Megawati Menerima Penghargaan Sebagai Tokoh Pelopor Penguatan Dan Modernisasi

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 26 November 2019

Indolinear.com, Jakarta – Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menerima anugerah kehormatan ‘Tokoh Pelopor Penguatan dan Modernisasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’.

Anugerah tersebut diserahkan langsung Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam upacara di kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019) sore.

Dalam acara tersebut, hadir sejumlah petinggi negara.

Di antaranya adalah Ketua DPR Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menko PMK Muhadjir Effendy, Menteri Riset Bambang Soemantri Brodjonegoro, Mentero Sosial Juliari Batubara, dan Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly.

Dalam sambutannya, Dwikorita mengatakan, BMKG saat ini akan segera mampu memberi peringatan dini tsunami paling lama 2 menit atau 120 detik setelah gempa terjadi.

Namun, pada 2004 lalu saat bencana tsunami di Aceh dan Nias terjadi, kemampuan BMKG adalah dua jam alias 7200 detik.

“Sebelumnya kemampuan kami di 2004 itu, kemampuan kami adalah dua jam. Saat itu tsunami Aceh,” kata Dwikorita, dilansir dari Tribunnews.com (25/11/2019).

Semua lompatan kemampuan itu tak mungkin terjadi bila bukan karena peran Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden kelima RI.

Dwikorita lalu berkisah soal Indonesia menghadapi banjir yang menewaskan 22 orang di Jakarta pada 2002 lalu.

Saat itu, kenang Dwikorita, curahan hujan sangat tinggi.

Sementara kapasitas BMKG yang masih berada di bawah Departemen Perhubungan, sangat terbatas.

Sehingga untuk memberikan prediksi serta peringatan dini kepada masyarakat juga tak mampu.

Ia menyebut, Megawati mampu melihat ke depan melalui pengamatan atas fenomena perubahan iklim akibat kerusakan lingkungan sekaligus aktivitas kegempaaan.

Yakni, bisa memprediksi bencana dan memberi peringatan dini yang akurat kepada masyarakat.

“Di sinilah Ibu Megawati menunjukkan betapa nilai-nilai kemanusiaan bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi pertimbangan utama dalam membuat keputusan,” ucap Dwikorita.

Megawati lantas membuat Keputusan Presiden nomor 46 dan nomor 48 tahun 2002.

BMKG lalu diubah menjadi lembaga pemerintahan nondepartemen yang artinya langsung di bawah presiden.

“Keputusan Ibu Megawati mengeluarkan keppres ini jadi tonggak penting BMKG menjadi seperti saat ini. Peran BMKG jadi lebih berdaya mendukung pembangunan nasional dengan layanan informasi,” jelasnya.

Saat ini, BMKG memasuki modernisasi tahap II seperti dirancang sejak awal oleh Pemerintahan era Megawati itu.

Tujuannya demi meningkatkan kehandalan layanan meteorologi dan geofisika untuk masyarakat.

Dengan pemberian anugerah ini, kata Dwikorita, pihaknya ingin menyebarluaskan magnet citra kepeloporan berlandaskan nilai kemanusiaan yang dipancarkan oleh Megawati.

“Semoga aura kepeloporan dan spirit yang Ibu Megawati pancarkan dapat menginspirasi dan memotivasi kita semua,” katanya.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) Bagus Paruhito dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Donny Moenardo juga menyampaikan pernyataannya di acara itu.

Keduanya sama-sama menekankan arti penting perhatian Megawati yang sejak awal ingin membawa Indonesia mampu menghadapi berbagai ancaman bencana yang ada.

Sebab, Indonesia memang berada di area cincin api Pasifik (Pacific Ring of Fire) yang membuat seluruh wilayah Indonesia memang rawan bencana gempa alam, tsunami, dan banjir.

“Semoga kita semakin maju dan handal dalam memperkuat kemampuan nasional dalam menghadapi kebencanaan,” kata Donny Moenardo.

Sementara itu, Megawati didampingi sejumlah pengurus PDI Perjuangan antara lain Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Tri Rismaharini dan Ribka Tjiptaning. (Uli)

INDOLINEAR.TV