Mengenang Sejarah Berdarah Di Bulan September

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Senin, 26 Oktober 2015
Historia | Uploader Arif
loading...

Indolinear – Barangkali banyak dari kita akan lebih mudah teringat sebuah lagu dari Green Day, Wake Me Up When September End. Mungkin ya, bagi sebagian orang lebih baik melewati bulan September yang mengingatkan mereka akan luka dan duka masa lalu. Duka dan luka ini bukan perihal putus cinta atau mantan yang sudah menikah, tapi soal luka sejarah masa silam.

Dilansir dari liputan6.com, luka yang paling mudah kita ingat adalah tentu saja peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang berbuntut panjang. Buntut yang membuat bangsa ini menghabisi jutaan warga negaranya sendiri, membuat kita trauma pada sebuah nama dengan embel-embelnya. Buntut peristiwa tersebut masih bisa kita rasakan luka dan traumanya hingga kini.

Tak hanya peristiwa 1965, luka sejarah kita kemudian menorehkan luka di bulan September tahun-tahun berikutnya. Berikut ini beberapa dari mereka yang menjadi korban di bulan September :

Yap Yun Hap

Yap Yun Hap adalah salah seorang mahasiswa Fakultas Teknik UI yang menjadi korban penembakan pada Tragedi Semanggi II. Mahasiswa aktivis yang vokal menolak Rancangan Undang-undang Keamanan Nasional ini ditembak pada 24 September 1999 ketika ketika duduk di sekitar trotoar depan Universitas Atmajaya. Suaranya yang lantang dibungkam senjata hingga akhirnya dikebumikan di TPU Pondok Rangon.

Jafar Siddiq Hamzah

Mungkin tidak banyak yang mengenal nama ini kecuali warga Aceh. Jafar adalah salah seorang pembela HAM yang aktif menyuarakan kekerasan dan intimidasi yang kerap diterima warga Aceh. Dia kemudian dilaporkan hilang pada 5 Agustus 2000 di Medan Sumatera Utara. Pendiri organisasi International Forum for Aceh (IFA) ini kemudian ditemukan sudah tak bernyawa dengan lilitan kawat berduri mengurungnya pada 2 September 2000. Mayatnya ditemukan dengan 4 mayat lainnya di sebuah jurang, di Kabupaten Tanah Karo Sumatera Utara.

Munir

Siapa tak kenal dengan nyaringnya suara sang pembela HAM ini. Sepak terjangnya dalam membela HAM sudah mendunia. Munir meninggal dengan racun arsenik yang telah menjalar di seluruh tubuhnya. Pembunuhan tersebut terjadi pada 7 September 2004 ketika Munir dalam penerbangan menuju Amsterdam untuk melanjutkan studinya.

Mungkin luka tersebut terlalu menyakitkan untuk dikenang. Tapi kita tidak bisa membiarkannya terlupa begitu saja. Kematian mereka yang telah lantang bersuara menyuarakan keadilan ini adalah luka miliki bangsa. Seperti apa yang dikatakan oleh Soekarno, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, karena dari situlah kita belajar agar tak ada luka terulang. (uli)