Mengenal Gories Mere, Jenderal Perintis Densus Pernah Dikirim Bom

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Sabtu, 5 Desember 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Beberapa waktu lalu, empat tokoh Indonesia sempat mendapat ancaman pembunuhan dari sekelompok orang. Keempat tokoh ini merupakan Menkopolhukam Wiranto, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Budi Gunawan dan Staf Khusus Presiden bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere.

Dari keempat tokoh, nama Gories Mere yang mencuri perhatian. Sebab, purnawirawan KepalaPelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) ini juga pernah menjadi target pemboman. Paket bom tersebut ditemukan pada tahun 2011 silam. Penasaran dengan Gories Mere, Jenderal perintis Densus yang pernah dikirim bom serta diancam dibunuh?

Melansir dari Merdeka.com (03/12/2020), simak ulasan informasinya berikut ini.

Rekam Jejak

Datuk Komjen Pol. (Purn.) Gregorius “Gories” Mere lahir pada 17 November 1954 di Flores Timur. Gories merupakan seorang purnawirawan perwira tinggi Polri. Seperti dikatakan sebelumnya, Gories pernah menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2009-2012. Pria asal Flores ini juga dikenal sebagai perintis Detasemen Khusus 88 (Anti Teror) Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Gories Mere telah pensiun dari Kepolisian pada tanggal 1 Desember 2012 dengan pangkat Komisaris Jenderal Polisi. Akan tetapi, Presiden Joko Widodo mengangkat Gories Mere sebagai Staf Khusus Presiden bidang intelijen serta Keamanan sejak Juni 2016 lalu. Tak heran memang sebab, Jenderal perintis Densus ini dikenal berpengalaman dalam bidang reserse dan intelijen, khususnya Terorisme dan Narkotika. Sebelumnya, Gories adalah pria lulusan Akademi Kepolisian tahun 1976.

Riwayat Pendidikan, Karier & Penghargaan

Adapun riwayat pendidikan Datuk Komjen Pol. (Purn.) Drs. Gregorius “Gories” Mere adalah sebagai berikut:

Akademi Kepolisian (AKABRI) 1976

Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) 1986

Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespimpol) 1992

Sekolah Staf Komando (Sesko) ABRI 1998

Combat Intelligence & Counter Disaster Course, Royal Military College of Science Swindon, Inggris

Kemudian riwayat karier Jenderal perintis Densus yakni:

Kasat Serse Umum Polda Metro Jaya

Kapolres Metro Jakarta Timur

Direktur Reserse Polda Metro Jaya

Direktur Reserse Polda Jawa Barat

Irwasda Polda Nusa Tenggara Timur

Wakil Kapolda Nusa Tenggara Timur

Kepala Detasemen Khusus 88 (Anti Teror)

Direktur IV Narkoba Badan Reserse Kriminal

Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal 2005-2008

Pjs. Kalakhar BNN (2008)

Kepala Asosiasi Lembaga-lembaga Anti Narkotika se-Dunia

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional 2009-2012

Komisaris PT Darma Henwa Tbk. (2013-Sekarang)

CEO Hendropriyono Strategic Consulting (2013-Sekarang)

Staf Khusus Presiden bidang Intelijen dan Keamanan (2016)

Sejumlah penghargaan juga pernah diterima oleh Gories Mere. Berikut penghargaan-penghargaan yang diperoleh Datuk Komjen Pol. (Purn.) Drs. Gregorius “Gories” Mere:

Honorary Award in Order of Australia (HAOA) dari Pemerintah Australia (penghargaan atas kinerjanya saat Bom Bali 2002).

Gelar Datuk (Darjah Panglima Jasa Negara) Juni 2010, dari Yang Dipertuan Agong Malaysia Tuanku Mizan Zainal Abidin atas jasanya dalam membangun hubungan erat antara Indonesia-Malaysia

Penghargaan Direktur Central Intelligence Agency, diberikan langsung di CIA HQ, Fort Langley

Paket Bom Buku

Gories Melansir pada tahun 2011 pernah menjadi target pemboman. Diduga paket bom yang ditemukan pada Selasa (15/3/2011) di gedung BNN Jakarta ini ditujukan kepada Gories. Saat itu, Gories Mere masih menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN. Hal tersebut diungkapkan oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sutarman pasca ledakan bom pada Rabu (16/3/2011).

