Mengenal Budaya Adat, Tradisi Dan Peninggalan Bersejarah Di Kota Tarakan

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 27 Januari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Kota Tarakan merupakan sebuah Kota di Kalimantan Utara yang terletak strategis dan merupakan jalur pelayaran dan bandara Internasional serta didukung pesona budaya daerah dan peninggalan sejarah.

Dikenal sebagai Bumi Paguntaka, Tarakan memiliki keanekaragaman budaya dan destinasi wisata yang cukup beragam, dari Wisata Budaya, Wisata Sejarah, Wisata Alam, Wisata Belanja, Wisata Agro dan Wisata Kuliner yang menjadi salah satu andalan Kota Tarakan.

Pemerintah Kota Tarakan tidak pernah berhenti untuk terus meningkatkan fasilitas pendukung pariwisata. Di tahun 2020, saat pandemi melanda Indonesia kami manfaatkan untuk memperbaiki area destinasi Pariwisata, dengan begitu, upaya kami untuk terus memajukan sektor pariwisata tidak pernah berhenti meski terhambat dengan pandemi yang ada.

Kota Tarakan juga dikenal dengan kota Sejarah, karena di kota ini pertama kali tentara Jepang tiba di Indonesia. Bangunan-bangunan bersejarah peninggalan masa penjajahan masih berdiri tegak.

Berikut budaya adat, tradisi & peninggalan bersejarah di Kota Tarakan yang kesohor yang dilansir dari Merdeka.com (25/01/2021):

Balai Adat dan Budaya Tidung

Dua destinasi wisata budaya berupa rumah adat di Kota Tarakan adalah Balai Adat dan Budaya Tidung, serta Baloy Adat Mayo. Keduanya menawarkan daya tarik yang sama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama bagi para pengagum sejarah, kebudayaan dan arsitektur.

Terdapat lima bangunan dalam satu kompleks ini. Baloy Unod (rumah tengah) adalah bangunan utama yang terletak di tengah-tengah. Berdasarkan filosofi Suku Tidung, Baloy Unod adalah ruang yang pertama kali dibangun ketika membuat rumah.

Baloy Unod berfungsi sebagai ruang utama, ruang makan, dapur, sekaligus tempat berkumpul seluruh anggota keluarga. Di dalam Baloy Unod dipajang pernak-pernik seserahan yang biasa digunakan dalam upacara pernikahan Suku Tidung.

Ada juga meja panjang beserta kursi kayu yang digunakan untuk menerima tamu. Sementara, empat bangunan lainnya, Baloy Yampo (rumah raja), Baloy Delaki (rumah lelaki), Baloy Denandu (rumah perempuan) dan Baloy Rung (balairung), mengarah ke Baloy Unod. Semua bangunan terhubung satu sama lain.

Jika dinding ruang Baloy Rung dibuka akan menjadi Baloy Mayo (rumah besar) yang bisa digunakan untuk menggelar acara adat atau musyawarah besar. Adapun Baloy Mayo Adat Tidung, terletak sekira 10 km dari Balai Adat dan Budaya Tidung.

Lokasinya lebih dekat dengan Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan. Balai Adat dan Budaya Tidung berda di Jalan Sei Sesayap, Kelurahan Kampung Enam, Tarakan Timur. Rumah adat ini dibangun oleh H. Mochtar Basry Idris selaku kepala adat Suku Tidung pada 2004. Kemudian, pada 2006 Baloy Mayo diresmikan Gubernur Kalimantan Timur.

Baloy Mayo berbentuk rumah panggung dengan bahan utama kayu ulin. Di dalam bangunan utama, terdapat empat ruangan yang dikenal dengan sebutan ‘ambir’ yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.

