Mengenal Sejarah Masjidil Haram, Tempat Tersuci Umat Islam

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Rabu, 6 Mei 2020

Indolinear.com, Jakarta – Masjidil Haram adalah sebuah masjid yang berlokasi di pusat kota Mekkah yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam.

Masjid ini juga merupakan tujuan utama dalam ibadah haji.

Masjid ini dibangun mengelilingi Ka’bah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah salat.

Masjid ini juga merupakan masjid terbesar di dunia, diikuti oleh Masjid Nabawi di Madinah al-Munawarah sebagai masjid terbesar kedua di dunia serta merupakan dua masjid suci utama bagi umat muslim, dilansir dari Tribunnews.com (05/05/2020).

Luas keseluruhan masjid ini mencapai 356800 m2 dengan kemampuan menampung jemaah sebanyak 820.000 jemaah ketika musim haji dan mampu bertambah menjadi dua juta jemaah ketika salat Id.

Sejarah

Sejarah masjid ini tidak lepas dari sejarah Kak’bah pada masa Nabi Ibrahim ‘alayhissalam.

Allah mengatakan, dalam Surah Ali Imran ayat 96, bahwa Masjidil Haram merupakan masjid pertama yang dibangun di muka bumi.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran: 96)

Pasca dibangunnya Ka’bah, sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan, seluruh umat muslim maupun non muslim berbondong-bondong menuju Ka’bah untuk beribadah.

Hal ini membuat Raja Abrahah di Yaman geram, dan membuat tandingan Ka’bah, berupa gereja “Al Qullais”.

Karena jemaah haji tidak mau berkunjung ke Al Qullais tersebut, Abrahah pun semakin geram, dan memutuskan bersama pasukan gajahnya menyerbu Ka’bah.

Warga Mekkah yang tidak siap dan minim persenjataan, hanya bertawakal pada Allah dengan melihat penyerangan tersebut dari bukit-bukit di sekitar Ka’bah.

Sesampainya di depan Ka’bah, pasukan gajah Raja Abrahah itu dihujani bebatuan yang sangat panas, sehingga membuat badannya terluka dan mati.

Bebatuan tersebut dibawa sekelompok burung ababil atas perintah Allah ta’ala.

Sekelompok burung Ababil tersebut, masing-masing membawa tiga batu kecil, satu di paruhnya, dan dua lagi di kakinya.

Allah telah menyebutkan kejadian tersebut dalam Al Qur’an, pada surat Al Fiil ayat 1-5.

Fase Pembangunan

Ulama sekaligus ahli sejarah Arab Saudi, Wahab bin Munabbih berkata: “Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, kemudian ‘Amaliqah, kemudian Jurhum, kemudian Qushai bin Kilab dari kabilah Quraiys.

Mereka orang-orang Quraisy membangun Ka’bah dari bebatuan yang berasal dari lembah yang mereka pikul dipundak mereka, tinggi bangunan mencapai 20 hasta.

Jarak antara bangunan Ka’bah dan perintah membangunnya selama 5 tahun, dan antara pintu keluar dan bangunannya selama 15 tahun.

Ada kisah yang terkenal ketika kaum Qurays tersebut membangun Ka’bah, ketika sampai di pojok (tempat hajar aswad) mereka berselisih siapa yang lebih berhak untuk mengembalikannya?

Sampai satu sama lain dari mereka beradu argumen lalu salah satunya berkata: “Kami sepakat untuk memberikannya kepada seseorang yang pertama kali mendatangi jalan ini.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali mendatanginya, ia pada saat itu masih seorang pemuda, mereka sudah menjadikannya hakim (penentu) untuk memutuskan peletakan hajar aswad.

Maka Rasulullah meletakkan kainnya, dan meyuruh ketua setiap kabilah untuk memegang tiap ujung kain tersebut, mereka pun mengangkat kain tersebut untuk dibawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaulah yang meletakan hajar aswad tersebut pada tempatnya.

Arsitektur

Secara historis, pembangunan besar-besaran pada masa Turki Usmani itu antara lain terjadi pada tahun 979 H/ 1571 M, ketika Sultan Salim al-Utsmani memugar bangunan masjid secara total dan bangunan ini sebagian tetap ada sampai sekarang dan dikenal secara internasional dengan bangunan Usmani.

Sebelumnya, Sultan Salim sudah memerintahkan arsitek Turki kenamaan Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidilharam secara keseluruhan, yang kukuh, megah dan artistik.

Sinan lalu mengganti atap masjid yang rata dengan kubah, lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya. Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur masjid-masjid modern.

Pada masa ini juga dibuat atap-atap kecil berbentuk kerucut yang masih dapat kita lihat hingga renovasi besar-besaran pada tahun 2013-2016 ini. Bentuk dasar bangunan Masjidilharam hasil renovasi Kesultanan Usmaniah itulah yang dapat dilihat saat ini.

Hanya saja pada bagian utara masjid sudah terbongkar untuk perluasan kawasan tawaf.

Pada tahun 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Makkah dan sekitarnya, mengakibakan kerusakan pada Masjidilharam dan Ka’bah.

Pada masa kekuasaan Sultan Murad IV tahun 1629, Ka’bah dibangun kembali dengan batu-batu dari Makkah, sedangkan Masjidilharam juga mengalami renovasi kembali.

Karya Sinan di Masjidilharam mengesankan jutaan muslim yang setiap tahun berhaji dari tahun ke tahun, sehingga melahirkan jenis baru seni yang kemudian dikenal dengan sebagai arsitektur Islami.

