Mayor Ahmad Bin Muhammad Assegaf, Lahir Di Saudi Hingga Tinggal Di Indonesia

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Sabtu, 16 Juli 2022

Indolinear.com, Jakarta – Sosok Mayor Infanteri Sayyid Ahmad Assegaf mencuri perhatian. Dia merupakan adik asuh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman.

Saat ini Mayor Ahmad mengemban tugas sebagai Wakil Komandan Batalyon Infanteri 753 (Wadanyon) 753/Arga Vira Tama atau Yonif 756/AVT.

Sudah sekira 16 tahun ia mengabdi di militer. Dalam perbincangannya bersama Habib Husein bin Hasyim bin Toha Baagil, Mayor Ahmad menceritakan masa kecilnya.

Berikut kisah selengkapnya, dikutip dari Merdeka.com (14/07/2022).

Adik Asuh Kasad Dudung Lahir di Arab Saudi

Mayor Inf Sayyid Ahmad Assegaf merupakan putra dari Muhammad bin Hamid Assegaf asal Pekalongan, Jawa Tengah.

Usai menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Pekalongan, ayahnya menerima beasiswa untuk melanjutkan gelar insinyur di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

“Pada saat beliau (ayah) SMA, beliau mendapatkan beasiswa kemudian beliau berangkat ke Riyadh untuk mengambil insinyur,” kata Ahmad.

Di Kota Riyadh sang ayah menemukan tambatan hatinya dan menikah. Sampai akhirnya dikaruniai seorang putra, yakni Ahmad yang lahir di Jeddah.

“Beliau ketemu sama ummi ana, dan Alhamdulillah saya dilahirkan di Jeddah kebetulan bib pada tanggal 29 Juli tahun 1987,” sambungnya. [kur]

Berpindah Negara Sejak Belia

Setelah menyelesaikan studi gelar insinyur, sang ayah bekerja di perminyakan. Alhasil keluarganya kerap dikirim tugas, bahkan sampai ke luar negeri.

“Kebetulan karena abah ini berpindah kerja, dulu pada saat itu perminyakan kan pindah-pindah bib. Dulu sempat pindah dari Saudi, terus ke Singapur, terakhir ke Jakarta bib,” terang Ahmad.

Pria berdarah Pekalongan tersebut akhirnya menetap di Jakarta sampai lulus SMA.

“Jadi ana umur sekitar 7 tahun kelas 1 SD sudah menetap di Jakarta,” imbuhnya.

Tak Bisa Berbahasa Indonesia

Karena sejak lahir dan tinggal di Arab, Ahmad lebih terbiasa menggunakan bahasa di sana. Dibandingkan bahasa Indonesia seperti ayahnya.

“Di Jakarta ini kebetulan saat itu saya tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali. Karena saya komunikasi sama ummi kan bahasa Arab terus,” ungkap Ahmad tertawa kecil.

Semenjak di Jakarta, barulah Ahmad memperdalam ilmu bahasa Indonesianya tersebut.

“Akhirnya dimasukkan ke SD An-Nuriyah di Kebonanas. Kita tinggal di Cipinang Jakarta Timur. Di situ kami belajar bahasa Indonesia,” tambahnya.

Dapat Kode dari Ayah Agar Jadi Tentara

Rupanya ayah dari Habib Ahmad sempat memiliki cita-cita menjadi seorang tentara. Tapi harapannya itu pupus.

Lantaran pihak keluarga tak mengizinkan mendaftar TNI, anak laki satu-satunya di rumah kala itu.

“Kebetulan keluarga kami ini tak ada yang militer bib. Sama sekali tidak ada. Cuma saya punya abah ini kebetulan beliau dulu pernah daftar TNI saat muda. Abah memang dari dulu sangat cinta TNI bib, ingin masuk. Tapi anak enggak pernah dikasih tahu,” papar Ahmad.

Seakan sebuah kode yang disampaikan sang ayah. Ahmad diberi brosur mengenai pendaftaran Akmil Magelang, Jawa Tengah.

“Tapi pada saat itu, tiba-tiba abah pulang dari kantor membawa brosur Akmil bib, ngasih ke saya, terus saya lihat, apa ini bah?,” imbuhnya. (Uli)