Mengenal Syaikhu Dan Agung, Dua Jago PKS Calon Wagub DKI

FOTO: cnnindonesia.com/indolinear.com
Kamis, 7 Maret 2019

Indolinear.com, Jakarta – Dua nama dari Partai Keadilan Sejahtera dijagokan untuk menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta menggantikan Sandiaga Uno yang maju dalam Pilpres 2019. Sesuai kesepakatan dengan Gerindra, nama yang akan diajukan untuk mendampingi Anies adalah tokoh PKS.

Dua nama tersebut adalah Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto. Dua nama ini juga telah menjalani uji kepatutan dan kelayakan dua parpol pengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Pilkada DKI 2017 lalu.

Namun hingga kemarin, Anies Baswedan belum menerima dua nama itu. Anies hanya sudah membuat blanko kosong yang siap diisi nama calon dari PKS dan Gerindra.

Nama Syaikhu mungkin sudah tak asing lagi. Pernah jadi Wakil Wali Kota Bekasi, Syaikhu juga pernah maju di Pilkada Jawa Barat sebagai calon Wakil Gubernur berpasangan dengan Sudrajat.

Karier Syaikhu dimulai sebagai auditor yang ditempatkan di kawasan Sumatera Selatan setelah lulus dari Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN).

Karier strukturalnya pun lalu meningkat sehingga ditempatkan di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Pusat.

Setelah meniti karier sebagai auditor, Syaikhu mulai masuk jalur politik. Di politik dia bergabung dengan PKS, dan jabatan tertingginya dalam struktur partai tersebut adalah menjadi Ketua DPW PKS Jabar. Namun, saat memutuskan turut dalam Pilgub Jabar, Syaihu pun mundur dari kursi Ketua DPW PKS tersebut.

Dalam peta politik, Syaikhu pernah menjadi anggota DPRD Bekasi yang terpilih dari Pemilu 2004. Ia juga sempat menjadi anggota DPRD Jabar yang terpilih dari pemilu 2009, di mana ia di sana diberi tugas pula sebagai Ketua Fraksi PKS.

Pada 2013, Syaikhu mendampingi Rahmat Effendi memimpin kota Bekasi setelah menang dalam Pilkada.

Tim Uji Kepatutan dan Kelayakan, Ubedilah Badrun menyatakan Syaikhu memiliki sejumlah kelebihan. Pertama, Syaikhu memiliki modal yang kuat di bidang pemerintahan.

“Syaikhu itu mampu mengambil keputusan-keputusan karena mungkin latar belakangnya sebagai eksekutor. Dia terlihat mudah untuk memilih kebijakan,” kata Ubedilah, dilansir dari Cnnindonesia (05/03/2019).

Syaikhu juga dianggap tidak terlalu canggung dan memiliki keyakinan soal visi. Ia mampu berbaur juga dengan birokrasi secara mudah sehingga menimbulkan suasana yang cair.

Sementara untuk nama Agung Yulianto selama ini belum banyak muncul di pemberitaan media. Ia selama ini dikenal sebagai Sekretaris Umum DPW PKS DKI Jakarta.

Serupa Syaikhu, Agung pun jebolan STAN dan memulai kariernya sebagai auditor dan sempat berdinas di BPKP Pusat.

Setelah menghentikan kariernya di BPKP, Agung kini dikenal sebagai pengusaha.

Ubedilah menilai Agung memiliki kemampuan untuk menerjemahkan setiap visi menjadi suatu program.

“Menurunkan visi kepada program dan mengimplementasikan dengan kegiatan. dia orang yang mau capai dan kerja keras,” kata Ubed.

Selama fit and proper test, kata Ubed, Agung terlihat menonjol di bidang ekonomi. Dia dinilai mampu menguasai isu perekonomian terutama peta ekonomi di Jakarta. Agung juga dipandang sebagai orang yang terbuka saat ujian.

“Dia memahami pola keuangan pemerintah dan mampu di eksekutor di ekonomi. Penguasaan detail tentang peta ekonomi juga terlihat pada diri Agung,” ujar Ubedilah.

Antara Kebutuhan dan Hasil

DKI Jakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia dianggap menjadi kota panutan bagi kota lain. Dengan stigma demikian, daerah khusus ini pun butuh seorang pemimpin yang memiliki ritme kerja yang kuat dan bisa mengimbangi perubahan.

“Itu kenapa saya bilang kalau bisa Wagub itu harus muda dan harus milenial. Karena ini Jakarta yang banyak perubahannya,” kata Ubedilah.

Wagub juga harus mampu mendukung gubernur yang memiliki tugas segudang. Dan, wagub harus bisa mengikuti perubahan yang sangat besar di ibu kota negara tersebut

“Jadi harus bisa bergerak cepat saya kira. Membawa Jakarta terus menjadi lebih baik,” ujar Ubed.

Di samping itu, Ubed menceritakan dinamika masa uji kepatutan dan kelayakan yang menurutnya sangat baik. Secara umum, Ubed menganggap keduanya pantas untuk menduduki DKI-2.

“Menarik sekali. Dua-duanya sama-sama jujur ya mereka itu terpelajar secara pendidikan dan pengalaman juga tidak bisa dibohongi,” katanya.

Untuk ke depannya, Ubedilah menyampaikan agar setidaknya partai harus tetap memikirkan kepentingan Jakarta ketimbang kepentingan partai.

“Saya kira masyarakat berhak mendapatkan Wagub yang kompeten ya. Kiranya masyarakat bisa mendapatkan wagun yang terbaik. Dua-duanya sama-sama baik,” tutup dia. (Uli)