Mengenal Cut Nyak Dhien, Singa Betina Perang Aceh

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Jumat, 30 April 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta –Kabar duka itu datang tanpa ampun. Suaminya terkepung dan mati ditembak di palagan Meulaboh. Tapi tidak ada air mata yang tumpah dari perempuan itu. Perempuan itu terlihat tegar di tengah kerumunan orang yang duduk bersila di sebuah rumah. Dengan suara parau, perempuan itu berkata lirih, “ ” Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid”

Itulah salah satu ucapan legendaris pejuang muslimah asal Tanah Rencong, Cut Nyak Dhien. Kalimat itu dia ungkapkan usai mengetahui kabar suaminya, Teuku Umar, wafat di medan perang. Sejarah akan mencatat, meski perempuan, kehadiran Cut Nyak Dhien dalam Perang Aceh mampu mengobarkan perang berlarut melawan Belanda. Kematian suami dan teman seperjuangannya itu tak membuatnya takluk. Dia malah berkembang bak singa betina terluka dari Aceh.

Lahir dari keluarga bangsawan yang taat beragama di wilayah VI Mukim, Aceh Besar tahun 1848, Cut Nyak Dhien muda mendapatkan pendidikan agama sejak dini. Bergantian orang tua dan guru agama menempa jiwanya. Ia pun tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik. Tak heran, banyak lelaki yang berniat meminangnya.

Pada usia 12 tahun, dia sudah dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari Uleebalang Lamnga XIII. Pasangan ini pun dikaruniai satu anak laki-laki, dilansir dari Dream.co.id (28/04/2021).

Sayangnya, 11 tahun berselang, meletuslah Perang Aceh. Waktu itu tahun 1873. Ibrahim Lamnga sebagai pemimpin pasukan pun harus turun bertempur. Pada perang pertama, Ibrahim mampu mengalahkan Belanda. Namun, begitu Belanda mulai menyerang daerah VI Mukim, Cut Nyak Dhien harus mengungsi bersama anaknya. Kampung halamannya porak poranda. Sementara suaminya kembali harus berhadapan dengan penjajah Belanda.

Sayang, nasib mujur tak berada pada pihak Ibrahim. Pada pertempurannya kali itu, dia harus meregang nyawa. Kejadian ini membuat hati Cut Nyak Dhien murka. Pada saat itu juga dia bersumpah: akan menghancurkan Belanda sampai tetes darah penghabisan.

Selang dua tahun kepergian suaminya, Cut Nyak Dhien dilamar pejuang asal Aceh bernama Teuku Umar. Awalnya, lamaran ini sempat ditolak Dhien. Hasratnya menghancurkan penjajah lebih besar ketimbang soal asmara. Tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut berperang, akhirnya lamaran itu pun diterima. Kedua pasangan ini kemudian terkenal sebagai pasangan maut bagi penjajah. Mereka lah pasangan pejuang dari Tanah Rencong dalam perjuangan melawan penjajah di jalan Allah, perang Fisabilillah.

Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar dikarunia putri bernama Cut Gambang. Sembari menjalani kehidupan berumah tangga, mereka terus melanjutkan perjuangan gerilya melawan penjajah. Namun, kini Teuku Umar memiliki strategi yang belum dilakukan pejuang lain. Caranya adalah masuk ke lingkungan Belanda dengan cara menjalin hubungan baik dengan para penjajah dengan berpura-pura takluk.

Saat itu, banyak rakyat Aceh menilai tindakan ini sebagai bentuk pengkhianatan. Bahkan, istrinya sempat dimaki Cut Meutia karena tindakan ” pengkhianatan” tersebut. Tidak ada yang mengetahui strategi Teuku Umar ini, baik dari pihak Aceh maupun Belanda. Hanya istrinya Cut Nyak Dhien yang tahu.

Alhasil, ketika Teuku Umar berhasil mengumpulkan senjata yang cukup bagi para pejuang Aceh dari Belanda seraya mempelajari taktik perang Belanda, ia pun berbalik arah. Teuku Umar mulai menyerang Belanda dengan senjata buatan penjajah.