Ambir kiri (alad kait) adalah tempat untuk menerima masyarakat yang mengadukan perkara atau masalah adat. Ambir tengah (lamin bantong) merupakan tempat pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara adat. Amir kanan (alad kemagot) difungsikan sebagai tempat beristirahat usai penyelenggaraan perkaraadat. Terakhir lamin dalom yang merupakan singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung. Baloy Mayo berada di Karang Anyar Pantai, Tarakan Bararat, Kota Tarakan.

Gelar Adat Budaya Dumud

Kota Tarakan punya tradisi yang unik dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan menggelar perayaan Adat Budaya Dumud. Puluhan seniman adat akan tampil mempersembahkan tarian, sholawat, dan mendendangkan lagu-lagu adat Tidung yang diiringi rebana.

Berbeda dari Iraw Tengkayu yang digelar di laut, Adat Budaya Dumud diselenggarakan di darat, sesuai namanya, Dumud yang berarti di darat. Perayaan maulid khas Suku Tidung dengan konsep adat ini sudah dilakukan sejak dahulu kala secara turun-temurun.

Selain membawakan sholawat Nabi, perayaan Adat Budaya Dumud juga menampilkan lagu adat yang selalu menghiasi perayaan maulid Suku Tidung sejak zaman kerajaan. Hal ini masih dipertahankan oleh masyarakat setempat untuk menjaga kebudayaan lokal.

Biasanya, pagelaran Adat Budaya Dumud dilaksanakan di malam hari di sebuah masjid besar di Kota Tarakan. Di lokasi ini, pengunjung juga bisa menikmati beragam kuliner yang dijajakan di stan-stan di areal masjid. Bukan hanya itu, pedagang pakaian dan lainnya juga bisa ditemui di sini.

Jika sedang bertepatan dengan pagelaran Adat Budaya Dumud, wisatawan bisa menikmati sejenis karnaval ini beberapa malam. Sebab, biasanya Adat Budaya Dumud dilaksanakan lebih dari satu malam. Pada 2018 lalu, Gelar Adat Budaya Dumud berlangsung dari tanggal 18 Desember hingga 22 Desember.

Iraw Tengkayu

Jika datang di saat yang bertepatan dengan hari jadi Kota Tarakan, wisatawan dapat menyaksikan Festival Iraw Tengkayu. Biasanya acara ini dilaksanakan di Pantai Amal, Kota Tarakan. Iraw Tengkayu adalah upacara tradisional, warisan adat suku asli Tidung sebagai rasa syukur atas rezeki dari Tuhan.

Iraw Tengkayu diambil dari Bahasa Tidung, Iraw berarti perayaan atau pesta, Tengkayu adalah pulau kecil yang dikelilingi oleh laut. Yang dimaksud pulau kecil di sini adalah Pulau Tarakan. Inti dari Festival Iraw Tengkayu yang sudah berlangsung secara turun-temurun ini adalah arak-arakan perahu Padaw Tuju Dulung, yaitu perahu hias yang diarak keliling kota.

Pada bagian bawah perahu dipasang beberapa bilah bambu yang digunakan oleh para pemuda untuk mengangkut Padaw Tuju Dulung. Proses pelarungan perahu Padaw Tuju Dulung atau tujuh tiang yang tertancap di atas perahu bermakna sebagai jumlah hari dalam seminggu yang dilambangkan sebagai kehidupan masyarakat dalam mencari penghidupan sehari-hari. Pada bagian tengahnya, terdapat lima tiang sebagai lambang salat lima waktu. Perahu dihias dengan warna khas suku Tidung yakni Kuning, Hijau, dan Merah.

Pelancong harus datang di waktu yang tepat karena perayaan Festival Iraw Tengkayu dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Ke depannya, Pemerintah Kota Tarakan berencana menggelar ajang ini setiap tahun. Tahun lalu, Festival Iraw Tengkayu ke-10 berlangsung selama dua hari mulai dari 21 hingga 22 Desember 2019, berdekatan dengan Hari Jadi Kota Tarakan pada 15 Desember. Acara yang digelar di Pantai Amal ini diisi dengan beragam kegiatan seperti karnaval budaya sampai pesta rakyat yang menghadirkan artis ibu kota.

