Meluruskan Lima Mitos tentang Depresi Yang Masih Banyak Dipercaya Orang

FOTO: suara.com/indolinear.com
Rabu, 22 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Banyak orang menganggap depresi terlihat dengan gejala yang jelas, seperti selalu tampak sedih atau menarik diri dari orang yang dicintai.

Meski benar kedua hal itu termasuk gejala depresi, sebenarnya gangguan mental ini dapat bermanifestasi dalam berbagai cara dan seringnya berhubungan dengan gangguan jiwa yang lainnya, terutama kecemasan.

“Seseorang dengan depresi mungkin tampak lebih mudah tersinggung atau cemas daripada sedih, bahkan jika mereka juga mengalami kesedihan secara internal,” jelas direktur Pusat Terapi Kognitif di University of Pennsylvania, Cory Newman, dilansir dari Suara.com (21/12/2021).

Tetapi gejala bukan satu-satunya kesalahpahaman seputar depresi. Ada beberapa mitos yang sampai saat ini banyak dipercaya mengenai depresi.

Berikut beberapa mitos tersebut.

  1. Mitos: Seseorang yang depresi sangat mudah diketahui

“Banyak penderita berangkat ke sekolah atau kantor dan tampak lebih mudah tersinggung atau cemas daripada sedih. Mungkin mereka juga mengalami kesulitan berkonsentrasi dan berbicara atau bergerak lambat,” ujar direktur pelatihan klinis di Departemen Psikologi Universitas DePaul, Jocelyn Smith Carter.

Menurutnya, kuncinya adalah mencari perubahan yang drastis pada orang lain. Misalnya, mereka menjadi lebih argumentatif, minum lebih banyak, atau mulai stress eating (makan berlebih ketika sedang stres).

  1. Mitos: Setiap orang terkadang mengalami depresi

Depresi yang sebenarnya merupakan diagnosis spesifik yang dialami sekitar satu dari enam orang dewasa dalam hidup mereka.

Kesedihan adalah emosi yang cenderung datang dan pergi, tetapi depresi klinis lebih konstan dan berlangsung lama, seringkali sebulan atau lebih.

“Depresi klinis terdiri dari sejumlah gejala yang Anda alami hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, setidaknya selama dua minggu,” kata Newman.

Tanda lainnya berupa perasaan tidak berharga atau merasa sangat bersalah, kehilangan minat pada aktivitas yang pernah disukai, atau berpikiran untuk bunuh diri.

Ada juga distimia, bentuk depresi persisten yang dapat diobati dan tidak terlalu ekstrem. Kondisi ini dapat ‘surut’ dan ‘mengalir’ dengan gejala mencakup keputusasaan, harga diri rendah, dan kelelahan.

Jadi, apabila Anda atau orang di sekitar merasa sangat sedih selama dua minggu atau lebih, dan/atau memiliki pikiran bunuh diri, sebaiknya bicarakan dengan psikolog atau psikiater.

  1. Mitos: Depresi hanya memengaruhi suasana hati

Suasana hati adalah bagian dari gambarannya. Tetapi depresi dapat menguras energi dan nafsu makan orang serta mengganggu tidur.

Kondisi ini juga terkait dengan sejumlah gejala fisik, seperti gatal-gatal, migrain, hingga masalah pernapasan, jantung, serta pencernaan.

“Keadaan mental dan emosional Anda dapat memicu reaksi fisik tertentu, dan sebaliknya. Tampaknya ada hubungan yang kuat antara peradangan, penyakit autoimun, dan depresi,” sambung Newman.

  1. Mitos: Anda hanya perlu mengatasi depresi

“Ini bukan tentang kemauan. Kondisi ini sebagian disebabkan oleh, dan juga menyebabkan, perubahan fisik pada tubuh dan otak,,” ujar Carter.

Ia melanjutkan bahwa depresi juga disebabkan oleh gangguan bahan kimia pengatur suasana hati, sehingga penderitanya tidak bisa sembuh segitu saja.

  1. Mitos: Depresi sangat sulit diobati

Depresi sebenarnya dapat diobati, sebab sudah banyak penelitiannya dalam hal bagaimana penderita merespons.

“Bagian yang sulit adalah mendapatkan perawatan yang tepat serta mengatasi kondisi seperti kecemasan, PTSD, dan penyalahgunaan zat yang sering menyertai depresi,” jelas Newman.

Dengan terapi dan pengobatan, sebanyak 70% penderita depresi berat menunjukkan perbaikan. (Uli)