Mengenal Ubasute, Tradisi Membuang Orang Tua Di Jepang Untuk Meninggal

FOTO: grid.id/indolinear.com
Rabu, 12 Juni 2019

Indolinear.com, Tokyo РPernah dengar tentang Ubasute, tradisi membuang orang tua di Jepang untuk  meninggal dunia?

Ya, ternyata di negara yang tinggi akan nilai budaya seperti Jepang memiliki budaya bernama Ubasute, yakni tradisi membuang orang tua ke tengah hutan untuk meninggal dunia.

Meski terdengar melanggar nilai moral, rupanya Ubasute atau tradisi membuang orang tua di Jepang untuk meninggal ini adalah sebuah bentuk penghormatan anak kepada orang tuanya.

Peristiwa meninggal dunia adalah hal yang sama sekali tidak bisa dikontrol.

Setiap mahluk hidup yang hidup di dunia ini pasti akan mengalami peristiwa meninggal dunia.

Pada umumnya, meninggal dunia dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Salah satunya yang paling sering terjadi adalah faktor usia yang sudah tak lagi muda dan renta.

Begitu banyak tradisi dan budaya di dunia ini yang menjelaskan tentang proses kematian.

Namun di antara ribuan tradisi dan budaya tentang kematian di dunia ini, tidak ada yang bisa mengalahkan keanehan tradisi Ubasute asal Jepang.

Ubasute adalah salah satu tradisi kuno asal Jepang yang tidak diketahui masih aktif di praktekkan atau tidak.

Ubasute adalah tradisi kuno di Jepang yang memiliki arti secara harfiah ‘membuang lansia’.

Jika diartikan secara luas, Ubasute adalah tradisi kuno asal Jepang dimana para warganya yang mengalami kesulitan finansial diperbolehkan membuang orang tua mereka ke hutan untuk meninggal dunia secara perlahan.

Melansir dari Grid.id (11/06/2019), tradisi Ubasute ini dipercaya berawal dari masa kemiskinan bangsa Jepang pada tahun 1783.

Pada tahun tersebut, beberapa wilayah terpencil di Jepang seperti daerah gunung Asama mengalami panceklik yang sangat parah.

Saking parahnya panceklik yang dialami negara Jepang kala itu, banyak warga yang jatuh miskin karena gagal panen.

Tidak seimbangnya jumlah penduduk dengan rasio bahan pangan membuat keluarga-keluarga di Jepang harus mengambil langkah ekstrim untuk bertahan hidup.

Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, Ubasute adalah salah satu tradisi yang banyak dilakukan pada masa itu.

Setiap keluarga yang merasa tak mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan mereka, terpaksa harus menelantarkan salah satu anggota keluarga tertua mereka ke hutan.

Penelantaran ini hanya bisa dilakukan oleh kepala keluarga kepada anggota keluarga yang dianggap memberatkan.

Para lansia yang dipilih akan dibawa oleh anak mereka ke area terpencil seperti hutan lebat di daerah pegunungan yang jarang dilalui manusia.

Lansia ini akan dibawa dengan cara dipanggul di punggung anak-anak mereka dan ditinggalkan seorang diri di dalam hutan untuk meninggal dunia secara perlahan karena kelaparan atau hipotermia.

Salah satu tempat yang diyakini sebagai situs yang dikenal sebagai tempat praktiknya tradisi ini adalah hutan lebat di kaki Gunung Fuji, Aokigahara.

Meskipun terdengar diluar akan sehat dan melanggar nilai moral, tradisi ini dianggap sebagai salah satu penghormatan terhadap generasi lansia.

Menurut legenda yang beredar, para lansia yang ditelantarkan ke hutan ini pun tahu betul apa yang dilakukan anak kepada mereka.

Proses penelantaran ini dianggap sebagai bentuk penghormatan terakhir sang anak kepada orang tua yang tak ingin meninggal dunia sebagai beban keluarga.

Sampai detik ini masih menjadi misteri apakah tradisi kuno seperti Ubasute ini benar-benar nyata terjadi atau hanya mitos semata.

Namun sampai detik ini masih banyak kasus kematian di Jepang yang terjadi karena ditelantarkan keluarga.

Kasus kematian akibat ditelantarkan terbanyak terjadi pada generasi lansia di Jepang usia 60-80 tahun.

Biasanya kasus ini menimpa pada para lansia yang sudah tak memiliki keluarga atau ditelantarkan oleh keluarganya sendiri.

Kasus ini biasa disebut dengan sebutan Kodokushi atau secara harfiah adalah ‘meninggal dunia seorang diri’.

Saking banyaknya kasus ini, pemerintah Jepang pun sampai membuat perusahaan khusus yang menangani kasus-kasus kematian seperti ini.

Kemiripan kasus kematian ini dengan tradisi Ubasute membuat publik menjadi apatis apakah benar tradisi ini hanyalah sebuah mitos semata. (Uli)