Iraw ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Festival Iraw Tengkayu juga telah banyak mendapat penghargaan, seperti Anugerah Pesona Indonesia para tahun 2016 oleh Kementerian Pariwisata dan masuk ke dalam daftar 100 Calendar of Event Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Wisata Sejarah Peningki Lama

Berbagai benda peninggalan sejarah dari Perang Dunia II banyak ditemukan hampir di setiap bagian Pulau Tarakan. Salah satunya Situs Peningki Lama. Situs ini berada di Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur, Kota Tarakan.

Di situs ini masih tertinggal sejumlah benda bersejarah peninggalan Perang Tarakan yang terjadi pada 1942 dan 1945. Benda cagar budaya di Peningki Lama antara lain berupa meriam, pillbox bunker, dan gudang logistik.

Ada enam buah meriam yang memiliki spesifikasi, jenis, bentuk, bahan, dan orientasi pandang yang sama. Meriam-meriam ini diletakkan berdekatan dengan garis pantai yang bertugas untuk mengamankan pantai dan laut dari serangan musuh. Kondisi meriam secara umum masih terlihat bentuk aslinya meskipun banyak mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut dapat dilihat dari beberapa komponen meriam yang hilang dan akibat pengaruh cuaca karena posisi meriam yang berada di luar.

Di situs Peningki Lama ini ada tiga buah pillbox bunker yang kondisinya kurang lebih sama dengan meriam-meriam tadi. Pillbox bunker adalah salah satu bangunan yang lazim dipakai pada saat Perang Dunia II sebagai bangunan pertahanan yang terbuat dari tembok tebal dengan lubang jendela kecil. Fungsinya sebagai tempat persembunyian atau pertahanan yang dilengkapi dengan senjata.

Selain itu, bunker digunakan sebagai gardu pandang untuk memandang arah datangnya musuh. Ketiga pillbox itu masing-masing terletak di puncak bukit Peningki Lama, di lereng tengah dan lereng paling bawah. Sementara, gudang logistik digunakan untuk menyimpan seluruh keperluan dan logistik tentara saat berperang. Gudang logistik di situs Peningki Lama juga ada tiga buah.

Secara umum ketiga bangunan tersebut memiliki bentuk sama meski ukurannya berbeda. Bentuk gudang logistik ini pada umumnya persegi panjang dan dibagi menjadi dua ruangan.

Bagi penyuka sejarah, Situs Peningki Lama ini bisa dijadikan destinasi wisata yang memberi banyak pengetahuan selain Museum Perang Dunia II dan Perminyakan.

Museum Perang Dunia II dan Perminyakan

Kota Tarakan memiliki destinasi wisata yang lengkap. Selain wisata alam dan wisata kuliner, wisatawan juga bisa melakukan wisata sejarah di Museum Perang Dunia II dan Perminyakan. Museum ini berada di Kampung Empat, Tarakan Timur, Kota Tarakan.

Museum Perang Dunia II dan Perminyakan berdiri di kawasan Islamic Center, Kampung Empat, Kota Tarakan dengan arsitektur gedung khas Eropa. Gedung museum yang dikenal juga dengan museum kembar ini mulai didirikan pada 2017 lalu. Di dalamnya bisa ditemui jejak-jejak peninggalan Perang Dunia ke II yang terjadi di Tarakan.

Di masa itu, Pulau Tarakan memang menjadi salah satu wilayah yang menjadi incaran para penjajah karena ’emas hitam’ yang dikandungnya. Minyak bumi yang seharusnya menjadi anugerah justru menjadi musibah bagi penduduk Tarakan kala itu. Sisa-sisa kedahsyatan Perang Tarakan yang terjadi dua kali itu bisa dilihat melalui benda-benda bersejarah yang dikoleksi di museum ini.

