Melihat Perkampungan Seribu Larangan, Warganya Dilarang Bangun Rumah Permanen

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 8 Juli 2021
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Indonesia memiliki seribu satu cerita unik yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Kampung Adat Kuta, Karang Paninggal, Tambak Sari yang terletak di Kabupaten Ciamis salah satunya.

Ada keunikan tersendiri yang tak banyak ditemui di daerah lain. Banyak larangan hingga aturan yang berasal dari para leluhur bagi warga setempat.

Rupanya, hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga kelestarian alam agar mampu terus berdampingan dengan kehidupan manusia. Seperti apa ceritanya? Intip ulasan selengkapnya berikut ini, dilansir dari Merdeka.com (07/07/2021).

Gunakan Alat Tradisional

Potret Kampung Adat Kuta pun terlihat menakjubkan. Di sekeliling rumah warga, tampak pohon hingga rumput hijau menghiasi perkampungan.

Tak seperti perkampungan lain, kampung adat yang satu ini memilih untuk tak menggunakan semen hingga aspal untuk jalan. Sehingga, hanya tanah dan batu lah yang digunakan warga sebagai jalanan.

Rumah hingga perabotan pun masih tradisional. Tungku batu hingga dahan kering masih terlihat jelas di rumah-rumah warga.

Jalan ini lah yang dipilih warga untuk hidup. Selalu menggunakan berbagai peralatan serta benda tradisional untuk beraktivitas sehari-hari.

Penuh Pantangan

Selain masih cukup tradisional, Kampung Adat Kuta ini juga dikenal luas sebagai daerah penuh pantangan. Ada banyak larangan yang dicetuskan dari para pendahulu.

“Yang terkenal dari kampung adat Kuta ini masih banyak nih pamali-pamalinya. Terus dikenal juga larangan-larangannya, terus adat istiadatnya, banyak sekali lah di sini,” ungkap sang presenter.

Dilarang Bangun Rumah Permanen

Salah satu bentuk larangan itu ialah mengenai rumah permanen. Warga setempat dilarang keras untuk membangun rumah menggunakan semen, batu, hingga genting.

“Kalau secara fisik, kita bisa lihat ke bentuk rumahnya. Di sini itu menurut ahlinya, orang-orang di sini itu dilarang untuk membuat rumah yang permanen,” sambungnya.

Kembali ke Alam

Bukan tanpa sebab, salah satu larangan tersebut dibuat dengan tujuan yang jelas. Para pendahulu menganjurkan, rumah dengan bahan alami seperti kayu dan daun akan mampu diolah kembali.

Sehingga, tak ada bahan serta lahan yang sia-sia jika rumah tersebut tak lagi digunakan sebagai tempat tinggal. Dengan cara ini, warga mampu mempertahankan alam serta menjaganya dari kerusakan akibat ulah manusia.

“Soalnya rumah yang permanen itu tidak bisa diolah lagi oleh alam, jadi tidak bisa kembali ke alam. Nah kita bisa lihat, bangunannya itu kan rumah panggung ya, bahan dasarnya kayu dan atapnya itu ijuk atau rumbia. Nah kalau rumah itu sudah tidak dipakai lagi, rumah itu bisa didaur ulang lagi sama alam,” terangnya.

Larangan Lainnya

Tak hanya satu larangan yang ada di Kampung Adat Kuta. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga lokal pun dilarang untuk membuat sumur galian dan diarahkan untuk mengambil air yang dialirkan melalui 4 sumber air yaitu Cibangbara, Ciasihan, Cinangka, dan Cipanyipuhan.

Kampung Kuta diketahui juga tidak tersedia tempat pemakaman umum atau kuburan untuk masyarakat setempat. Ketika terdapat warga yang meninggal dunia, maka akan dimakamkan di desa tetangga yang bernama Cibodas.

Selain itu, masih banyak pantangan lain yang terus dilestarikan oleh warga setempat. Di antaranya yakni seperti larangan memakai baju dinas, larangan memakai perhiasan emas, pantang memakai pakaian berwarna hitam, tidak boleh membuat kegaduhan, dan dilarang menggunakan alas kaki saat memasuki kawasan Hutan Larangan. (Uli)