Membuat Paket Tour ke Baduy Harus Memahami Adat dan Tradisi Budayanya

Membuat Paket Tour ke Baduy Harus Memahami Adat dan Tradisi Budayanya
Sabtu, 30 November 2019
Oleh : Rohaendi
Baduy tak pernah bosan dan kehabisan dayatarik untuk dikunjungi. Padahal harus bermodalkan fisik sehat dan keberanian berjalan kaki yang cukup melelahkan untuk datang ke sana.
Selalu mendapatkan pengalaman yang berbeda setiap kali berkunjung ke sana. Namun harus dibarengi dengan pengetahuan budaya dan adat tradisinya, jika ingin mendapatkan pengalaman baru yang dimaksud.
Sejak ditetapkan sebagai kawasan wisata budaya tahun 2000-an oleh Pemerintah Kabupaten Lebak, tingkat kunjungan ke Baduy semakin  melonjak, walau catatan kunjungannya kurang rinci dan detil, karena belum tersistemkan dengan baik.
Karena itulah maka penjual paket kunjungan trip ke Baduy makin merebak di berbagai kota, oleh para awak tour travel dengan jualan paket minat khususnya.
Kejadian demi kejadian yang membuat kita prihatin secara manusiawi dan adat budaya, membuat penulis ingin mengingatkan semuanya melalui tulisan ini.
Cervis package tour the Baduy memang mudah dibuat,  menjadikan konsumen sebagai raja, dengan sejumlah teori cervice package yang didapat dari berbagai sumber.
Pelayanan paripurna dari para pembuat paket, diantaranya:
– Information
– Suporting Facilities
– Facilitating Goods
– Implicite cervice
– Explicite cervice
Tentu dibuat begitu lengkap, mudah dipahami, terjangkau dan pastinya menarik untuk dibeli oleh para traveler.
Namun siapa sangka jika kejadian tenggelamnya 5 orang siswa di sungai kering beberapa waktu lalu, terjadi padahal paket yang ditawarkan begitu lengkap, hingga pihak lembaga sekolah yang memberangkatkan siswanya tersebut, percaya penuh pada penjual paket.
Lupa, bahwa pembuat paket tidak memperhatikan waktu dan tempat larangan secara adat, saat paket itu direalisasikan.
Penulis menjadi berfikir, bahwa sudah saatnya para penjual paket ke daerah-daerah adat di manapun harus disertai manajemen risk yang benar, baik fisik risk maupun culture risk. Keduanya harus disertakan dalam paket tersebut. Konsumen pastinya mengabaikan pertanyaan atas hal tersebut. Mereka lebih tergiur tawaran angka pada paket yang ditawarkannya.
Sebagai pemerhati wisata, penulis sekali lagi mengingatkan bahwa pembuatan paket tour ke wilayah adat seperti Baduy, wajib memahami dan peduli akan aturan adat di kawasan bersangkutan. Di tiap kawasan adat dipastikan memiliki aturan adat yang kadang tidak masuk logika kekinian masyarakat kekinian, sehingga mengundang para  pembuat  paket mengabaikan hal tersebut.
Mari jadikan konsumen atau wisatawan kita sebagai raja, maka selayaknya raja kita dikasih tahu dan beri pemahaman tentang tatanan adat di destinasi tujuannya.
*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana STP Trisakti Jakarta

INDOLINEAR.TV