Penjajah dibuat geram atas tindakan “ pengkhianatan” Teuku Umar ini. Mereka memerintahkan menangkap Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Dalam upaya itu, semua cara dihalalkan Belanda. Bahkan, rumah mereka pun habis dibakar penjajah.

Dalam persembunyianya, pasangan ini terus menekan Belanda. Jenderal-jenderal besar Belanda dibunuh satu per satu. Tidak habis akal, Belanda kemudian menyewa mata-mata lokal dari penduduk Aceh. Karena pengkhianatan mata-mata setempat itu, Teuku Umar pun gugur tertembak peluru penjajah pada tahun 1899. Ia tertembak dalam penyerangan ke Meulaboh.

Tinggallah istrinya, Cut Nyak Dhien dan anaknya, Cut Gambang. Di tengah kepiluan ditinggal sang suami dan pemimpin perang, Cut Nyak Dhien memberikan nasihat kepada anaknya agar tidak larut dalam kesedihan. Menurutnya, perjuangan belum selesai.

Bangkitnya Cut Nyak Dhien dari segala kesedihannya mengobarkan semangat kembali para pejuang Aceh. Setelah suaminya gugur, kini Cut Nyak Dhien sendiri yang memimpin perlawanan terhadap Belanda bersama pasukan kecilnya.

Dalam perjuangan gerilyanya, Cut Nyak Dhien dibantu oleh para uleebalang, datuk-datuk, serta penyair-penyair yang senantiasa membakar semangat juang masyarakat Aceh. Perang Aceh pun terus berkobar. Ribuan tentara Belanda tewas dan jutaan uang gulden  dihabiskan Belanda demi memburu Cut Nyak Dhien.

Tokoh-tokoh yang membantu perjuangan Cut Nyak Dhien di antaranya adalah Teuku Ali Baet, menantunya, yang memberikan uang dan senjata kepada rombongan. Ada pula Teuku Raja Nanta, adik Cut Nyak Dhien yang sempat berpisah dari rombongan karena kejaran Belanda, dan akhirnya mati syahid di pedalaman Meulaboh.

Pada saat itu pula terjadi perlawanan oleh Sultan Muhamammad Daud Syah dan Panglima Polim yang berjuang di daerah Pidie. Dalam perjuangan gerilyanya, pendukung setia Cut Nyak Dhien harus selalu berjaga siang dan malam. Mereka juga selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menghindari penggerebekan Belanda. Mereka juga harus jeli dari laporan para pengkhianat orang Aceh yang memberitahukan Belanda di mana posisi rombongan Cut Nyak Dhien.

Waktu terus berjalan. Cut Nyak Dhien pun mulai renta dan sakit-sakitan. Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot, diam-diam melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba melihat Dhien yang mulai sakit-sakitan dan rabun. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Sayangnya, aksi Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda.

Cut Nyak Dhien ditangkap, sementara Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Cut Nyak Dhien lalu ditahan di Banda Aceh. Di penjara, Cut Nyak Dhien masih menjalin komunikasi dan memberikan semangat perlawanan kepada pejuang yang masih bebas. Ini membuat Belanda ketakutan. Sehingga Cut Nyak Dhien lalu diasingkan dari Aceh. Dia lalu dipindahkan dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, bersama tahanan politik Aceh lainnya.

Di tempat inilah Cut Nyak Dhien tua terus berjuang meski dengan cara lain, yaitu memberikan pengajaran agama terhadap para tawanan. Dia mengajarkan membaca Al Quran. Atas kecakapannya itu, Cut Nyak Dhien dijuluki ” Ibu Perbu” yang berarti ahli dalam agama Islam. Julukan ini diberikan seorang ulama bernama Ilyas yang menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli di bidang agama.

Hingga akhir hayatnya di pengasingan, Cut Nyak Dhien mampu mengobarkan semangat bangsa Indonesia. Secara sadar ia membawa nafas Islam dalam perjuangannya. Dia selalu menjadikan perjuangan membela tanah kelahirannya dari tindakan keji para penjajah sebagai suatu ibadah.

Karena kematian pejuang, seperti ucapannya saat tahu Teuku Umar gugur,  adalah bentuk kematian terindah: mati syahid… (Uli)