Perang Tarakan I terjadi pada 10 Januari 1942 ketika Belanda memerintahkan evakuasi warga sipil dan penghancuran ladang-ladang minyak sebelum Jepang menguasai Tarakan. Sementara, Perang Tarakan II dimulai ketika pasukan amfibi Australia mendarat pada 1 Mei 1945.

Berbagai benda peninggalan sejarah dari Perang Tarakan banyak ditemukan hampir di setiap bagian Pulau Tarakan. Misalnya, baling-baling dan potongan sayap pesawat, peta strategi perang, peta tata Kota Tarakan tahun 1940 yang dibuat oleh Badan Intelijen Belanda di Hindia Timur, sangkur bayonet, samurai hingga sepatu tentara Jepang yang ditemukan di markas tentara Jepang.

Benda-benda bersejarah itu dikumpulkan lalu dikurasi oleh pemerintah kota di dalam salah satu gedung kembar. Sementara, di salah satu gedung kembar lainnya diperlihatkan peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan sejarah perminyakan di Kota Tarakan.

Tugu Australia

Tugu Australia merupakan salah satu bukti sejarah pergolakan politik pada Perang Dunia II di Kota Tarakan. Tugu Australia terletak di Markas Kodim 0907 Tarakan di Jalan Pulau Kalimantan atau sekitar 400 meter dari Kantor Wali kota Tarakan.

Karena lokasinya berada di dalam markas militer, wisatawan yang ingin melihat tugu tersebut harus meminta izin terlebih dahulu kepada pihak Markas Kodim 0907 Tarakan. Tugu Australia merupakan tugu peringatan yang dibangun untuk memperingati gugurnya 225 tentara Australia dari brigade 26 divisi 9 dalam pertempuran untuk membebaskan Tarakan dari pendudukan Jepang.

Di belakang tugu ini dulu merupakan makam para tentara yang gugur. Namun, atas permintaan pemerintah Australia, keseluruh makam dipindahkan ke negara asalnya.

Pada monumen, tertulis sebuah perjanjian yang berbunyi: ‘Tiang dan jeruji peringatan ini menandai pintu masuk ke pemakaman Perang Tarakan yang asli tempat 225 serdadu Australia dari brigade ke-26 divisi ke-9, Australia gugur dalam pertempuran pembebasan Tarakan dari pendudukan Jepang pada tanggal 1 Mei 1945 s/d 15 Agustus 1945. Plakat ini sebagai peringatan serta catatan resmi sejarah perjuangan mereka yang gagah berani supaya kita tidak melupakannya’.

Tugu Perabuan Jepang

Kota Tarakan cukup kaya akan situs-situs bersejarah yang bisa disambangi wisatawan penyuka. Situs-situs bersejarah di kota ini kebanyakan berasal dari tragedi Perang Dunia II yang terjadi di Tarakan pada 1942 dan 1945.

Salah satu situs yang harus dikunjungi ketika melakukan wisata sejarah di Kota Tarakan adalah Tugu Perabuan Jepang. Makam Jepang ini hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari pusat kota.

Tugu Perabuan Jepang berbentuk segi empat pipih setinggi 2 m dan lebar 50 cm yang bertuliskan huruf kanji. Tugu ini dibangun pada 1933 yang membuktikan sebelum pendudukan Jepang, sudah ada orang-orang Jepang di Tarakan yang berdagang. Saat Perang Dunia II berkecamuk, tugu ini digunakan sebagai lokasi untuk membakar para jenazah tentara Jepang yang gugur dalam perang.

Banyaknya pejuang Jepang yang tewas ketika berperang di Tarakan membuat di tempat ini banyak dikunjungi warga Jepang. Setiap tahunnya, dipastikan selalu saja ada turis Jepang yang datang untuk berziarah dan melakukan upacara perabuan Tugu ini berada di Jalan Imam Bonjol, Gg.III, Pamusian, Kota Tarakan. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: