Mengurangi Risiko Kematian Pasien Covid-19, WHO Rekomendasikan Obat Radang Sendi

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 9 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan obat radang sendi Actemra dari Roche dan Kevzara dari Sanofi dengan kortikosteroid untuk pasien Covid-19.

Rekomendasi WHO ini diambil setelah data dari sekitar 11 ribu pasien menunjukkan obat-obatan ini mengurangi risiko kematian.

Seperti dilansir dari Tribunnews.com (08/07/2021), tim WHO mengevaluasi terapi menyimpulkan merawat pasien Covid-19 yang parah dan kritis yang disebut antagonis interleukin-6 yang menghambat peradangan guna mengurangi risiko kematian dan kebutuhan ventilasi mekanis.

Menurut analisis WHO, risiko meninggal dalam 28 hari untuk pasien yang mendapatkan salah satu obat radang sendi dengan kortikosteroid seperti dexamethasone adalah 21 persen, dibandingkan dengan risiko 25 persen diasumsikan di antara mereka yang mendapat perawatan standar.

“Untuk setiap 100 pasien dengan kondisi seperti itu, empat  akan bertahan,” kata WHO.

Selain itu, risiko berkembang menjadi ventilasi mekanis atau kematian adalah 26 persen bagi mereka yang mendapatkan obat dan kortikosteroid, dibandingkan dengan 33 persen pada mereka yang mendapatkan perawatan standar.

WHO mengatakan berarti untuk setiap 100 pasien tersebut, tujuh akan bertahan tanpa ventilasi mekanis.

“Kami telah memperbarui panduan perawatan klinis kami untuk mencerminkan perkembangan terbaru ini,” kata pejabat darurat kesehatan WHO Janet Diaz.

Analisis ini mencakup 10.930 pasien, di antaranya 6.449 mendapat salah satu obat dan 4.481 mendapat perawatan standar atau plasebo.

Penelitian ini dilakukan dengan King’s College London, University of Bristol, University College London dan Guy’s and St Thomas’ NHS Foundation Trust dan diterbitkan pada hari Selasa di Journal of American Medical Association.

Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS pekan lalu mengeluarkan persetujuan penggunaan darurat untuk Actemra bagi pasien  Covid-19.

Penjualan Kevzara naik 30 persen tahun lalu, demikian laporan Sanofi.

Namun, pengujian Actemra dan Kevzara untuk pasien Covid-19 melibatkan trial and error, karena beberapa kegagalan muncul ketika perusahaan mencoba obat-obatan pada kelompok pasien yang berbeda.

WHO juga menyerukan lebih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan akses ke obat-obatan tersebut di negara-negara berpenghasilan terendah yang sekarang menghadapi lonjakan kasus Covid-19 dan varian virus, ditambah dengan persediaan vaksin yang tidak memadai.

“Mereka adalah orang-orang yang perlu dijangkau oleh obat-obatan ini,” kata Diaz. (Uli)