aktif.

” Kadang-kadang saya mendapat telepon di tengah malam. Singkatnya, saya harus selalu pergi. Orang tua saya selalu khawatir tentang keamanan mengemudi di tengah malam,” kata dia.

Jia saat ini berencana untuk melanjutkan studinya di Taiwan. Hal ini ia lakukan guna meningkatkan keterampilannya sebagai makeup artist jenazah. Meski beban kerja yang berat, ia merasa sangat berterima kasih.

” Ketika sebuah keluarga mengatakan ‘terima kasih’, semua kerja keras saya terasa tidak sia-sia,” kata dia. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: