Melihat Desa Pegayaman, Kampung Islam Tertua Di Bali

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 24 Desember 2021
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Bali selalu identik dengan pemandangan alam eksotis serta mayoritas penduduknya yang memeluk agama Hindu. Daerah yang dikenal dengan julukan ‘Pulau Seribu Pura’ ini ternyata menyimpan cerita lain.

Pulau Bali memiliki sebuah daerah yang menjadi tempat tinggal warga mayoritas muslim. Bahkan, daerah itu disebut merupakan kampung Islam tertua.

Sejarahnya tak lain berawal dari seorang raja setempat yang begitu sakti dan tak tertandingi, membawa Islam ke peradaban Pulau Bali. Berikut ulasan selengkapnya, dilansir dari Merdeka.com (23/12/2021).

Diawali Kisah Raja Buleleng I

Desa Pegayaman terletak di kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Melansir dari laman disbud.bulelengkab.go.id, Desa Pegayaman ini berdiri di lereng Bukit Gitgit.

Sebuah desa dengan 90 persen penduduknya beragama Islam ini tak lepas dari sejarahnya yang kental dengan Kerajaan Buleleng. Tokoh adat Desa Pegayaman Ketut Muhammad Suharto menerangkan, agama Islam di kawasan yang satu ini berhubungan langsung dengan jejak politik Raja Buleleng I, I Gusti Anglurah Panji Sakti.

Semasa tahun 1648, Raja Panji Sakti yang tak lain merupakan nenek moyang warga Desa Pegayaman berhasil menguasai kawasan Blambangan, Jawa Timur. Saat kembali dari tugasnya di Pulau Jawa, Panji Sakti lantas membawa 100 pasukan muslim.

“Dari cerita yang saya baca dan dengar dari para orangtua dulu bahwa Panji Sakti dulu itu diberikan isyarat untuk mencari orang Islam yang dijadikan tentara di Kerajaan Buleleng ini untuk mengimbangi politik pada zaman itu,” terang Suharto.

Diberi Hadiah Wilayah             

Panji Sakti bukan sembarang raja. Nenek moyang dari warga Buleleng itu merupakan sosok pemimpin luar biasa yang berhasil menundukkan lawan di medan perang.

Berkat kemenangannya dalam berbagai pertempuran, wilayah yang kini disebut Desa Pegayaman ini lah yang menjadi hadiah bagi sang raja. Untuk nama desa sendiri, terdapat beberapa sejarah yang mengungkap hal ini.

Salah satunya yakni berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berupa ‘Gayam’.

“Keberhasilannya dalam memimpin perang-perang pada peristiwa Batukaru, Badung, Gelgel itu menemani Panji Sakti dalam dinamika politik saat itu (maka) diberikanlah hadiah tempat di wilayah Gatep. Apa itu Gatep? Kalau bahasa Jawanya itu Gayam, jadi awalan Pe dan jadilah Pegayaman,” ungkap Suharto.

Terjadi Akulturasi

Kini, desa yang disebut berusia 400 tahun lebih tersebut telah mengalami adaptasi. Begitu pula dengan budaya yang dimiliki para warga setempat.

Termasuk dengan bahasa yang kini digunakan warganya. Meski sehari-hari menggunakan bahasa Bali, namun jejak jiwa kesatria para prajurit Kerajaan Buleleng yang berasal dari Pulau Jawa itu masih ada.

Hal ini terbukti dari adanya aksen atau intonasi yang sedikit berbeda dari warga Bali pada umumnya. Suharto menjelaskan, terdapat penekanan tertentu yang mencerminkan keunikan tersendiri dari warga Desa Pegayaman.

“Dari sisi bahasa, setiap saat (kita) berbahasa Bali[…] Bahasa (di) Pegayaman adalah bahasa Bali asli. Cuma dalam penempatan intonasinya yang berbeda, jadi ada juga kata-kata penambahan menunjukkan ketegasan karena di sini orang-orang kesatria kan dari Jawa,” sambungnya.

Tuai Kekaguman Publik

Sejarah hingga kondisi Desa Pegayaman saat ini pun mendapatkan apresiasi serta kekaguman publik. Tak sedikit yang lantas memberikan penghargaan atas toleransi beragama di Desa Pegayaman antara muslim dan kepercayaan lainnya di Pulau Dewata itu.

“Indahnya kebersamaan,” tulis iwan setiawan.

“Semoga tetap terjalin toleransi beragama,” tulis Nur Mai.

“Keberagaman dalam damai,” tulis Naya Apunk.

“Kebahagiaan dengan kebersamaan,” tulis Agus Yulianto. (Uli)