Mengulik Posisi Alam Semesta, Berotasi Atau Diam Di Tempat?

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 12 November 2019

Indolinear.com, Jakarta – Banyak objek ruang angkasa yang “hidup” di alam semesta, seperti planet, bintang, bulan (satelit alami dari sebuah planet), bahkan galaksi. Benda-benda ini memiliki satu kesamaan: mereka berputar. Jadi, apakah alam semesta berputar juga?

Misteri tersebut merupakan salah satu yang telah dipelajari oleh para ahli kosmologi, karena hal itu dapat memberi tahu kita tentang sifat dasar alam semesta.

“Pertanyaan semacam ini yang sangat abstrak, seperti halnya sebagian besar kosmologi, tetapi kita yang mempelajari kosmologi berpikir bahwa itu adalah cara untuk mempelajari fisika dasar,” kata Tess Jaffe, seorang astrofisikawan di University of Maryland dan asisten ilmuwan riset di Goddard Space Flight Center NASA.

“Ada hal-hal tertentu yang tidak dapat kami uji di laboratorium di Bumi, jadi kami menggunakan alam semesta dan geometri alam semesta, yang dapat memberi tahu kita sesuatu tentang fisika fundamental,” imbuhnya, seperti dikutip dari Liputan6.com (11/11/2019).

Para ilmuwan, ketika berpikir tentang sifat dasar alam semesta, memulai dengan mengasumsikan bahwa alam semesta tidak berputar dan isotropik atau terlihat sama di segala arah.

Anggapan ini sejalan dengan persamaan Einstein. Dari pemikiran tersebut, para ilmuwan membangun standar model kosmologis yang menggambarkan alam semesta.

“Dugaan tersebut benar-benar dikodekan dengan cara kita melakukan perhitungan, cara kita menganalisis data dalam melakukan banyak hal,” ujar Daniela Saadeh, seorang peneliti dari School of Physics and Astronomy di University of Nottingham, Inggris.

“Tapi kamu harus mengujinya. Kamu tidak hanya bisa berharap untuk yang terbaik,” imbuh dia.

Untuk melihat apakah asumsi tentang alam semesta dan fisika fundamentalnya benar, para periset mengumpulkan pengamatan untuk menguji model mereka.

Secara khusus, mereka menggunakan cahaya dari latar belakang gelombang mikro kosmik atau CMB. Cahaya ini adalah cahaya tertua yang dapat mereka amati –terpancar hanya 380.000 tahun setelah Big Bang– dan merupakan sumber informasi bagi ahli kosmologi yang mempelajari alam semesta.

CMB terlihat hampir identik di setiap arah, tetapi ada variasi kecil dalam suhunya, yakni hanya seperseribu derajat yang telah dipengaruhi oleh sejarah, konten, dan geometri alam semesta.

Dengan mempelajari perbedaan-perbedaan ini, para peneliti dapat melihat apakah alam semesta berputar, sehingga ini pun punya masa rotasinya. Pengukuran polarisasi cahaya juga dapat memberikan informasi tentang geometri alam semesta.

Kesimpulannya…

Sementara itu, para ilmuwan menemukan bahwa cahaya CMB tidak menunjukkan bukti bahwa alam semesta berputar. Begitu pula dengan adanya kemungkinan bahwa alam semesta adalah isotropik, yaitu hanya 120.000 berbanding 1.

Itu artinya, alam semesta akan terlihat sama di mana pun kita melihat, menurut sebuah studi tahun 2016 dalam jurnal Physical Review Letters yang dipimpin oleh Saadeh dan Stephen Feeney, ahli astrofisika di Imperial College London.

Studi lain menemukan kemungkinan 95% bahwa alam semesta homogen, yang berarti bentuk dan posisi alam semesta adalah sama, di mana pun, dalam pengamatan skala besar.

Semua riset tersebut menunjukkan bahwa alam semesta sebagian besar seragam dan tidak berputar. Kesimpulan ini adalah salah satu yang tidak mungkin berubah.

Pengukuran polarisasi CMB di masa depan mungkin akan membantu para ilmuwan untuk menambahkan data dalam penelitian ini, tetapi hasil terbaru itu kemungkinan tidak akan menampik temuan sebelumnya. (Uli)

INDOLINEAR.TV