Tembok

Pada zaman Rasulullah, Ka’bah tidak memerlukan tembok yang mengelilinginya. Sampai pada zaman sahabat menjadi klahifah, tembok tersebut dibutuhkan.

Pertama kali dinding yang mengelilingi Ka’bah dibangun pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Kebijakan tersebut diambil oleh Umar disebabkan banyak rumah-rumah warga sekitar yang terus mendekati Ka’bah, maka Umar berkata: “Sesungguhnya Ka’bah ini adalah Baitullah, dan setiap rumah harus memiliki halaman, dan bangunan kalian semua telah memasuki halaman Ka’bah, bukannya halaman Ka’bah yang memasuki rumah kalian”.

Umar pun membeli rumah-rumah yang berdekatan dengan Ka’bah dan menghancurkannya untuk memperluas halaman Ka’bah.

Bagi sebagian warga yang menolak untuk dibeli Umar tetap menghancurkan rumah-rumahnya dengan tetap menyediakan ganti ruginya agar bisa dimanfaatkan pada saatnya nanti.

Beliau membangun dinding tanpa pondasi dan meletakkan lampu di atasnya.

Kemudian pada masa Utsman juga membeli rumah-rumah yang lain dengan harga yang lebih mahal tentunya, bahkan diriwayatkan bahwa beliau yang pertama kali memberinya atap pada saat ada perluasan masjid.

Sedangkan pada masa Ibnu Zubair beliau mendetailkan (memperindah) bangunannya dan tidak memperluasnya, ia memberinya tiang yang berhias batu marmer, dan memperindah pintunya.

Setelah itu pada masa Abdul Malik bin Marwan ia menambahkan tinggi dinding masjid, dan membawakan pagar dari Mesir lewat laut ke Jeddah dan dari Jeddah segera dibawa ke Makkah dan menyuruh Hajjaj bin Yusuf untuk memolesnya.

Ketika al Walid bin Abdul Malik memimpin ia menambahkan perhiasan Ka’bah, dan merubah pancuran dan atapnya.

Setelah itu Manshur dan anaknya Mahdi naik menjadi khalifah, keduanya juga menambah keindahan masjid.

Di dalam Masjidil Haram terdapat beberapa situs diniyah, yaitu maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, ialah batu tempat pijakan kaki beliau ketika membangun Ka’bah.

Demikian juga sumur zam-zam ia adalah mata air yang Allah ta’ala keluarkan untuk ibunda Hajar dan anaknya Isma’il alaihis salam ketika keduanya sedang kehausan.

Di Masjidil Haram juga terdapat hajar aswad, yang berasal dari bebatuan surga, demikian juga Maqam Ibrahim.

Sebagaimana hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr berkata: Saya mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Sesungguhnya pojok (hajar aswad) dan maqam Ibrahim adalah batu mulia yang berasal dari bebatuan surga, yang Allah hilangkan cahayanya, andai saja tidak dihilangkan maka keduanya akan menyinari seluruh ufuk timur dan barat”. (HR. Tirmidzi)

Keutamaan dan hukum

Bagi umat Muslim, Masjidil Haram memiliki beberapa keutamaan yang membuatnya menjadi sebuah masjid paling penting dalam agama Islam, yaitu:

  • Merupakan tempat pertama yang digunakan untuk beribadah di muka bumi
  • Merupakan tempat atau lokasi kunjungan paling utama dalam ibadah haji dan umrah
  • Sebelumnya umat Muslim pernah mengarahkan kiblatnya ke Baitulmaqdis ke Masjidil Haram. Seluruh umat Islam diperintah untuk memalingkan wajahnya atau hatinya ke arah Masjidil Haram di mana pun berada, hal ini di perkuat dengan Surah Al-Baqarah ayat 149 dan 150. Perintah ini hampir sama derajatnya dengan perintah Allah yang lain seperti hal melakukan salat, zakat, puasa, haji sebagai wujud hati yang terikat dan ingat kepada Allah dalam segala hal duniawi ini.
  • Merupakan masjid yang dibangun paling awal di muka bumi
  • Merupakan masjid paling utama di antara tiga masjid, yakni Masjid Nabawi, Masjid al-Aqsa serta Masjidil Haram itu sendiri.
  • Melaksanakan salat di Masjidil Haram akan mendapatkan seratus ribu kali lipat kebaikan dibanding melaksanakan salat di masjid lain, kecuali Masjid Nabawi dan Masjidilaqsa. Satu kali salat di Masjid Nabawi sama dengan 1.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjidilaqsa. Adapun satu kali salat di Masjidilaqsa sama dengan 250 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
  • Satu-satunya masjid yang diberikan jaminan keamanan oleh Allah, siapapun yang memasuki masjid akan merasa selamat dan aman.
  • Merupakan tanah atau tempat di bumi yang dicintai Allah.
  • Tidak dapat dimasuki oleh Dajal atau Almasih palsu, karena dijaga oleh ribuan malaikat.
  • Tempat yang diselamatkan saat pasukan bergajah mengadang yang akan menghancurkan Ka’bah dan Masjidil Haram.

Hukum

  • Mekkah merupakan yang tidak diizinkan dimasuki oleh penduduk selain muslim, terutama Masjidil Haram karena menurut Alquran, orang musyrik adalah najis sehingga tidak diizinkan dimasuki kota Mekkah.
  • Tidak diizinkan membunuh atau berperang, kecuali memerangi di wilayah Masjidil Haram

Tidak diperbolehkan memotong tumbuhan yang ada di kota Mekkah, utamanya di sekitaran Masjidil Haram (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

Berita Menarik Lainnya