Mengenal Perbedaan Rem Cakram Dengan Tromol, Manakah Yang Terbaik?

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 2 Januari 2022

Indolinear.com, Jakarta – Terdapat dua model rem yang biasanya digunakan pada kendaraan bermotor, yaitu rem cakram dan rem tromol. Rem cakram terdiri dari piringan dan kaliper, sedangkan rem tromol tertutup menyerupai drum jika dilihat dari luar.

Pada dasarnya, rem cakram bekerja dengan cara menggenggam piringan yang berputar. Sementara rem tromol menggunakan sepasang kampas rem yang bergesekan dengan permukaan drum saat pedal rem diinjak.

Dengan cara kerja yang berbeda, mana yang lebih baik? Melansir dari Liputan6.com (31/12/2021), masing-masing tipe mempunyai kelebihan dan kelemahannya tersendiri.

Rem cakram unggul karena desainnya yang cenderung lebih terbuka dibandingkan rem tromol. Desain ini membuat proses pendinginan rem, baik piringan maupun kampas rem, lebih optimal dan cepat.

Karena itu rem cakram kerap digunakan untuk roda depan mobil atau motor. Hal ini dilakukan karena rem depan kendaraan bekerja lebih keras, terutama saat kendaraan berada di kecepatan tinggi.

Bahkan untuk aplikasi mobil atau motor balap, seluruh sistem pengereman menggunakan cakram dengan penggunaan bahan seperti ceramics dan carbon fiber untuk mengurangi panas dan bobot.

Selain itu, bentuk rem cakram yang terbuka mempermudah akses untuk melakukan servis, sekaligus memeriksa kondisinya.

Hanya saja model rem ini punya kelemahan. Rem cakram cenderung lebih mahal untuk diproduksi dan diservis. Sistem pengereman ini juga lebih rentan terkena kotoran yang dapat mengganggu kinerja pengereman.

Terakhir, lantaran kampas rem tidak menutupi cakram, daya pengereman tidak sekuat tromol dan cenderung lebih cepat aus karena metode penjepitan membuat penekanan kampas menjadi besar.

Rem Tromol

Sementara untuk rem tromol, keunggulan berada di daya pengereman yang lebih kuat, lantaran kampas rem di dalamnya lebih besar dibanding rem cakram. Hal ini membuat rem tromol cocok untuk roda belakang, sekaligus sebagai rem parkir.

Drum brakes juga mempunyai desain tertutup dan lebih konvensional. Artinya, rem tromol lebih jarang kemasukan kotoran yang dapat menganggu kinerja pengereman. Selain itu harga lebih terjangkau, serta bisa menopang bobot lebih berat seperti bus dan truk.

Namun desain rem tromol sendiri memiliki berbagai kelemahan. Dengan desain yang tertutup, panas dari proses pengereman tidak mudah didinginkan. Hasilnya, setelah beberapa kali melakukan hard braking, kendaraan akan terasa bergetar.

Tidak hanya itu, panas akibat pengereman juga bisa membuat lempengan drum memuai dan cairan di dalamnya menguap. Dengan demikian, pengemudi harus menginjak pedal rem lebih dalam karena kinerja pengereman menjadi kurang optimal.

Penggunaan rem ini juga dinilai lebih kompleks saat diperiksa. Berbeda dengan rem cakram, di dalam drum brakes terdapat banyak parts yang perlu diperhatikan. Konsekuensinya, rem tromol membutuhkan waktu lebih lama untuk diservis. (Uli)