Melalui Lomba Cipta Menu B2SA, DKP3 Tangsel Latih Ibu-Ibu Usaha Lunch Box

FOTO: Eksklusif DKP3 Tangsel for indolinear.com

Indolinear.com, Tangsel – Kawasan Pertanian Terpadu yang dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) untuk kali pertama digunakan untuk kegiatan.

Meskipun belum 100 persen selesai pembangunannya, namun DKP3 akan terus memanfaatkan lokasi tersebut. Salah satunya dengan menggelar kegiatan Lomba Cipta Menu B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman) di  Kawasan Pertanian Terpadu, Serpong, Kota Tangsel, pada Kamis, 18 Juli 2019.

Menurut Kabid Keanekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan DKP3, Muhamad Faridzal, sebanyak 45 orang dari 15 kelompok menciptakan menu baru berbahan dasar non beras dan non terigu.  Setiap tahun biasanya peserta diminta membuat dan  menampilkan menu dalam satu hari, seperti menu sarapan, siang dan menu malam.

“Berbeda dari sebelumnya, kali ini peserta diminta membuat menu lunch box, agar bisa mengangkat perekonomian di dalam rumah tangga. Sehingga bisa menciptakan dan menjadikan ibu-ibu memiliki inovasi dan lebih kreatif lagi. Sehingga bisa menciptakan produk yang memiliki nilai jual,” jelas.

Pihaknya ingin menggali potensi ibu-ibu PKK dan KWT agar bisa memenuhi standar, yakni jenis gizi yang diperoleh menjadi salah satu syarat dalam lomba yang akan dinilai oleh juri. Penilaianya akan dihitung berdasarkan penampilan yang menarik, kadar kalori, protein, dan lainnya.

Menurut Kepala DKP3 Tangsel Nur Slamet, lomba ini digelar untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. Dimana peserta berlomba menciptakan menu se kreatif mungkin yang bisa diaplikasi dalam rumah tangga dan bisa dijual.

“Peserta diminta untuk menyiapkan menu lunch box berbahan dasar jagung, ubi, singkong atau kentang. Hal ini untuk meningkatkan keragaman konsumsi dengan berprinsip pada non beras dan non terigu agar bisa menghilangkan ketergantungan beras,” ungkapnya.

Melalui lomba ini diharapkan dapat menumbuhkan kreatifitas dan inovasi dalam membuat olahan pangan yang menarik, citarasa tinggi, dan bernilai gizi, tetapi nilai komersialnya juga menjadi perhatian, sehingga ada nilai ekonomi yang diperoleh. Hal ini sangat beralasan, agar pemanfaatan pangan lokal dapat terus berkelanjutan.(ADV)