May Day Pertama, Puluhan Ribu Buruh Unjuk Rasa Di Chicago

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 4 Mei 2020

Indolinear.com, Chicago – Lebih dari 300.000 pekerja dari 13.000 perusahaan meninggalkan pekerjaannya di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886.

Hari berikutnya lebih banyak pekerja yang bergabung menuntut kebijakan durasi kerja delapan jam sehari.

Mereka berunjuk rasa di Chicago dan melibatkan lebih dari 100.000 orang.

Meski unjuk rasa awalnya berjalan damai, tetapi semua berubah ketika polisi Chicago dan para pekerja bentrok pada 4 Mei di Haymarket Square.

Tidak hanya pekerja yang terbunuh dan terluka, tetapi juga polisi karena ada tragedi pelemparan bom.

Peristiwa 4 Mei ini kemudian dikenal sebagai Kerusuhan Haymarket atau Haymarket Riot, dilansir dari Tribunnews.com (02/05/2020).

Perayaan May Day Zaman Kuno.

Perayaan 1 Mei atau May Day, meski bukan sebagi Hari Buruh, sudah berlangsung lama dan memiliki akar sejarah panjang.

Ada banyak festival yang digelar untuk merayakan hari 1 Mei ini.

Bangsa Celtic di Brritania percaya bahwa 1 Mei adalah hari terpenting dalam setahun dan menggelar festival Beltane.

Ada ritual api simbolis dalam festival ini untuk merayakan kembalinya kehidupan dan kesuburan di dunia.

Ketika bangsa Roma menguasai Britania, mereka membawa perayaan lima hari yang dikenal sebagai Floralia.

Perayaan yang berlangsung 20 April – 2 Mei ini digunakan untuk memuja Dewi Bunga bernama Flora.

Selain itu ada juga tradisi Tarian Maypole untuk merayakan 1 Mei.

Orang-orang akan menari mengelilingi tiang yang ditegakkan, menyimbolkan kesuburan.[2]

Kondisi para pekerja abad ke-19

Pada akhir abad ke-19, kelas pekerja berjuang mendapatkan 8 jam kerja sehari.

Saat itu, kondisi pekerja sangat buruk dan seringkali mereka harus bekerja 10-16 jam sehari.

Kematian dan kecelakaan saat itu sangat wajar di berbagai tempat.

Sosialisme kemudian menjadi ide baru yang menarik bagi para pekerja.

Banyak organisasi sosialis muncul pada paruh kedua abad ke-19.

Kerusuhan Haymarket

Untuk mengakhiri kondisi yang menyedihkan ini, Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) menggelar sebuah konvensi di Chicago pada 1884.

Mereka menyatakan bahwa durasi kerja para buruh adalah delapan jam per hari mulai 1 Mei 1886.

Setahun kemudian, organisasi buruh terbesar di Amerika bernama Knights of Labour mendukung hal ini.

Kedua organisasi ini juga mendorong para pekerja berdemonstrasi dan melakukan pemogokan.

Pada 1 Mei 1886, lebih dari 300.000 pekerja dari 13.000 perusahaan meninggalkan pekerjaan mereka di Amerika Serikat.

Besoknya, lebih banyak pekerja yang bergabung dan jumlah yang berunjuk rasa di Chicago mencapai 100.000 orang.

Pada awalnya, protes ini berjalan damai, tetapi pada hari menjadi ricuh setelah ada bentrok dengan polisi Chicago.

Beberapa pekerja terbunuh dan terlukan dalam peristiwa ini.

Pada 4 Mei, para pekerja kembali berunjuk rasa di Haymarket Square, memprotes tindakan polisi ini.

Seorang yang tidak pernah teridentifikasi kemudian melempar bom ke polisi dan menewaskan tujuh polisi dan delapan warga sipil.

Delapan orang yang dilabeli sebagai anarkis dituduh bertanggung jawab atas kejadian ini.

Awalnya, tujuh orang akan dihukum mati dan satu orang dipenjara selama 15 tahun.

Namun, empat orang kemudian digantung, satu orang bunuh diri, dan tiga sisanya dimaafkan enam tahun kemudian.

Pada 1889, Konferensi Sosialis Internasional menyatakan bahwa untuk memperingati Peristiwa Haymarket, 1 Mei akan menjadi hari libur internasional untuk para buruh.

Saat ini, 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional.

Namun, di Amerika, perayaan 1 Mei dilakukan secara berbeda pada masa Perang Dingin.

Presiden Eisenhower mengeluarkan resolusi bernama May 1 “Loyalty Day”.

Hal ini untuk menjauhkan kenangan tentang Kerusuhan Haymarket.

Resolusi menyatakan bahwa 1 Mei adalah sebuah hari spesial untuk menegaskan kembali kesetiaan kepada negara dan pengakuan terhadap warisan kebebasan di Amerika. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

INDOLINEAR.TV