Lebih lanjut, Sutarman menjelaskan bentuk bom sama seperti di Utan Kayu, Jakarta Timur. Daya ledak bom tersebut juga masih tergolong rendah. Tak hanya itu, pelaku pengirim bom juga memiliki ciri-ciri yang sama dengan pengirim paket bom di Utan Kayu. Untuk waktu pengiriman, paket bom dikirim terlebih dahulu ke Utan Kayu sekitar pukul 10.00 WIB, baru setelahnya ke kantor BNN.

“Paket bom yang ditemukan mirip dengan di Utan Kayu, jenis buku dan di dalamnya ada pipa. Di dalam pipa ada potasium chlorat jenis low explosive. Surat yang ada dalam paket itu sama, permintaan untuk memberikan komentar di dalam buku,” kata Sutarman.

Daftar Pembunuhan

Delapan tahun berlalu, Gories Mere kembali mendapatkan sebuah ancaman. Bedanya kali ini Gories Mere mendapat ancaman pembunuhan. Rencana pembunuhan rupanya tak hanya tertuju pada Gories Mere yang saat itu menjabat sebagai Staf Khusus Presiden bidang Intelijen dan Keamanan saja. Ada nama tokoh lainnya yang juga ikut terdaftar seperti Menkopolhukam Wiranto, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan dan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Budi Gunawan.

Skenario pembunuhan tersebut sepat terungkap oleh pihak kepolisian. Diketahui mereka yang berencana membunuh empat tokoh tersebut adalah orang bayaran. Mengejutkannya, skenario pembunuhan ini juga melibatkan seorang wanita di dalamnya. Beruntung pihak kepolisian berhasil menggagalkan rencana tersebut. Polisi akhirnya menangkap 6 tersangka yang juga melakukan jual beli senjata api (senpi) ilegal terkait kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019 di Jakarta.

Tersangka Percobaan Pembunuhan

Mereka adalah HK, AZ, IF, TJ, AD, dan wanita berinisial AF alias Fifi. Senjata api ilegal tersebut lantas akan digunakan untuk membunuh tokoh nasional dan pimpinan lembaga survei. Mereka pun sebelumnya telah melakukan survei dan mengambil foto 4 tokoh yang dijadikan target penembakan. HK diketahui berperan sebagai pemimpin sekaligus eksekutor dalam kelompok tersebut.

“Sudah digambar, di-mapping oleh mereka. Setting-nya negara ini akan goyang, tapi Allah sayang sama negara ini, kami akhirnya mengungkap kasus ini. HK ini perannya adalah leader, mencari senpi, mencari eksekutor, sekaligus menjadi eksekutor, serta pimpin tim turun pada aksi 21 Mei 2019. Jadi tersangka ini ada pada 21 Mei dengan membawa sepucuk senpi revolver taurus,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal di Kantor Kemenkopolhukan, Jakarta, Senin (27/5).

Tersangka AZ berperan sebagai perekrut eksekutor pada kerusuhan 21 Mei. dan juga eksekutor. Sementara tersangka IF hanya berperan sebagai eksekutor, TJ berperan sebagai eksekutor dan menguasai senpi rakitan laras pendek dan senpi laras panjang. AD berperan sebagai pemasok tiga pucuk senjata api rakitan terkait kerusuhan 21 Mei. Dia menjual senpi rakitan meyer, senpi rakitan laras pendek, dan senpi rakitan laras panjang senilai Rp 26,5 juta kepada HK.

“Tersangka ke enam, AF berperan sebagai pemilik dan penjual senpi ilegal revolver taurus kepada HK. Ini perempuan. Dia menerima penjualan senpi Rp 55 juta,” kata Iqbal. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:
loading...