Mengenal Sosok Mahasiswi Yang Meninggal Dan Wisudanya Digantikan Ayahnya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 6 Maret 2019

Indolinear.com, Jakarta – Masih tergambar jelas dalam ingatan Bukhari (57), saat putrinya, Rina Muharami terbujur kaku di atas ranjang ruang intensive care unit (ICU) RSUD Meuraxa, Banda Aceh sejak Kamis, 24 Januari 2019. Rina divonis menderita tifus stadium akhir.

Mahasiswi Prodi Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry ini mulai tak sadarkan diri atau koma sejak 3 Februari 2019. Dua hari kemudian, tepatnya tanggal 5 Februari, Rina menghembuskan napas terakhir, meninggalkan keluarga, serta mimpi-mimpinya mengenakan baju toga dan topi wisuda.

Di mata Bukhari, Rina adalah sosok yang tabah dan penyabar. Selain rajin beribadah, gadis kelahiran 16 Mei 1996 ini sering mengisi waktu luang dengan mengajar mengaji anak-anak di sekitar rumahnya di Desa Cot Rumpun, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar.

“Paling sayang sama anak kecil. Siang kuliah, malam mengajar mengaji di balai. Ada juga yang khusus minta diajarin ke rumah,” ungkap Bukhari dilansir dari Merdeka.com (04/03/2019).

Di hari-hari terakhir sebelum masa opname, gadis kelulusan SMAN 2 Unggul Ali Hasjmy itu sudah tidak mampu lagi beribadah. Dia juga tidak lagi berpuasa, seperti yang sering dilakukannya.

“Nanti, saya juga mau tanya ke tengku bagaimana baiknya, atau apa kita bayar fidiahnya, mungkin. Karena, puasa juga dia ada tinggal, nanti saya mau tanya ke tengku,” kata Bukhari.

Saat terbaring sakit, Rina masih sempat bercengkerama dengan keluarga. Rina sama sekali tidak memberi tanda-tanda atau pun berucap pesan sebelum berpulang ke haribaan Sang Pencipta.

“Tidak ada keluhan. Masih sempat ngomong dengan saya. Tidak ada tanda-tanda apa-apa. Tidak membebani orang tua dan orang lain. Mungkin dia sudah ada tanda-tanda, tapi tidak mau diungkapkan ke orang lain,” ucap Bukhari, dengan nada masygul.

Begitulah, Rina pergi dengan meninggalkan sebongkah kenangan, dan sebuah map berisi surat tanda kelulusan (SKL) yang saat ini disimpan oleh kedua orang tuanya. Ijazah itu menjadi bukti, anak mereka telah menjadi seorang sarjana, seperti harapan mereka empat tahun yang lalu, ketika Rina pertama kali menginjakkan kaki di kampus. (Uli)